Pendidikan di Persimpangan Jalan
هذَا بَلَاغٌ لِّلنَّاسِ وَلِيُنذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
(alQur’an) Ini adalah penjelasan (yang sempurna) bagi manusia, agar mereka diberi peringatan dengannya, agar mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Ilah Yang Esa dan agar ulu-l’albab (orang yang berakal) mengambil pelajaran. (Qs.14/52)
Peradaban Islam adalah peradaban ilmu yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dari pembangunan diri pribadi, orang seorang dan masyarakatnya, karena pendidikan adalah sebuah proses pengolahan sikap mental dan perillaku seseorang atau kelompok manusia dalam ikhtiyar dan usaha yang berkesinambungan untuk mendewasakan dirinya melalui aktivitas pengajaran, pelatihan, pemahaman dan penelitian yang biasa disebut mencari ilmu.
Dan Islam menjadikan aktivitas mencari ilmu ini sebagai suatu ‘ibadah yang wajib bagi setiap individu dengan niat pengabdian dalam mencari keridlaan Allah, bukan kerelaan manusia.
Pendidikan adalah bagian integral dari peradaban, karena peradaban itu sendiri adalah sarat dengan pendidikan. Nilai ideal pendidikan Islam bersifat transenden dan integral, utuh dan menyeluruh meliputi segenap aspek kehidupan manusia lahir maupun bathin, dunia dan akhirat, artinya tidak memilahkan alam fisik dengan alam metafisik. Namun, nilai ideal pendidikan Islam yang bersifat transenden dan integral (di segenap aspek kehidupan manusia) itu kini tersingkir dan diremehkan akibat beberapa faktor, eksternal maupun internal yang dialami oleh qawm muslimiyn, seperti yang sering kita lihat (tidak dalam teori tetapi dalam praktek dan realitas hidupnya). Ialah, adanya faktor eksternal – pengaruh penetrasi peradaban asing (Barat) yang sangat dominan; dan faktor internal, sikapnya yang membelakangi atau tidak acuh terhadap alQur’an (Qs.25/30) yang dilakukan oleh sebagian muslimin secara berjamaah yang menjadi sebab utama bertambahnya jumlah firqah (sempalan) dengan bertambah suburnya perpecahan di kalangan mereka yang sulit diishlahkan dan inilah salah satu sebab utama kemunduran dan keterbelakangan qawm muslimiyn berlarut-larut sejak runtuhnya kejayaan mereka dulu sepeninggal Nabi Muhammad saw.
Sedangkan peradaban Barat yang sekular-liberal (laa diyniyyah) berhasil menyebarkan world view-nya lewat ilmu pengetahuan, baik sains maupun humaniora ke hampir seluruh wilayah dunia, dan terjadilah apa yang disebut kebangkitan sains Barat menggantikan agama mereka dari peradaban. Kebangkitan sains di Barat juga telah menggantikan spiritual dan jiwa manusia dengan ratio atau akal dan pikirannya. Tubuh manusia dianggap tidak lebih dari sebuah robot yang diatur dan bekerja dengan prinsip-prinsip hukum matematika dan tidak mengenal sunnatuLlah, kecuali ‘hukum alam’ yang tidak jelas siapa penciptanya.
Sedang Islam sebagai satu ajaran menjamin hubungan metafisik antara manusia dan Penciptanya, tetapi juga dengan desakan yang hampir tidak kurang kuatnya hubungan duniawi antara individu dan lingkungan masyarakatnya :
ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ
Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. (Qs.3/112).
Kehidupan duniawi ini bukan sebagai kulit kerang kosong, atau bayangan tak bermakna di hari akhir nanti, tetapi sebagai satu keseluruhan positif yang terpadu di mana manusia akan diminta mempertanggung-jawabkan seluruh amal perbuatannya dahulu di dunia. Islamlah yang menegaskan, bahwa manusia dapat mencapai ‘kesempurnaan’ dalam kehidupan duniawi (individual)nya dengan membuat kegunaan penuh dari segala kemungkinan selagi masih menjalani hidupnya di muka bumi. Yakni, kesempurnaan terbatas, sebatas keterbatasan manusia berikhtiyar mencapai seoptimal mungkin kesempurnaan hidupnya. Karena itu, Islam yang bukan agama penindasan, memberikan kepada manusia suatu wilayah yang sangat luas dalam kehidupan orang seorang dan masyarakatnya hingga sifat yg beragam dari tabiat dan kecenderungan psychologisnya akan mendapatkan jalannya kearah perkembangan positif sesuai dengan pembawaan individualnya masing-masing meski saling berbeda di antara mereka.
Islam mengajarkan tentang kesadaran individual manusia dan alam yang melingkungi dirinya, tidaklah lain dari manifestasi-manifestasi yang setara, kalau pun berbeda, dari kehendak kreatif Yang Esa.
Maka manfaat besar yang diberikan agama seperti ini atas manusia adalah penyadaran bahwa, ia selalu dan tidak pernah dapat terlepas dari satu kesatuan yang terencana baik dari gerak abadi sang Pencipta : satu bagian tertentu dalam organisme yang tidak terbatas dari bagan rencana universal. Konsekuensi psychologis dari konsepsi ini ialah suatu perasaan yang dalam dari kepastian spiritual yang berimbang antara harap dan cemas, yang membedakan manusia religius yang positif, apa pun agamanya dari manusia yang tidak religius.
Problematika dunia Barat bukan sekedar problem intelektual, melainkan lebih pada krisis spiritual dan emosional atau lebih tepatnya krisis eksistensial.
Begitulah kemudian masyarakat Barat yag kelewat rasional terperangkap ke dalam ide spiritualitas dengan mengadopsi budaya mistis Timur seperti Tao, Budhisme, Zen, Yoga dan berbagai macam meditasi lainnya.
Dan lagian sikap ingkar dan melanggar Hukum Allah karena merasa adidaya & kuasa, selalu merasa dirinya paling unggul di segala bidang dan merasa punya segala (Qs.96/6,7) :
كَلَّا إِنَّ الْإِنسَانَ لَيَطْغَىٰ – أَن رَّآهُ اسْتَغْنَى
Ketahuilah ! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ
Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. (Qs.16/107).
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ
Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai. (Qs.30/7).
قُل لَّا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Katakanlah: Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertaqwalah kepada Allah, hai orang-orang yang berakal, agar kalian mendapat keberuntungan. (Qs.5/100).
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya ? (Qs.3/71).
Itulah ciri-ciri khas keunggulan Barat, hal itu semua terjadi karena peradaban Barat bertumpu pada kegilaan terhadap kehidupan duniawi, dan merasa tahu segalanya, padahal sebenarnya mereka hanya mengetahui yang zhahir saja dari kehidupan dunia dan melalaikan kehidupan sesudahnya sehingga tidak mampu memilah mana yang baik (thayyib) dan mana yang busuk (khabiyts); bahkan mereka dengan sadar mencampuradukkan kebenaran dengan kebathilan dan menyembunyikan yang haq (kebenaran) itu sedang mereka mengetahui.
Begitulah ketika spiritualitas bermunculan tampil merebak ke segala tempat dalam bentuk peragaan meditasi di dunia Barat. Pemandangan tersebut diatas merupakan fenomena yang membuktikan bahwa Barat memang memiliki kerancuan dalam mengkonsepsikan spiritualitas dan agama disebabkan pemikiran mereka yang dualistik sejak mulanya, memisahkan antara dunia material dan spiritual, singkatnya memilahkan dan atau memisahkan dunia dengan akhiratnya.
Dan Islamlah satunya agama yang mengajarkan kepada kita bahwa hidup seluruhnya satu dalam hakikatnya karena berasal dari Ilah Yang Esa. Namun Islam pun menunjukkan kepada kita jalan praktis betapa setiap orang dapat berkembang dalam batas kehidupan individualnya, kehidupan duniawi, kesatuan fikiran dan tindakan, baik dalam wujud maupun dalam kesadarannya. Dan untuk mencapai tujuan hidup yang tertinggi itu dalam Islam, manusia tidak dipaksa menyangkali dunia, tidak ada kekerasan dituntut untuk membuka pintu rahasia menuju pemurnian spiritual, tidak ada tekanan atas fikiran untuk percaya pada dogma-dogma yang tidak dapat dimengerti untuk menjamin penyelamatan. Hal-hal semacam itu samasekali asing bagi Islam, karena Islam bukanlah doktrin mistik dan bukan pula filsafat. Islam adalah program hidup sesuai dengan hukum-hukum alam (sunnatiLlah) yang telah ditetapkan Allah atas penciptaan-Nya secara permanent dan tidak berubah atau menyimpang.
اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ فَهَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا
Karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Rencana yang jahat itu tiada akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) ketentuan (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat perubahan bagi sunnatuLlah, dan tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnatuLlah itu. (Qs.35/43).
Dan hasil pencapaiannya yang paling tinggi ialah, koordinasi yang sempurna atas aspek spiritual dan material kehidupan insani. Dan dalam ajaran Islam, kedua aspek ini ‘dipertemukan’ dalam pengertian tidak meninggalkan konflik antara keduanya – terpadu dan bekerjasama sebagai basis hidup yang alami (sesuai dengan fithrahnya).
Sebagian besar ahli psikologi Barat memandang spiritualitas bersifat personal dan berada pada ranah psikologis, sedangkan agama bersifat institusional dan pada ranah sosiologis. Sebagian mereka menyatakan bahwa agama diasosiasikan dengan konservatif (conservatism) dan spiritualitas dikaitkan dengan sikap keterbukaan untuk berubah. Konsekuensinya, spiritualitas bisa dicapai dengan atau tanpa melalui agama. Begitu pintarnya mereka berdalih dengan seenaknya mensifati dan mengotak-atik beragam istilah sesuai dengan kemauan nafsunya untuk menetralisir (mengusir) kedudukan spiritualitas dan agama keluar dari acuan wahyu Ilahy.
Dalam konsep spiritual Barat, spiritualitas dapat dibangun melalui banyak cara, melalui agama, pemikiran, doa, meditasi atau ritual sekehendak selera manusianya. Inilah kerancuan dan kegamangan yang unggul dari pola pemikiran secular yang tidak mengenal doktrin wahyu karena memang mengingkarinya, sehingga apa yang mereka sebut spiritualitas itu tidak lebih dari bagian pemikiran tradisional jahiliyyah sebagaimana yang diiformasikan oleh alQur’an : Qs.2/170,174,175,176.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا
أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka: Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah, mereka menjawab: (Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk ?
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ الْكِتَابِ وَيَشْتَرُونَ بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا أُولَٰئِكَ مَا يَأْكُلُونَ فِي بُطُونِهِمْ إِلَّا النَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الضَّلَالَةَ بِالْهُدَىٰ وَالْعَذَابَ بِالْمَغْفِرَةِ فَمَا أَصْبَرَهُمْ عَلَى النَّارِ
Mereka itulah orang-orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan. Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka !
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ نَزَّلَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِي الْكِتَابِ لَفِي شِقَاقٍ بَعِيدٍ
Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan alKitab dengan membawa kebenaran. Dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) alKitab itu, benar-benar dalam penyimpangan yang jauh (dari kebenaran).
Kemudian doctrin jahiliyyah ini dikemas ke dalam beragam paket ajaran modernisasi agar tampak ilmiah dan dijual di pasaran global dengan harga bervariasi atau dibagi-bagikan dengan percuma bagi siapa yang mau menerima dan mempublikasikannya (sesuai dengan pesan sponsor) untuk merusak kemurnian diynu-l’islam (agama Islam) yang diturunkan lewat wahyu alQur’an.
Itulah konsepsi Barat tentang spritualitas yang problematis telah melatar-belakangi munculnya model pendidikan dan pelatihan spiritual yang mengkombinasikan (mencampuraduk) berbagai macam ajaran mistik, sains, dan psikologi dalam program membangun kecerdasan spiritual manusia. Konsep ini sendiri lahir dari kebingungan Barat sehingga bermacam usaha dan upaya untuk meningkatkan kecerdasan spiritual ala Barat yang pada umumnya tidak mengajarkan manusia menjadi makhluq cerdas yang mengakui kebesaran Rabb-nya, apalagi tunduk pada syari’at yang diturunkan-Nya, kecuali barangkali hanya sesambat kepada Tuhannya sekedar pelepas kelelahan jiwanya yang tertindas oleh aktivitas lelahanan dan dolanan yang melelahkan hari-hari hidupnya yang bergelimang ke dalam lumpur kesiasian yang tidak mereka sadari.
Berbanding dengan spiritualitas dalam pandangan Islam, kita menyaksikan dan mengalami sendiri, hikmah dari bentuk shalat yang khas dalam Islam, yaitu konsentrasi spiritual dan gerakan jasmani tertentu saling berkoordinasi. Islam bukan agama formalisme (lahiriyah) karena shalat dalam Islam terdiri dari konsentrasi mental dan gerakan jasadi. Kehidupan insani sendiri adalah paduan dari kedua-duanya, agar manusia senantiasa dalam keadaan berdzikir dan mendekat kepada Rabb-nya melalui keseluruhan dari segala kerunia yang telah dianugerahkan Allah Yang mahahaliym kepadanya agar manusia mensyukurinya.
Begitulah adanya perintah khusyu’ dalam melaksanakan ‘ibadah shalat membuktikan tiadanya formalisme melulu dalam beribadah yang diperintahkan oleh ajaran Islam. Dengan demikian, apabila tujuan hidup kita adalah pengabdian kepada Allah maka perlulah kita memandang hidup ini secara utuh di segenap aspeknya sebagai satu tanggung-jawab moral yang kompleks. Maka seluruh tindakan kita, bahkan yang nampaknya kecilan, haruslah dilakukan atasnama tindakan pengabdian, yakni dilakukan dengan sadar sebagai bagian dari rencana universal – Rabb semesta alam.
Dan Islamlah yang pertama-tama mengajarkan kepada kita, bahwa pengabdian permanen kepada Allah dalam segala tindakan yang beraneka ragam dari kehidupan manusia adalah tujuan dan maksud sebenarnya dari hidup ini :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (51:56)
Dan tidak Aku ciptakan jinn dan manusia itu melainkan untuk ber’ibadah kepada-Ku (Qs.51/ 56).
Dan kedua, maksud dan tujuan ini tidak akan tercapai jikalau kita membagi dan memilah hidup kita ke dalam dua bagian, spiritual dan material yang tidak saling mengenal. Keduanya harus terpadu dalam kesadaran dan tindakan kita – suatu keterpaduan yang harmonis.
Pengertian kita tentang keesaan Ilah harus direfleksikan dalam perjuangan kita ke arah koordinasi dan penyeragaman dari berbagai aspek kehidupan kita tanpa kecuali. Suatu konsekuensi logis dari sikap inilah yang membedakan antara Islam dengan semua agama, sebagaimana ditegaskan oleh alQur’an :
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (9:33 )
Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (alQur’an) dan diynu-lhaqq (agama yang benar) agar dimenangkan-Nya atas segala agama, meski orang-orang musyrik membenci(nya) – Qs.9/33).
Basis dari ‘liberalisme’ atau kebebasan dalam Islam terdapat dalam konsepsi bahwa, alam insani asli pada hakikatnya baik, berlawanan dengan idea Keristen yang menganggap manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa (dosa turunan); atau ajaran Hindu yang menganggap manusia asalnya rendah dan tidak suci dan terpaksa dengan pahitnya melalui rantai transmigrasi yang panjang menuju tujuan akhir kesempurnaan. Sebaliknya, ajaran Islam menegaskan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan bersih secara potensial dan kemudian tergantung proses hidup selanjutnya di tengah lingkungan keluarga dan di tengah lingkungan masyarakatnya yang bakal ‘mencetak jati-dirinya dan jenis warna hidupnya’ kelak kemudian hari sepanjang hayatnya.
Sesungguhnya, manusia (yang semula) diciptakan Allah ke dalam struktur yang sebaik-baiknya ~ laqad khalaqna-l’insana fiy ahsani taqwiym (Qs.95/4); kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (perwujudan manusia yang tidak seutuhnya) ~ tsumma radadnahu asfala safiliyn (Qs.95/5).
Kecuali mereka yang beriman dan beramal shaliyh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya ~ illa-lladziyna amanu wa’amilu-lshalihati, falahum ajrunn ghayru mamnunn (Qs.95/6).
Dalam pandangan Islam, spiritualitas tidak bisa dipisahkan dari ALlah dan diyn-Nya, dan hanya dapat diperoleh melalui Syari’at yang bersumber dari wahyu alQur’an & Sunnah Nabi-Nya.
Dan Sunnah ini adalah ajaran Islam yang diterapkan ke dalam praktek kehidupan yawmiyyah Nabi saw, sebuah system keteladanan unggul – uswah hasanah Nabi Muhammad saw yang diperintahkan Allah untuk diikuti dan diteladani (Qs.33/21).
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari-akhir (qiyamat) dan dia banyak berdzikir (mengingat/menyebut) Allah.
Dan itulah sebuah struktur ajaran moral dan program kehidupan praktis terpadu yang tidak bisa dipisahkan, adalah pendidikan dan pengajaran moral yang paling baik dan berhasil diwujudkan realisasinya dalam kehidupan manusia yang pernah disaksikan dunia.
إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُمْ
Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. (Qs.47/25 ).
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (Qs.4/115 ).
Dan sikap konfrontatif seperti ini akan membuat pengikutnya jauh menyimpang dari kebenaran Islam dan para pelakunya tidak akan memperoleh kedamaian hakiki di dunia maupun akhirat kecuali angan-angan (ilusi)yang tidak genah juntrungnya (mudzabdzabiyna bayna dzalik) – terombang-ambing antara iman dan kafir, ciri khas orang-orang munafiq (Qs.4/143).
مُّذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَٰلِكَ لَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَلَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا
Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya.
Konsep kecerdasan spiritual dalam Islam juga sangat jauh berbeda dengan Barat karena SQ di Barat hanya berhenti pada kesadaran bahwa, manusia merupakan bagian dari sesuatu yang besar yaitu alam semesta. Sedangkan Islam menganggap alam semesta hanyalah makhluq Allah, sebagaimana manusia, yang tunduk kepada SunnatuLlah serta perintah dan larangan-Nya.
Oleh karena itu tujuan pendidikan spiritual dalam Islam harus mampu membentuk individu-individu muslim yang shaliyh dan shalihah dan paham hakikat eksistensinya di dunia ini serta tidak mengingkari hari akhir – kemana dirinya nanti bakal kembali menghadap Allah, Dzat Yang menghidupkan dan mematikan, kemudian menghidupkannya kembali makhluq ciptaan-Nya ini untuk menjalani hisab perhitungan ‘amal perbuatan dan ‘ibadahnya selama doeloe hidup di bumi.
Pendidikan Islam, sesuai dengan petunjuk wahyu adalah meliputi seluruh aspek kehidupan insani, kehidupan dan penghidupan manusia – dunia & akhirat. Dan liputannya tidak melulu spiritualistis dan tidak pula terlalu intelektualistis atau pragmatis dan praktis, tetapi senantiasa seimbang, berkeseimbangan antara unsur-unsur yang positif itu dan tidak berlebih-lebihan.
Pendidikan dalam Islam berkaitan dengan ilmu, dan ilmu dalam Islam berdimensi iman dan amal.
Oleh sebab itu pendidikan Islam mewajibkan pemahaman yang benar tentang dua hal : pertama posisi iman, ilmu dan amal tersebut dalam jiwa manusia; kedua, bagaimana menanamkan semua itu ke dalam diri manusia agar tumbuh berkembang dengan subur dan mampu memandu dan membimbing hidupnya selamat fiy-ldunya wa-l’akhirat dengan predikat husnu-lkhaatimah.
Imam al-Ghazaly mengatakan, bahwa pendidikan harus diarahkan kepada realisasi tujuan diynu-lhaqq (agama yang benar) dan akhlaqu-lkariymah (akhlaq yang mulia) dengan titik penekanannya pada perolehan keutamaan – taqarrub (pendekatan) kepada Allah, dan bukan untuk mencari kedudukan yang tinggi semata atau mendapatkan kemegahan dunia, apalagi hanya mengejar kerelaan manusia belaka.
Sistem apa yang sesuai dan tidak saling bertentangan untuk pengembangan anak-anak manusia dalam berbagai aspek lahir dan kejiwaannya dalam sebuah sistim pendidikan yang terpadu dan utuh, perlu dipikirkan secara serius dan berkesinambungan dengan seksama dan sebaik-baiknya dari sumber pendidikan yang benar, apa yang dipesankan oleh Nabi saw : addabaniy Rabbiy fa-ahsana ta’diybiy inna hadza-lQur’an ma’dubatuLlah fiy-l’ardli fata’allamu min ma’dubatih ~ telah mendidik Rabb-ku kepadaku, maka sebaik-baik (system) pendidikan kepadaku, sesungguhnya alQur’an ini adalah hidangan Allah di muka bumi, maka pelajarilah hidangan-Nya. (Hadiyts r.Ibn Mas’ud).
Dan sekarang tibalah saatnya melihat dengan hati terbuka dan fikiran yang cerdas untuk mawas-diri, berintrospeksi dengan teliti menjelajahi segenap wilayah kemungkinan bagi kita qawm muslimiyn untuk mendudukkan dirinya dengan penuh percaya diri di tengah pergolakan dunia yang kian tak menentu ini agar tidak hanyut terseret ke dalam arus globalisasi dunia (Barat) yang sangat mengerikan.
Apalagi fakta dan realitas yang gumelar, kita temukan kehidupan qawm muslimiyn kini tampak sangat ketinggalan dari idealisme yang diberikan oleh ajaran-ajaran Islam. Segala yang dalam masa kemurnian Islam yang doeloenya merupakan gerak maju dan unggul, sekarang telah berubah menjadi sikap apatis (masabodoh) di kalangan muslimin; segala yg dalam zaman kejayaan Islam doeloenya merupakan rahmat dan kesiap-sediaan untuk berkorban, sekarang berubah menjadi kepelitan dan kecintaan akan kehidupan duniawi yang melampaui batas, sementara yang lain hidup bermalasan seenaknya.
Satunya sebab kemunduran sosial dan kultural qawm muslimiyn terletak dalam kenyataan bahwa, mereka secara berangsur-angsur telah melalaikan jiwa dan spirit ajaran-ajaran Islamnya sendiri, gumunan dan konjeman dengan sikap rendah-diri (minder waardeheid complex) yang mbacut terkesima oleh budaya asing (Barat) dengan keunggulan science dan tehnologinya berikut kehidupan glamornya yg serba mewah. Barangkali inilah salah satu keberhasilan kolonialisme asing dahulu menguasai negeri-negeri muslim berabad-abad, menjarah sumber daya alamnya dan menumbuhkan mental remukan di kalangan qawm muslimiyn, dan kemudian ditinggalkan dalam keadaan bergelimang ke dalam kemiskinan dan kebodohan.
Dan sekarang kita menyaksikan qawm muslimiyn yang teralienasikan itu dengan pendidikannya yang tengah berada di persimpangan jalan, mereka dapat diam di tempatnya, tetapi ini berarti mati kelaparan; atau mereka memilih jalan yang bertanda menuju peradaban Barat, maka mereka akan kehilangan segala- galanya dan harus meninggalkan masa lalunya untuk selama-lamanya.
Atau mereka masih mau memilih jalan lain yang bertanda kearah realitas Islam, namun, muncul sebuah pertanyaan : apa yang mereka handalkan dari ketidak-sadarannya selama ini, mampukah mereka bangkit kembali merebut hikmah kejayaan masa silamnya yang hilang itu demi memperbaiki diri, bangkit dan membangun kemuslimannya yang rapuh itu ? Itu pun kalau mereka mau sadar, mengerti, dan mengakui dirinya rapuh – kembali menjadi muslim yang baik yang benar-benar berserah-diri dan taat kepada Allah & Rasul-Nya – kembali mendidik dirinya dengan pendidikan Islam yang benar yang tidak terkontaminasi oleh unsur-unsur modernisasi beracun yang biasa diimport dari negeri Barat, atau tidak berkubang ke dalam tradisi kejahiliyahannya sendiri yang penuh bid’ah dan khurafat, kejumudan dan kebodohan yang melilit hidupnya, dan tidak pula terlibat ke dalam ‘keberkatan hidup berpecah-belah’ di kalangan muslimin.
Kebangkitan muslimiyn bukan sekedar slogan dan harapan, tetapi sebuah tantangan serius buat memintal dan menenun kembali benang-benang kesemrawutan hidupnya demi masa depan yang lebih baik dari keterpurukan dan keterbelakangan yang dialami selama ini – yang hanya bisa dilakukan lewat proses perubahan dan perubahan, serta pembaharuan atas pola pendidikannya yang tidak sesuai dan bahkan jelas menyimpang dari kemurnian ajaran Islam (yang masih mereka yakini kebenarannya! ).
Dan kini mereka sedang berdiri di persimpangan jalan pendidikan ke mana mereka harus memilih arah jalan yang benar, relakah mereka meninggalkan kebodohan dan ketertindasan-mapannya yang selama ini mereka bangga-banggakan, yang ternyata mencelakakan dirinya.
Ataukah memilih arah jalan pendidikan yang benar – berarti menarik diri dari arah jalan yang keliru : ghayra sabiyli-lmu’miniyn ~ yang bukan jalan orang-orang beriman (Qs.4/115) ?
Mengerti akan kekeliruannya dan siap dengan segala konsekuensinya kembali ke arah jalan yang benar, jalan yang doeloe ditempuh oleh salaafu-lshaalihiyn yang berpegang pada petunjuk dan tuntunan wahyu alQur’an berikut uswah hasanah (keteladanan unggul) Nabi-nya (terpadu) seutuhnya, tanpa kecuali.
Inilah satu-satunya jalan penyelamatan menuju sukses keberhasilan yang berada di bawah jaminan Ilahy.
Kemudian dari alur pemikiran ini, kita akan mengetahui dan menyadari betapa keterbelakangan dan keterpurukan qawm muslimiyn itu sebenarnya disebabkan terutama oleh perilakunya sendiri, bermula dari sikap mengabaikan alQur’an (Qs.25/30) dan mengingkari Sunnah Nabinya (Qs.4/115), di samping faktor external yg dominan dari pengaruh peradaban & kebudayaan asing (Barat) sejak masa penjajahan kolonial di negara-negara muslim hingga sekarang, yg kini di-update dalam kemasan baru, dikemas ke dalam paket ‘modernisasi’ yang pada hakikatnya tidak lebih dari neo kolonialisme asing mau pun yang pribumi.
Dan inilah fakta yg gumelar sekarang dari sebuah keprihatinan besar yg bila tidak diantisipasi dengan qalbu yang jernih dan pemikiran yg cerdas, maka kita tidak bakalan mampu membayangkan apa yang akan menimpa qawm muslimiyn lebih dari keterpurukan dan keterbelakangannya !

Serialnass ~ anass muhammad
Update Syawal 1432 H 2011

Comment :