Test : Arabic Fonts

BismiLlahi-lrahmani-lrahiym
Semoga lahan penjelajahan & pemikiran online ini bermanfaat bagi setiap pengguna dalam menuntun proses perubahan hidupnya, insya Allah :
إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا
(Simplified Arabic 18)
إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا
(Traditional Arabic 22)
_______________________

Catatan :
Test ~ Font Arabic Size for serialnass.wordpress.com
sesuai dengan fonts size dalam text Documents Word :
Latin – Trebuchet 10
Arabic – Simplified Arabic 18 / Traditional Arabic 22

db ~ 25 Syawal 1432 H 23 September 2011

Sekularisasi ~ Induk Beragam Type Produk Pemikiran Akrobatik Intelektual

Sekularisasi, bermula dari proses pemikiran manusia jahiliyyah di zaman prasejarah, sewaktu para Nabi dahulu diutus menghadapi perilaku manusia yang masih berada dilembah kejahilan mental dan spiritual, bergelimang ke dalam kemusyrikan dan kekafirannya, meski mulutnya berucap ‘Allah’ ketika menjawab pertanyaan tunggal: ‘siapa yang menciptakan samawat & bumi, dan menundukkan matahari dan bulan’, ini ?
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan ? Tentu mereka akan menjawab: Allah, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (Qs.29/61)
Dari lembah kemusyrikan dan kekafiran itulah kecenderungan mental dan intelektual manusia mulai tumbuh berkembang melewati proses sejarah yang sangat panjang, proses pergolakan fikiran dan pergulatan gagasan sebatas tingkat pemikiran (intelek) manusianya untuk menduniawikan kecenderungan hidupnya itu lepas dari dan tidak berdasakan ajaran kepercayaan dan keyakinan keberagamaan (laa diyniyyah). Dan dari peringkat ‘kepompong’ ini kemudian nantinya menjadi sebuah paradigma (kerangka berfikir), ideologi dan dogma yang diyakini kebenarannya oleh manusia dan digarap secara sistematis lagi terencana.
Perubahan berjalan dari masa ke masa sesuai dengan perubahan zaman dan perkembangan pikiran manusia itu sendiri, sehingga kemudian sekularisasi dianggap sebagai prasyarat tranformasi masyarakat dari tingkat tradisional menjadi maju dan modern (atau dalam bahasa gaul: dari minum air hujan gantian minum beer cap Bintang). Akan tetapi untuk mengurangi resistensi, digunakanlah istilah lain yang lebih halus dalam mengelabui masyarakat, seperti modernisasi (pembaruan), pembangunan (development), atau demokratisasi dan liberalisasi.
Misalnya, reinterpretasi (penafsiran-ulang) alQur’an yang sering digelontorkan oleh orang-orang sekte liberal berpijak pada pola pemikiran mereka yg menganggap kitab suci alQur’an merupakan refleksi dan reaksi terhadap kondisi social, kultural, ekonomi dan politik masyarakat Arab Jahiliyyah abad ke 7 Masehi yang primitif dan patriarkis. Dan dari pijakan kekafiran berfikir terhadap turunnya wahyu inilah mereka menuntut alQur’an ditinjau dan ditafsir-ulang kembali agar sesuai dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM) dan nilai-nilai demokrasi (Barat), agar sesuai dengan denyut nadi peradaban sekuler, peradaban yang tidak beradab dan tidak bermartabat dari dunia modern yang tumbuh dan berkembang di Barat.
Para aktivis liberalist telah memprovokasi ummat Islam, bahwa, penafsiran alQur’an dan ajaran Islam oleh para ‘Ulama’ (salaafu-lshaalihiyn) atau golongan tertentu bukanlah yang paling benar dan mutlak. Setiap orang dan golongan boleh-boleh saja menafsirkan alQur’an dan ajaran Islam berdasarkan sudut pandangannya sendiri, sambil berharap semua fihak menghargai hak orang dan golongan lain sesuai dengan kehendak masing-masing itu benar atau salah – terserah !
Persoalan mendasar yang juga luput dari wacana liberalisasi tafsir adalah seputar status dan validitas suatu penafsiran. Sebagaimana yang sudah dikemukakan sebelumnya, perihal ungkapan seorang pemikir sekte liberal misalnya, bahwa penafsiran alQur’an ajaran Islam oleh ‘Ulama’ atau golongan tertentu bukanlah yang paling benar dan mutlak, adalah pendapat yang sangat rapuh secara epistemologis.
Demikian juga seruan agar setiap orang dan golongan berani menafsirkan alQur’an dan ajaran Islam berdasar sudut pandangannya utk membuat interpretasinya sendiri. Jika dicermati secara teliti/seksama, ungkapan-ungkapan semacam ini semua hanya menunjukkan kerancuan dan kecerobohan berfikir yg tidak disadari (paralogism); dan kesalahan atau pun kekeliruan yang disengaja untuk mengecoh dan menyesatkan orang lain (sophism). Semuanya lahir dari sikap skeptis : mudzabdzabiyna bayna dzalik dari mental munafiq dan bermuara ke relativisme epistemologis.
Seperti seruan kaum liberalist agar ummat Islam merelativisir setiap penafsiran, adalah naif dan tidak realistis. Naif karena seruan itu akan berbalik bagai bumerang, akan menghancurkan pendapatnya sendiri (self-defeating). Tidak realistis karena pada kenyataannya memang tidak semua penafsiran bisa diterima, dan tidak semua penafsiran harus ditolak. Apalagi penafsiran yang dipandu oleh ideologi tertentu dan interpretasi yang dipaksakan untuk menjustifikasi suatu kepentingan tentu sulit untuk diterima.
Gagasan liberalisasi penafsiran juga tidak realistis dan perlu dicurigai. Orang yang menyeru agar setiap orang dan golongan dibebaskan utk membuat penafsiran sendiri sebenarnya tidak menyadari bahwa tidak semua orang layak dan berhak melakukannya, termasuk dirinya sendiri. Bahkan perlu dicurigai, jangan-jangan seruan itu sejatinya justru tuntutan terselubung agar dirinya yang masih belum atau tidak layak berwacana itu pun diberikan hak untuk melakukan penafsiran.
Sejak beberpa dasawarsa silam, tesis sekularisasi mulai banyak dipertanyakan dan diperdebatkan. Misalnya, menyangkal asumsi positivistik yg mengatakan bahwa masyarakat dahulu lebih religius ketimbang masyarakat modern. Kebenaran asumsi ini sulit untuk dibuktikan jika hanya berdasarkan data-data historis yang terbatas dan seringkali sefihak. Yang lain beranggapan bahwa agama bakal merosot peran sosialnya, melainkan dalam dua kondisi : pertama, dalam konteks pertahanan budaya (cultural defense) dan kedua dalam konteks peralihan budaya (cultural transition).
Bahwa, manakala masyarakat merasa identitas mereka (sebagai kelompok) mulai terancam, maka sekularisasi akan menemui hambatan.
Kritik terhadap tesis sekularisasi juga dilontarkan oleh mereka yang mengutarakan teori ‘ekonomi agama’. Asumsi dasar teori ini mengatakan, manusia itu cenderung mencari keuntungan dan imbalan, meskipun tidak langsung dan tidak sepenuhnya. Olehkarena itu agama akan senantiasa dibutuhkan oleh masyarakat, bahkan oleh yg sekuler sekalipun. Menurut teori ini ‘sekularisasi tidak akan berumur panjang’ (self-limiting), karena justru menimbulkan dampak sebaliknya, yakni menghidupkan kembali semangat beragama di masyarakat yang ditandai dengan munculnya sekte-sekte sempalan/sektarian dan membangkitkan ‘kreativitas’ kalangan tertentu hingga lahirlah kelompok-kelompok kultus (cults), yang mendoktrinkan adagium ‘pejah gesang ndèrèk sang ustadz’ yang begitu laku di pasaran, karena dulu di era OrdeBaru penguasa melakukan tindakan represif terhadap kelompok yang diduga penganut Islam radikal.
Hal ini dikarenakan modernisasi mendorong terwujudnya pasar bebas bagi berbagai jenis produk agama yang ditawarkan dengan harga murah-meriah dengan kualitas bersaing. Orang bebas memilih yang disukainya sesuai dengan kebutuhan masng-masing, dari merk Yehowah, Mormon dan Freemasonry hingga Wicca dan Heaven’s Gate, atau yg lebih ngetrend atau ngetop sesuai dengan selera anak-anak muda di masa sekarang.
Paradigma sekularisasi bukan hanya lemah secara teoritis, tetapi juga secara empiris. Menurut data historis menunjukkan bahwa pasang-surutnya peran agama bisa saja terjadi dalam berbagai konteks sosial dan ekonomi. Sekularisasi tidak terjadi hanya pada masyarakat modern namun bisa juga terjadi pada masyarakat pra-modern dan post-modern. Di samping itu, semangat beragama juga tidak melulu berkorelasi secara positif maupun negatif dengan kemajuan ilmu dan tehnologi. Terakhir fungsi agama dalam suatu masyarakat dapat saja berubah-ubah akibat perubahan kondisi sosial, ekonomi & politk.
Juga kritik ditujukan kepada pendukung tesis sekularisasi yang dinilainya kurang peka dan gagal mencermati kenyataan di lapangan yang sangat kompleks dan multi-dimensional untuk bisa di’sapu-rata’kan begitu saja. Barangkali karenanya. maka beberapa ahli, kemudian merivisi pendapatnya dari sekularisasi menjadi ‘desekularisasi’ atau sekularisasi yang ngambeg di tengah jalan.
Rancunya tesis sekularisasi ini akan semakin jelas bila kita mencermati fenomena maraknya semangat menerjemahkan Islam dalam berbagai lingkup kehidupan, terutama menyusul Revolusi Iran 1979, dari mulai tumbuhnya halaqah (lingkar) usrah-usrah di kampus dan masjid, tampilnya aksi ‘lautan jilbab’, dan gerakan ‘islamisasi ilmu’ hingga munculnya lembaga perbankan dan partai-partai berbasis Islam di sejumlah negara – gejala yang disebut oleh banyak pengamat Barat sebagai sebagai ‘Islamic resurgence’ (kebangkitan Islam), ‘Islamic revival’ (kebangkitan kembali Islam), dan ‘Islamic activism’ (paham atau peraktek perluasan kepentingan politik Islam) – yang kemudian diblow up (dikipasi) oleh mass media pro Barat untuk melariskan dagangannya.
Kelemahan paradigma sekularisasi ini terletak pada sifatnya yang terkesan deterministik – kalau sudah modern mesti sekular, kalau tidak sekular tidak bisa modern, dan seterusnya – padahal masyarakat manusia jelas sangat dinamis dan karenanya amat sulit untuk dipatok arah maupun coraknya.
Olehkarena itu sekularisasi bukanlah prasyarat mutlak kemodernan dan kemajuan. Masyarakat tidak mesti menjadi sekular untuk menjadi modern. Seperti telah dikemukan di atas, banyak juga masyarakat modern yang tetap religius, baik secara individual maupun konstitusional (Islam sebagai agama resmi negara) seperti Malaysia. Sebaliknya, tidak sedikit negara yang telah menyatakan diri sekular namun hingga kini masih saja belum tergolong sebagai negara maju, misalnya Maroko dan Turki.
Sekularisme sebagai ideologi demikian juga, pada dasarnya memang tidak bersenyawa (incompatible) dgn ajaran Islam yang benar, yang menganggap kekuasaan politik sebagai sarana penegakan agama.
Sebagaimana disinyalir, sejak zaman Nabi Muhammad saw, ummat Islam merupakan entitas politik dan agama sekaligus dengan RasuluLLh saw sebagai Kepala Negara. Dgn kata lain, Nabi saw tidak mempolitisir agama, melainkan mengagamakan politik, dalam arti politik untuk kepentingan agama, bukan sebaliknya, agama untuk kepentingan politik.
Dalam pengalaman ummat Islam (generasi) awwal, sebagaimana dilestarikan dan direkam untuk generasi sesudahnya, kebenaran agama dan kekuasaan politik terkait erat tak terpisahkan. Yang disebut pertama menyucikan yang kedua, sedang yang kedua mendukung yang pertama, jelas Bernard Lewis.
Sekularisme bukanlah monopoli masyarakat zaman sekarang. Sebagai falsafah hidup yang mementingkan kekinian dan kedisinian, sekularisme pernah, masih dan akan terus ada penganutnya. Sekularisme di sini tentu bukan sekedar ideologi politik yang memisahkan urusan agama dari urusan negara tetapi juga berarti rumusan keyakinan yang mengingkari adanya kehidupan akhirat, menganggap bahwa dunia inilah kehidupan yang hakiki, tidak ada hidup sesudah mati dan tidak ada pertanggungan-jawab di hadapan Tuhan. Orang-orang yang berfikiran sekular sudah ada sejak zaman dahulu dan akan selalu ada sepanjang zaman. Seperti diinformasikan oleh alQur’an :
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
Dan mereka berkata: Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan perihal itu, mereka tiada lain hanyalah menduga-duga saja. (Qs.45/24)
Dalam menyikapi sekularisasi dan westernisasi atasnama modernisasi dan pembangunan, kaum muslimin dapat dipilah dalam dua kelompok besar, yaitu yang menerima dan yang menolak.
Masing-masing dapat dipecah lagi : ada yang cenderung bersikap ekstrem dan ada pula yang bersikap moderat. Yang ekstrem dari kelompok penerima biasanya disebut secularist (sep. Attaturk, Taha Husayn), sedangkan yang bersikap moderat disebut reformist atau modernist (sep. Ahmad Khan, Muhammad Abduh, Fazlur Rahman). Adapun yg ekstrem dari pihak yg menolak biasanya disebut revivalist atau fundamentalist (sep. alMawdudi dan Sayyid Qutb), sementara yang moderat dijuluki concervative atau traditionalist (sep. Sayyid Amir Aly dan Syekh Muhammad ibn Abd alWahhab). Itulah kategorisasi yang dibuat oleh para sarjana Barat dan diadopsi olek cendekiawan muslim.
Dari perspektif alQur’an sendiri, sikap manusia kepada agama Allah, pertama, yang mengimani kebenarannya dan berusaha mengamalkannya secara utuh (kaffah) – kedua, yang mengingkari dan menolaknya secara keseluruhan – dan ketiga, yang tidak termasuk keduanya, karena hanya meyakini dan melaksanakan sebagiannya saja seraya mengingkari sebagian yang lain dan menolak implementasi keseluruhannya. Ketiga-tiganya dalam terminologi alQur’an ini disebut : 1. mu’minuun shadiquun, 2. kaafiruun dan 3. munaafiquun. Demikianlah,
biLlahi-ltawfiyqu wa-lhidaayah in uriydu illaa-l’ishlaah !

Serialnass ~ anass muhammad
Update 25 Syawal 1432 H 2011

Comment :

Pola Pemikiran Akrobatik Sekte Liberalist

Pola Pemikiran Akrobatik Sekte Liberalist
ذَٰلِكُم بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ لَايُخْرَجُونَ مِنْهَاوَلَاهُم يُسْتَعْتَبُونَ
Yang demikian itu, karena sesungguhnya kalian menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kalian telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat (Qs.45/35).
al’Islam (atau Islam) adalah diynu-Llah, agama yang diwahyukan lewat malaikat Jibriyl kepada seorang Muhammad bin ‘AbdiLlah selaku Nabi & Rasul, empatbelas abad yang lalu di lembah Makkah alMukarramah, Jazirah ‘Arab Saudi sekarang. Pernyataan pengesahannya sebagai agama resmi termaktub dalam alQur’an :
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ – وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Sesungguhnya diyn/agama disisi Allah ialah al’Islam –
Dan barangsiapa mencari agama selain al’Islam, maka tidaklah diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Qs.3/19 – 85)
Bahwa, mencari agama selain Islam adalah jelas tertolak, Allah tidak akan menerimanya. Sedang yang sering terjadi di tengah masyarakat muslim maupun non-muslim di masa sekarang, bukanlah mencari agama selain Islam, tetapi memodifikasi, melakukan perubahan terhadap Islam agar sesuai dgn situasi & kondisi masyarakatnya yang berubah-rubah sehingga memerlukan apa yang mereka sebut sebagai pembaruan agama meski harus menyimpang dari kemurnian dan keasliannya.
Seperti yang dilakukan oleh golongan sekte liberal, dalam menda’wahkan ide pembaruan agama sesuai dengan penafsiran dan pemahaman akalnya atas restu pakar-pakar Orientalisten Barat dan murid-muridnya yang tersebar di segenap lembaga perguruan tinggi agama islam yang berkepentingan memposisikan Islam ke dalam konsep modernisasi kehidupan kaum muslimin sesuai dengan konsep pemikiran/world view Barat.
Merekalah yang berdalih, memberlakukan Syari’at Islam akan membawa kemunduran, keterbelakangan dan terisolir dari pergaulan internasional. Anggapan seperti ini dari produk pemikiran liberal jelas menunjukkan pengkhiyanatan terhadap Islam kalau masih mengaku dirinya muslim, melainkan barangkali karena indoktrinasi beracun (stadium tinggi) yang dijejalkan lewat ‘kajian-kajian ilmiah mereka’ berhasil membius ‘aqiydah dan keyakinan mereka.
Mengapa hal ini memerlukan perhatian yang serius menghadapi ‘serangan fajar’ yang sering dilakukan oleh sekte liberalist dalam operasi-gabungan mereka untuk merusak atau menciderai kemurnian diynu-l’Islam yang berada sepenuhnya di bawah kendali wahyu alQur’an & Sunnah Nabi-nya ? Mereka tiada hentinya bertingkah macam-macam yang kontroversial untuk merapuhkan ‘aqiydah dan keyakinan qawm muslimiyn akan kebenaran dan kesucian diynnya agar berbalik dengan sukarela mau mengkhiyanatinya.
Diynu-l’islam adalah agama yang telah sempurna yang bersumber dari wahyu dan tidak butuh pembaruan maupun modifikasi oleh manusia. Betapa zhalim dan bodohnya manusia ini dgn kesombongannya merasa bisa memperbaharui atau memodifikasi wahyu Ilahy.
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangatlah zhalim dan bodoh. (Qs.33/72)
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Hari ini Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku dan Aku ridla bagi kalian al’Islam sebagai agama (Qs.5/3).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kalian kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. (Qs.5/105)
Olehkarenna itu, diynu-l’islam atau agama Islam berkepentingan sesuai dengan misinya utk menuntun dan menguji segenap bentuk perilaku manusia agar tunduk dan taat mengikuti kebenaran yg diwahyukan Allah, Sang mahapencipta & pemelihara alam semesta, dan tidak mengikuti hawanafsu mereka. Agar supaya dengan demikian manusia mampu berperilaku tradisional dan kultural yang beradab dan bermartabat dalam kehidupan kesehariannya pada lingkup pribadi, orang seorang dan di tengah lingkungan masyarakatnya sepanjang tuntunan wahyu dan teladan uswah hasanah RasuluLlah saw.
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
Dan Kami telah turunkan kepadamu alQur’an dengan haqq/kebenaran, membenarkan Kitab-kitab (yang turun sebelumnya) dan menguji atasnya, maka hukumlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Bagi setiap ummat diantara kalian, Kami berikan peraturan/syari’at dan jalan yang terang (Qs.5/48)
Masalah-masalah hukum pidana (qishas, potong tangan yang disebutkan oleh ayat alQur’an dan rajam oleh Hadits) adalah masalah-masalah qath’iy, jelas dan tidak meragukan. Sebagai seorang muslim yang sejati, ijtihad dalam hal-hal yang digariskan oleh alQur’an & Sunnah Nabi-Nya adalah wajar, tetapi bukan untuk mengingkarinya, melainkan mencari formulasi praktis dalam upaya melakukannya.
Sementara golongan sekte liberal dan pengikut-pengikutnya, berijtihad justeru untuk menafikan eksistensinya, mencari-cari peluang untuk melakukan plintiran terthadap ayat-ayat mutasyabbihat, konteks dan korelasi yang tidak kena, atau lari ke analisis historis ayat-ayat itu diturunkan di masa doeloe sekedar dalih dan alasan menerbitkan tafsir atau pemahaman yg kontroversial menurut akalnya sehingga mudah membuat kerancuan faham dan kebingungan di kalangan muslimin dalam memahami dan melaksanakan ajaran agamanya.
Dan inilah bentuk ijtihad tanpa disiplin ilmu yang baku, yang tidak bertanggung jawab karena ditempatkan pada tempat yang tidak proporsional, bukan pada tempat yang benar atau di tempat yang keliru (tidak harmonis, tidak berimbang), bahkan liar, memperturutkan kemauan akal dan hawa nafsunya sendiri sesuai dengan pesanan …. yang sudah diatur (direkayasa) dari sononya !
Sebagai ilustrasi, adalah pernyataan sekte liberal yang kontradiktif sebagai berikut :
Di satu sisi mengakui bahwa, Rasulullah saw adalah uswah dan panutan yang harus diikuti dan diteladani, namun di lain pihak Rasulullah dinilai sebagai sosok yang banyak kekurangan dan kelemahan (manusiawi).
Kalaulah RasuluLlah itu dinyatakan sosok yang ‘banyak kekurangan’, maka kenapa uswah atau keteladanan diharuskan tertuju kepada beliau ? Mengapa beruswah ke pribadi yang banyak kekurangannya ?
Tampaknya dengan jelaslah, betapa si liberalist ini begitu over confidence (kelewat percaya-diri) dan lepas kendali dalam mengekspresikan idenya, sehingga yang sampai di permukaan justeru merupakan humiliasi (penghinaan) terhadap Nubuwwah dan Risalah kerasulan seorang Nabi Muhammad saw, suatu perbuatan yang sangat gegabah dan beresiko tinggi yang tidak mereka sadari bakal menimpa mereka.
Sebagai seorang muslim, kalau memang mereka mengaku berislam, maka perbuatan yang disengaja dengan menempatkan RasuluLlah saw pada posisi yang tidak berhati-hati (tidak proporsional), hanya menjadi awal dari pengkhianatan pada risalah islamiyyah itu sendiri, dan bakal berujung pada kekafiran seseorang.
ذَٰلِكُم بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ لَايُخْرَجُونَ مِنْهَاوَلَاهُم يُسْتَعْتَبُونَ
Yang demikian itu, karena sesungguhnya kalian menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kalian telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat (Qs.45/35).
al’Islam (atau Islam) adalah diynu-Llah, agama yang diwahyukan lewat malaikat Jibriyl kepada seorang Muhammad bin ‘AbdiLlah selaku Nabi & Rasul, empatbelas abad yang lalu di lembah Makkah alMukarramah, Jazirah ‘Arab Saudi sekarang. Pernyataan pengesahannya sebagai agama resmi termaktub dalam alQur’an :
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ – وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Sesungguhnya diyn/agama disisi Allah ialah al’Islam –
Dan barangsiapa mencari agama selain al’Islam, maka tidaklah diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Qs.3/19 – 85)
Bahwa, mencari agama selain Islam adalah jelas tertolak, Allah tidak akan menerimanya.
Sedang yang sering terjadi di tengah masyarakat muslim maupun non-muslim di masa sekarang, bukanlah mencari agama selain Islam, tetapi memodifikasi, melakukan perubahan terhadap Islam agar sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakatnya yang berubah-rubah sehingga memerlukan apa yang mereka sebut sebagai pembaruan agama meski harus menyimpang dari kemurnian dan keasliannya. Seperti yang dilakukan oleh golongan sekte liberal, dlm menda’wahkan ide pembaruan agama sesuai dengan penafsiran dan pemahaman akalnya atas restu pakar-pakar Orientalisten Barat dan murid-muridnya yang tersebar di segenap lembaga perguruan tinggi agama islam yang berkepentingan untuk memposisikan Islam ke dalam konsep modernisasi kehidupan kaum muslimin sesuai dengan konsep pemikiran/world view Barat.
Merekalah yang berdalih, memberlakukan Syari’at Islam akan membawa kemunduran, keterbelakangan dan terisolir dari pergaulan internasional. Anggapan seperti ini dari produk pemikiran liberal jelas menunjukkan pengkhiyanatan terhadap Islam kalau masih mengaku dirinya muslim, melainkan barangkali karena indoktrinasi beracun (stadium tinggi) yang dijejalkan lewat ‘kajian-kajian ilmiah mereka’ oleh para pakar Orientalisten ke benak tokoh-tokoh liberal berhasil membius ‘aqiydah & keyakinannya.
Mengapa hal ini memerlukan perhatian yang serius menghadapi ‘serangan fajar’ yang sering dilakukan oleh sekte liberal dalam operasi-gabungan mereka untuk merusak atau menciderai kemurnian diynu-l’Islam yang berada sepenuhnya di bawah kendali wahyu alQur’an & Sunnah Nabi-nya ? Mereka tiada hentinya bertingkah macam-macam yang kontroversial untuk merapuhkan ‘aqiydah dan keyakinan qawm muslimiyn akan kebenaran dan kesucian diynnya, agar b ersedia dengan sukarela mengkhiyanatinya.
Diynu-l’islam adalah agama yang telah sempurna yang bersumber dari wahyu dan tidak butuh pembaruan maupun modifikasi oleh manusia. Betapa zhalim dan bodohnya manusia ini dgn kesombongannya merasa bisa memperbaharui atau memodifikasi wahyu Ilahy.
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangatlah zhalim dan bodoh. (Qs.33/72).
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Hari ini Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku dan Aku ridla bagi kalian al’Islam sebagai agama (Qs.5/3).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kalian kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. (Qs.5/105)
Olehkarenna itu, diynu-l’islam atau agama Islam berkepentingan sesuai dengan misinya utk menuntun dan menguji segenap bentuk perilaku manusia agar tunduk dan taat mengikuti kebenaran yg diwahyukan Allah, Sang mahapencipta & pemelihara alam semesta, tidak mengikuti hawanafsu mereka. Agar supaya dengan demikian, manusia mampu berperilaku tradisional dan kultural yang beradab dan bermartabat dalam kehidupan kesehariannya pada lingkup pribadi, orang seorang dan di tengah lingkungan masyarakatnya sepanjang tuntunan wahyu & uswah hasanah RasuluLlah saw.
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
Dan Kami telah turunkan kepadamu alQur’an dengan haqq/kebenaran, membenarkan Kitab-kitab (yang turun sebelumnya) dan menguji atasnya, maka hukumlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Bagi setiap ummat diantara kalian, Kami berikan peraturan/syari’at dan jalan yang terang (Qs. 5/48)
Masalah-masalah hukum pidana (qishas, potong tangan yang disebutkan oleh ayat alQur’an dan rajam oleh Hadits) adalah masalah-masalah qath’iy, jelas dan tidak meragukan. Sebagai seorang muslim yang sejati, ijtihad dalam hal-hal yang digariskan oleh alQur’an & Sunnah Nabi-Nya adalah wajar, tetapi bukan untuk mengingkarinya, melainkan mencari formulasi praktis dalam upaya melakukannya.
Sementara golongan sekte liberal dan pengikut-pengikutnya, berijtihad justeru untuk menafikan eksistensinya, mencari-cari peluang untuk melakukan plintiran terthadap ayat-ayat mutasyabbihat, konteks dan korelasi yang tidak kena, atau lari ke analisis historis ayat-ayat itu diturunkan di masa doeloe sekedar dalih dan alasan menerbitkan tafsir atau pemahaman yang kontroversial menurut akalnya sehingga mudah membuat kerancuan faham dan kebingungan di kalangan muslimin dalam memahami dan melaksanakan ajaran agamanya.
Dan inilah bentuk ijtihad tanpa disiplin ilmu yang baku, yang tidak bertanggung jawab karena ditempatkan pada tempat yang tidak proporsional, bukan pada tempat yang benar atau di tempat yang keliru (tidak harmonis, tidak berimbang), bahkan liar, memperturutkan kemauan akal dan hawa nafsunya sendiri sesuai dengan pesanan …. yang sudah diatur (direkayasa) dari sononya !
Sebagai ilustrasi, adalah pernyataan sekte liberal yang kontradiktif sebagai berikut :
Di satu sisi mengakui bahwa, Rasulullah saw adalah uswah dan panutan yang harus diikuti dan diteladani, namun di lain pihak Rasulullah dinilai sebagai sosok yang banyak kekurangan dan kelemahan (manusiawi).
Kalaulah RasuluLlah itu dinyatakan sosok yang ‘banyak kekurangan’, maka kenapa uswah atau keteladanan diharuskan tertuju kepada beliau ? Mengapa beruswah ke pribadi yang banyak kekurangannya ?
Tampaknya dengan jelaslah, betapa si liberalist ini begitu over confidence (kelewat percaya-diri) dan lepas kendali dalam mengekspresikan idenya, sehingga yang sampai di permukaan justeru merupakan humiliasi (penghinaan) terhadap Nubuwwah dan Risalah kerasulan seorang Nabi Muhammad saw, suatu perbuatan yang sangat gegabah dan beresiko tinggi yang tidak mereka sadari bakal menimpa mereka.
Sebagai seorang muslim, kalau memang mereka mengaku berislam, maka perbuatan yang disengaja dengan menempatkan RasuluLlah saw pada posisi yang tidak berhati-hati (tidak proporsional), hanya menjadi awal dari pengkhianatan pada risalah islamiyyah itu sendiri, dan bakal berujung pada kekafiran seseorang.
Kemanusiawian rasuluLlah Muhammad saw, alQur’an menyatakan :
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ – فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Ilah kalian itu adalah Ilah Yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah mempersekutukan sesuatu pun dalam ber’ibadat kepada Rabb-nya. (Qs.18/110)
Tetapi yang menjadi masalah kemudian, ketika dengan sembrono mereka mengatakan bahwa, karena Muhammad adalah manusia biasa maka dia memiliki banyak kesalahan. Pernyataan semacam ini keluar dari mulut yang lacut dan lancung, serta tidak diterima secara syar’iy sekaligus juga kontradiktif dengan basis ‘aqli (akal yang sehat), betapa seorang Nabi dinyatakan banyak kesalahan !
Secara syar’iy, karena beliau adalah Rasul yang ma’shum (terpelihara dari dosa), kema’shuman beliau tentu terkait dengan kemurnian wahyu yang ditablighkan (disampaikan) kepada ummat manusia.
Artinya, berdasar logika yang waras tentu tidak bisa diterima jika Rasul itu juga melakukan kesalahan, karena dengan demikian pasti melakukan juga kesalahan-kesalahan dalam menyampaikan wahyu-nya.
Begitulah liberalist yang dengan sendirinya dapat difahami kalau pakar muslim modernist seperti ini tidak mengimani wahyu secara utuh, karena dari sononya memang dicurigai membuat banyak pelanggaran yang serius di bidang ‘aqiydah dan mu’amalah – alias tidak lagi pantas disebut mewakili pandangan islami.
Selain itu, salah satu tugas utama Rasulullah saw adalah sebagai mubayyin (pemberi penjelasan) dari wahyu yang diturunkan. Yaitu bertugas memberikan interpretasi, meski interpretasi ini, khususnya yang berkenaan dengan masalah-masalah duniawi yang tidak disebutkan secara tegas dalam wahyu, sangat kontekstual sifatnya. Jika Rasul dalam kedudukannya sebagai mubayyin, namun jika pada saat yang sama juga banyak bersalah, akan ditempatkan di mana confidence, keimanan kita kepada semua yg dituturkan ? Sebenarnya, sebatas kontroversi pemikiran semacam ini saja sudah cukup utk mempertanyakan makhluq apa sebenarnya mereka itu, yg tidak segan-segan memaksakan kebohongan dan sekaligus kebodohan yang berulang-ulang di hadapan manusia ?
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Dan Kami turunkan kepadamu alQur’an, agar kamu menerangkan pada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (Qs.16/44)
Sebaliknya, proporsionalisasi akal manusia sangat ditentukan oleh wahyu dalam rangka pemahaman yang benar terhadap kebenaran agama. Akal manusia, seringkali terlibat oleh kepentingan-kepentingan ‘relatif’ yang belum tentu merupakan kebaikan bagi manusia itu sendiri sehingga perlu bimbingan dan panduan yang benar.
Dengan demikian, akan terasa mustahil untuk meniadakan perbedaan asumsi ini, kecuali kalau memang kita telah mengidap penyakit nifaq, lamisan atau kepura-puraan alias kemunafikan.
Sementara wahyu dan akal adalah dua sisi yang harus saling berinteraksi secara proporsional.
Keberadaan wahyu tanpa didukung oleh akal, hanya akan menjadi bacaan penuh ‘berkah’ yang kurang membawa barakah (makna hidup). Musabaqah tilawati-lqur’an yang menelan dana pembeayaan yang besar itu untuk memperlombakan bacaannya, atau di bulan ramadlan berulang-kali mengkhatamkan alQur’an, namun kedua-duanya tidak mampu manjadi ‘changing power’, kekuatan untuk perubahan dalam kehidupan ummat ~ yang memerlukan langkah dan pengamalan konkrit atas ayat per ayat alQur’an yang dibaca dan dikhatamkan itu ke dalam perilaku keseharian hidupnya demi sebuah perubahan dan perubahan secara bertahap menuju kalimah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam seutuhnya (kaaffah), dan janganlah kalian turuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kalian. (Qs.2/208)
Sebuah perintah yang jelas, betapa seharusnya orang yang beriman itu berislam dengan benar – yang kaaffah.
Di samping, wahyu dan kedinamisannya sangat terkait dengan akal pemikiran manusia. Wahyu pada dirinya dinamis, namun kedinamisan wahyu tidak efektif tanpa didukung oleh kedinamisan berfikir manusianya.
Afala yatadabbaruna alQur’an am ‘alaa qulubihim aqfaluha’ (artinya, membaca alQur’an tanpa memahaminya dijuluki dengan ketertutupan jiwa/hati).
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Maka apakah mereka tidak memperhatikan alQur’an, ataukah hati mereka terkunci ? (Qs.47/24)
Sebagai misal, ketika anda hadir dlm dialog ketuhanan, semua mengatakan bahwa di mana pun Tuhan itu sama, oleh karenanya kita tidak perlu berbeda. Padahal sejujurnya, jika kita mengkaji agama masing-masing maka ditemukanlah sebuah ketegasan dalam konsep ketawhiydan itu ada atau tidak. Bahwa penafsiran ayat Inna-ldiyna ‘indaLlahi-l’Islam versi liberalis Nurchalis Majid menjadi sangat-sangat rancu dan ngawur (demi memaksakan faham pluralisme Barat ke dalam kehidupan beragama) dengan memaknai dan menafsirkan ayat alQur’an s.3/19 tentang al’Islam dengan ma’na : penyerahan-diri, bukan nama-diri (identitas) dari agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw, sehingga menyalahi pema’naan dan pemahaman yang benar, sekaligus membuka peluang bagi faham ajur-ajèr – semua agama sama. Yakni bertentangan dengan pema’naan dan pemahaman jumhur (mayoritas) ‘Ulama’ sepanjang sejarah ; beserta sangsi yang termaktub dalam alQur’an s.3/85 bagi yang mencari agama selain diynu-l’islam
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ – وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Sesungguhnya aldiyn (yang diridhai) disisi Allah adalah diynu-l’Islam ( Qs.3/19 )
Dan barang-siapa mencari (agama) selain diynu-l’islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
(Qs.3/85)

Serialnass ~ anass muhammad
Update 25 Syawal 1432 – 2011

Comment :

Pemikiran Islam di Persimpangan Jalan

Islam tidak bisa dipandang hanya sebagai sekumpulan ritual keagamaan saja, tetapi adalah sebuah sistem yang sempurna meliputi segenap aspek kehidpan manusia, teratur dan bermartabat yang bakal melahirkan sebuah peradaban unggul, yang dikenal oleh sejarah sebagai Peradaban Islam
Substansi terpenting, wujudnya peradaban adalah berkembangnya ilmupengetahuan di segala bidang yg bermanfaat bagi manusia dan lingkungannya. Dan pertumbuhan serta pengembangannya membutuhkan tampilnya komunitas yang proaktif, melibatkan seluruh lapisan masyarakatnya. Dan cikal bakal konsep ilmupengetahuan dalam Islam adalah konsep-konsep kunci yang berada di bawah petunjuk & panduan wahyu yang turun dari Allah Yang maha’aliym meliputi segala sesuatu di seluruh alam semesta ini, dan kemudian ditafsirkan dan diimplementasikan ke dlm berbagai bidang kehidupan dan akhirnya berakumulasi dalam bentuk peradaban yang kukuh dan utuh.
Sementara rapuhnya sebuah peradaban, kemudian runtuh disebabkan semula dari luruh dan rusaknya sumber daya manusianya secara moral, mental, intelektual dan emosional – beruntun saling berinteraksi hingga merosotnya moralitas dan mental penguasa yang diikuti oleh menurunnya kegiatan keilmuan dan lemahnya kepedulian masyarakat terhadap ilmu yang bermanfaat.
Dan stagnannya kegiatan keilmuan ini yang menyebabkan meratanya kebodohan dan kemiskinan yang cenderung berperilaku tidak saling mencegah kemungkaran yang terjadi di tengah elit penguasa dan diikuti oleh aparatnya, cepat atau lambat bakal berujung akhir ke lembah kebinasaan dari sebuah
peradaban yang tidak beradab.
Olehkarena itu, maka membangun kembali peradaban Islam haruslah dimulai dari pengembangan ilmu pengetahuan Islam tentang ‘aqidah kepercayaan & keyakinan hidup, dan disusul oleh keteladanan perilaku bagi orang seorang dan masyarakatnya, agar supaya mampu memberi respon terhadap situasi dan tantangan kebangkitan ataukah keruntuhan yang sedang dihadapinya. Di sinilah berlaku proses perubahan masyarakat yg sangat ditentukan oleh idealism pemikiran para intelektualnya yg memiliki n-achievement unggulan, dan tidak berkhiyanat terhadap ilmunya (yakni, tidak menyerahkan tangan dan kakinya untuk diikat oleh Penguasanya), mereka bersikap mandiri dan benar-benar mendharma-baktikan hidupnya bagi kepentingan kesejahteraan dirinya, keluarga, dan masyarakatnya, yang sudah barang tentu memerlukan keikhlashan demi pengabdian dan ‘ibadahnya kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Dan olehkarenanyalah, maka membangun kembali peradaban Islam tidak dapat dilakukan secara angsuran seenaknya melalui satu dua bidang kehidupan, melainkan merupakan proses bersinergi (operasi gabungan), simultan dan konsisten antara penguasa, aparat dan masyarakatnya dalam melaksanakan program-program pembangunan yang bermanfaat, serta berlakunya amar kema’rufan dan cegah kemunkaran di antara mereka, baik sendiri maupun secara berjamaah.
Maka proyek ini perlu disadari dan didukung bersama sebagai sesuatu yg wajib (fardhu ‘ain) dilaksanakan secara utuh dan menyeluruh, berkesinambungan meski secara bertahap, asal istiqamah, dan merupakan tanggung-jawab yang perlu dibebankan kepada seluruh anggauta masyarakat muslim sesuai dengan tempat dan tingkatan masing-masing. Itulah yang disebut runtun keimanan & keteladanan hidup manusia yg dulu bermula dari bibit seorang muslim yg unggul, tumbuh berkembang ke tengah lingkungan qawmnya hingga menyebar ke wilayah luas di muka bumi, menebarkan rahmatann li-l’alamiyn, kesejahteraan dan kasih-sayang bagi manusia semesta alam.
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
Katakanlah: Setiap orang berbuat menurut syaakilahnya (situasi & kondisi) masing-masing. Maka Rabb-mu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (Qs.17/84)
قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
Katakanlah: Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan tempatmu, sesungguhnya aku pun bekerja (pula), maka kelak kalian akan mengetahui. (Qs.39/39).
Beberapa langkah strategis untuk membangkitkan kembali kejayaan peradaban Islam ialah :
Pertama, memahami sejarah jatuh bangunnya peradaban Islam di masa lalu. Kedua, memahami kondisi umat Islam masa kini dan menginventarisasi masalah atau problematika yang sedang dihadapi ummat, terutama yang bertalian dengan suburnya perpecahan jama’ah yang terkontaminasi oleh doktrin ‘pejah gesang ndèrèk sang ustadz’ pembimbingnya. Dan ketiga adalah memahami kembali konsep-konsep baku dalam Islam yang sudah terhimpun di dalam khazanah ilmu pengetahuan para ‘Ulama’ salaafu-lshaalihiyn maupun ‘Ulama’ di zaman ini yang berpegang teguh pada petunjuk wahyu alQur’an dan Sunnah Nabi-nya, murni tak tercampuri ajaran bid’ah dan khurafat; dan tidak terlibat komoditas sempalan jamaah yang memperjual-belikan kepentingan sektarian (firqah), maupun kedekatannya dengan Penguasa.
Kebangkitan Islam adalah, membangkitkan tradisi keilmuan Islam dengan menggali konsep-konsep penting khazanah ilmupengetahuan Islam dengan mempelajari dan memahami, mengembangkan dan menyebarkannya ke tengah masyarakat secara luas agar dimiliki oleh kaum terpelajarnya yg secara sosial berperan sebagai agen perubahan dan yang secara individual sebagai decision maker. Hal ini juga dimaksudkan agar dengan bekal keilmuan Islam, akan dapat ‘mengadopsi’ dengan kritis konsep-konsep asing yang tidak bertentangan dengan pandangan hidup Islam, sekaligus menolak dengan sadar ide-ide asing yang tidak diperlukan yang diperkirakan bakal meracuni pemikiran ummat.
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Dan hamba-hamba alRahman (Allah) yang mahapemurah itu (ialah) orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah-hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka (sambut dengan) mengucapkan (kata-kata yang mengandung) keselamatan. (Qs.25/63)
Karena konsep-konsep pemikiran dari peradaban asing yang diterapkan ke dalam pemikiran Islam secara tidak kritis (karena kebodohan, atau memang karena adanya perjanjian bilateral tersembunyi antara asing dengan pribumi-liberal) maka akibatnya konsep-konsep pemikiran asing itu akan menjadi dominan dengan segala kebebasannya, bakal menghancurkan peradaban Islam dari dalam lewat beragam cara dan kegiatan terselubung yang diperankan oleh tokoh-tokoh munafiqiyn di kalangan muslimin.
Dan betapa ironisnya, adopsi konsep-konsep secular Barat ke dalam pemikiran Islam telah mengakibatkan kebingungan (confusion) dan kerancuan pemikiran dan pemahaman generasi muda muslim yang terdidik di lembaga-lembaga pendidikan formal (secular) terhadap : apa sebenarnya Islam itu bagi mereka.
Dan jika aktivitas pembaruan keagamaan mengadopsi konsep-konsep Barat seperti itu, maka itulah proses Westernisasi (pem-Barat-an) yang disusupkan ke dalam agar terjadi perapuhan internal atas pemikiran generasi muda ummat ini yang hidup di zaman yang berbeda jauh dari kehidupan generasi-generasi masa silamnya – lagi jauh dari kemurnian ajarannya.
Dan di sinilah para orientalisten Barat berkiprah menfitnah dengan bermacam dusta dan kebohongan yang ditujukan kepada pribadi Nabi saw; melemparkan gagasan busuk untuk memisahkan Sunnah Nabi dari al-Qur’an; di samping mempersoalkan otoritas tafsir unggulan para ‘Ulama’ salafu-lshalihiyn, yang dikagumi orientalist Barat sekaligus dibencinya itu; begitu pun terutama terhadap eksistensi Syari’at Islam. Disamping isu pengingkaran hak-hak perempuan dan isu perbudakan, belum lagi HAM yg mereka patenkan sebagai milik pribadi Barat untuk menindas seenaknya hak asasi bangsa-bangsa under developed countries yang dianggap tidak mematuhi perintahnya.
Kaum Muslimin wajib menguasai bidang sains dan teknologi yang berkembang pesat di Barat sebatas hidup berdampingan yang saling menguntungkan. Tetapi, bukan mengadopsi pandangan hidup Barat yang bersifat sekularistis, liberalistis, hedonistis dan dijadikan sebagai ‘worldview’, memandang Islam dengan anggapan kaum muslimin akan maju jika konsep-konsep Islam disubordinasikan ke dalam pola berpikir Barat – adalah pemikiran yang keblinger alias mau menerima neo kolonialisme Barat tanpa syarat.
Tradisi pemikiran dalam Islam adalah cermin dari pandangan hidup Islam (worldview) yang dinamis, teratur dan rasional yg dipancarkan oleh konsep wahyu alQur’an sebagai diynu-lhaqq/agama yang benar.
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan alhuda (petunjuk alQur’an) dan diyn yang haqqagar dimenangkan-Nya atas segala agama, meski orang-orang musyrik membenci(nya) – Qs.9/33).
Secara teori, pandangan hidup ini lahir dari adanya konsep ilmu pengetahuan dan pengembangannya yang dibentuk dari sistem metafisika Islam yang terutamanya meliputi pengertian tentang kebenaran yang haqq dan realitas yang mutlaq – Ilahukum Ilahunn wahiyd !
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Ilah kalian itu adalah IlahYang Esa. Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ber ‘amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya. (Qs.18/110)
Dalam perspektif pandangan hidup inilah dapat diketahui apakah suatu pemahaman atau penafsiran tentang Islam yang berupa ilmu pengetahuan, filsafat, sains dan lainnya itu benar-benar sesuai dengan Islam dan sejalan dengan pernyataan dan kesimpulan umum, Kebenaran yang Diwahyukan – alQur’anu-lkariym dan Sunnatu-lrasul ?
Dan Jika terdapat penafsiran atau pemahaman yang menyimpang maka perlu dikoreksi dan diteliti ulang, yang dalam tradisi pemikiran Islam, aktifitas koreksi ulang ini berarti tajdiyd atau pembaharuan, dan senantiasa berorientasi pada pemurnian (refinement) yang sifatnya kembali ke ajaran mula diturunkan, yakni wahyu alQur’an dan Sunnah Nabi-Nya dan bukannya mengadopsi pemikiran asing yang bersumber dari pemikiran musyrikiyn, kafiriyn dan para pakar munafiqiyn.
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang beriman (mu’miniyn), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (Qs.4/115)
Kembali kepada ajaran-mula, bukan berarti kembali ke corak fisiknya saja dari kehidupan qawm muslimiyn di zaman Nabi, sehingga mudah terjebak ke dalam banyaknya ‘informasi katanya dan katanya’ yang tidak akurat dan tidak bisa dipertanggung-jawabkan validitasnya, jauh dari kemurnian dan keutuhan konsep yang dulu diajarkan dan diteladankan oleh RasuluLlah saw.
Tajdiyd berimplikasi membebaskan, yakni membebaskan manusia dari belenggu tradisi magis, mitologis dan animistis serta kultur chauvinis atau tradisi-tradisi jahiliyyah lainnya, semisal takliyd (keyakinan dan kepercayaan pada suatu paham/pendapat ahli hukum tanpa mengetahui argumentasi keabsahan daliylnya, sehingga (tanpa disadari) bergelimang ke dalam ajaran bid’ah dan khurafat yang jelas-jelas bertentangan dengan kemurnian ajaran Islam.
Pembebasan manusia dari pengaruh pemikiran sekuler dan bahasanya, dan terhadap dorongan fisiknya yg cenderung ria’ di hadapan manusia dan tidak adil terhadap fitrah kemanusiaannya, menuju pengabdian murni kepada Sang mahapencipta dan pemelihara ‘alam semesta. Dan inilah yang dimaksud dengan : tahriyru-lnas min ‘badati-l’ibad ila ‘ibadatiLlah ~ membebaskan manusia dari memperhambakan diri kpd sesamanya menuju penghambaan diri, ber’ibadah kepada Allah semata, dan tiada lain kecuali demikian !

Serialnass ~ anass muhammad
Update 1432 H 2011.

Comment :

Melintasi Jalur Liberalisme Pembaharuan Agama

Istilah pembaharuan dalam tradisi pemikiran Islam disebut konsep tajdiyd, yakni memurnikan kembali penyimpangan dan pengaburan terhadap diynu-lhaqq – al’Islam oleh ajaran yang terkontaminasi racun beragam doktrin asing yang bersikap konfrontatif terhadap keutuhan dan kemurnian Islam. Dan gerakan tajdiyd ini (yang dahulu dilakukan oleh para ‘Ulama’ salaafu-lshaalihiyn) yang secara konseptual bertolak-angsur dengan apa yang kini dikampanyekan oleh golongan liberalist, yang mereka menyebutnya sebagai pembaruan agama atau ‘gerakan modernisasi agama islam’ – islam buatan kaum Liberal yg tidak mengacu kepada wahyu alQur’an seutuhnya selain merujuk ke pemikiran non-muslim – orientalisten Barat.
Liberalisme itu sendiri berprinsip, bahwa tunduk kepada otoritas, apapun namanya, adalah kontradiksi, bertentangan dengan hak asasi, kebebasan dan harga diri manusia yakni, otoritas yg akar dan aturannya, ukuran dan ketetapannya berada diluar dirinya.
Ujung-ujungnya bermuara ke sophisme dan relativisme, sebuah doktrin yang mengajarkan bahwa, manusia adalah ukuran dari segalanya – sebuah doktrin yang kemudian diunggulkan oleh para penganut nihilisme semacam Nietzsche.
Dalam urusan agama, liberalisme berarti kebebasan menganut, meyakini, dan mengamalkan apa saja sesuai dengan kecenderungan, kemauan, dan selera masing-masing, semau gue. Liberalisme mereduksi agama menjadi urusan privat/prbadi, sehingga konsep amar ma’ruf dan nahi munkar bukan saja dinilai tidak relevan, bahkan dianggap bertentangan dengan semangat liberalisme yang menggusur peran agama dan otoritas wahyu dari wilayah politik, ekonomi, social dan kebudayaan.
Dan di sinilah liberalisme sulit dibedakan dengan secularisme, kekufuran, atau pun kemunafiqan.
Para pakar liberalist atas petunjuk (brain washing) pemikiran Orientalisten Barat telah mendengungkan apa yang disebut ‘pembaruan islam’ atasnama modernisasi agama yang dikampanyekan lewat masmedia maupun lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam, guna meratakan jalan menuju faham sekularisme dan pluralisme, bagian utama dari proyek westernisasi/worldview Barat lewat pemikiran cendekiawan muslim liberalis. Pemikiran dan pesan-pesan yang dijual para tokoh liberalist sebenarnya kurang-lebih sama saja, sama-sama menghendaki ajaran Islam harus disesuaikan dengan perkembangan zaman (situasional).
Begitu pun terhadap alQur’an dan Sunnah Nabi saw mesti dikritisi dan ditafsir-ulang menggunakan pendekatan sejarah, yakni perlunya dilakukan modernisasi dan sekularisasi dalam kehidupan beragama dan bernegara agar tunduk pada kemauan dan aturan pergaulan internasional berlandaskan hak asasi manusia dan pluralisme agama (kembaran dari esensialisme plus sinkretisme) yang tidak jelas juntrungnya selain tunduk dibawah perintah dan kemauan Barat yang sekular.
Sementara sikap seenaknya dan semena-mena dalam beragama sebagaimana yang dikampanyekan oleh pengikut-pengikutnya, tidak lebih dari manifestasi kemunafiqan – di mana seseorang menolak disebut kafir meski dirinya sudah tidak commited lagi pada ajaran agamanya.
Apa yg mereka peroleh dari hasil pendalaman study islamologi versi orientalis tentang penafsiran ‘rahmatann li-l’alamiyn’ lewat reformasi dan restrukturalisasi Syari’at Islam demi pendekatan dan upaya penyesuaian pada ‘standard konstitusionalisme modern’ adalah sangat arrogance dan absurd, jikalau mereka masih ingat identitas kemuslimannya dulu lewat kalimah syahadat yang mereka ulang setiap hari sepanjang hidupnya itu bukan permainan lidah kosong tanpa kesadaran bathin, mental maupun akalnya.
Namun, sejauh mana mereka tidak mampu mengeliminasikan kecenderungan mempertuhankan hawa nafsunya yang berada di bawah jubah modernisasi, di mana kebanyakan manusia ini menuntut kebebasan berfikirnya demi mengabdikan dirinya kepada tuntutan pemenuhan kehendak setan yang bersarang di dlm qalbunya untuk mengendalikan angan-angan fikirannya menyimpang dengan leluasa dari kebenaran.
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ
وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (Qs.4/115 )
Konsep Islam yang berasal dari wahyu alQur’an telah sempurna, tidak memerlukan modernisasi oleh manusia. Karena apa yang mereka dengungkan sebagai modernisasi agama, tidak lebih dari akal-akalan manusia yang tidak sepenuhnya beriman, atau berulang-alik dari keimanan dan kekafiran, dan mengikuti pemikiran Orientalis, memperturutkan diabolisme pemikiran (Iblis) untuk merusak kemurnian diynu-l’islam.
مُّذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَٰلِكَ لَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَلَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا
Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (Qs.4/143 )
Yang diperlukan sekarang adalah penggalian kembali kemurnian konsep-konsep dalam Islam yang termaktub dalam wahyu alQur’an & Sunnah Nabi saw, membersihkan dan memurnikan kembali pengertian dan pemahamannya yang telah tertimbun ke dalam rentang sejarah yang panjang, penuh debu-debu liberalisme yang lahir dari kehamilan gelap antara kemunafiqan dan kekafiran Barat terhadap Islam wa-lmuslimiyn dan dari situlah pula lahirnya para pakar liberal menyebar ke segenap penjuru dunia.
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka berdzikir mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).
Dan janganlah mereka seperti orang-orang yg sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras (membatu). Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasiq.
(Qs.57/16)
Tajdiyd atau pembaharuan adalah konsep yang ada dalam Islam – tidak di Barat. Secara global tajdiyd didefinisikan: pembaharuan atau, pengembaliannya kepada asal mula ajaran ini dulu diwahyukan dengan turunnya wahyu alQur’an dan apa yang diteladankan oleh Sunnah Nabi-Nya sampai Allah Yang maha’aliym menyatakan kesempurnaannya :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai al’Islam itu jadi diyn/agama bagi kalian. (Qs.5/3)
Begitulah, agama ini sejak semula turun diwahyukan hingga berakhirnya dengan pengukuhan Allah akan kesempurnaannya, dan tidak butuh pembaruan oleh manusia. Oleh sebab itu, pembaruan dgn menciptakan ajaran baru, bukan itu yang disebut tajdiyd, tapi justru itu merupakan makar intelektual dan pembusukan terhadap ajaran yang murni.
Tajdiyd atau pembaharuan adalah menghidupkan kembali ajaran Islam, dan memurnikannya sesuai dg diktum wahyu alQur’an & Sunnah Nabi saw, yakni mengembalikan kepada aslinya, membersihkannya dari segala noda dan cacat yang melekat dari ulah manusia (disengaja atau tidak) terhadap kebenaran agama, yakni menyimpang dari kemurnian diyn yang diwahyukan.
Tajdiyd berarti memelihara nash-nash agama secara benar, utuh dan bersih dari bid’ah & khurafat dengan menempuh metode yang benar dalam memahaminya dan memaknai sebagaimana para salaafu-lshaalihiyn. Tajdiyd menjadikan Syari’at agar berlaku dan menguasai segenap aspek dan dimensi kehidupan manusia. Tajdiyd menganalisa secara Islami setiap hal yang baru dan menentukan pandangan Islam terhadapnya sesuai dengan tuntunan dan petunjuk wahyu alQur’an & Sunnah (keteladanan) Nabinya.
Secara epistemologis dan historis, modernisasi adalah bertentangan dan tidak dapat dipersamakan dengan istilah tajdiyd dalam tradisi pemikiran Islam. Modernisasi agama diartikan sebagai pemikiran agama yang berangkat dari keyakinan bahwa, kemajuan sains dan kebudayaan modern menuntut adanya re-interpretasi terhadap ajaran agama klasik sesuai dengan agan-angan pemikiran filsafat, begitulah pemikiran sekuler. Hal ini menunjukkan adanya ruh sekuler yang mengendalikan pemikirannya, dan karenanya tidak pantas menyebut sebagai sebuah pemikiran agama – agama dalam pengertian diynu-lhaqq yang diwahyukan.
Dengan demikian, doktrin utama modernisasi adalah : meletakkan teks wahyu di bawah sains – teks agama harus ditafsir-ulang agar sesuai dengan zaman. Pemikiran ini tidak lain, bukan sekedar mereduksi agama, tetapi pada hakikatnya menggerus ajaran agama sesuai dengan kemauan Iblis di balik pemikiran orientalisten Barat, dan inilah yang dimaksud mempertuhankan hawanafsu yang dianut para pakar liberalist dalam upaya mereka menghujat alQur’an & Sunnah Nabi-Nya, para Shahabat dan ‘Ulama’ salaafu-lshaalihiyn.
Dari sudut pandang wahyu alQur’an, maka jelaslah betapa ‘wajah peradaban dan pemikiran Barat’ adalah sebuah wajah yang secara sempurna mewakili fikrah kemusyrikan dan kekafiran manusia, yang menganggap manusia sebagai ukuran dari segalanya, dan mereka bersujud menyembah hawa-nafsunya sendiri. Dan kini diadopsi dengan latahnya oleh aliran yg mengaku dirinya mewakili islam liberal dalam mempertahankan kebatilannya di antara keimanan dan kekafiran – mudzabdzabiyna bayna dzalik, yakni berulang-alik menuju kerancuan dan kebingungan, dan bakal berakhir dengan kesesatan yang nyata.
Olehkarena itu berhati-hatilah dlm menghadapi hujjah dan argumentasi mereka yang dipandu oleh dusta dan kebohongan dan menghalalkan segala macam cara dalam mempertahankan pendapat dan pemikirannya. Mereka menggusur otoritas wahyu dan peran agama dari wilayah politik, ekonomi dan kemasyarakatan sambil melakukan modernisasi dalam kehidupan beragama dan sekularisasi dalam kehidupan bernegara. Dan mereka menundukkan-diri pada aturan pergaulan internasional yang berlandaskan hak asasi manusia dan pluralisme (versi Barat), dan sudah barang tentu berada di bawah hegemoni dan kepentingan Barat.
Demikianlah, apa yg bisa diharapkan dari liberalisme mereka yg liar melompati segenap pagar & pematang itu selain tetap berlangsungnya perbudakan & penjajahan – neo-kolonialisme & liberalisme di muka bumi ?
Perbudakan dan penjajahan yang berhasil dimodifikasi dan dilestarikan keberlangsungannya di muka bumi atasnama neo-kolonialisme dalam berbagai macam suku cadangnya yang jauh lebih jahat dan zhalim berlipat-lipat berbanding perbudakan di masa jahiliyyah 14 abad yang silam.
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya ? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).
Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ? (Qs.45/23)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian. Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kalian kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. (Qs.5/105)

Serialnass ~ anass muhammad
Update 25 Syawal 1432 H 2011.
Comment :

Rapuhnya System Pendidikan Nasional

Rapuhnya system pendidikan nasional kita merupakan sebuah keprihatinan besar yang menimpa bangsa ini bila saja kita mau mengamati situasi dan kondisi negeri ini sepanjang masa kemerdekaan, betapa keterpurukan dan mushiybah saling menindih kehidupan bernegara dan berbangsa di segala bidang, dari kehidupan politik, ekonomi, social dan penghidupan rakyat di seluruh wilayah nusantara tanpa kecuali yg ujung-ujungnya hampir seluruhnya bermuara ke arah pendidikan masyarakat yang bermasalah.
Landasan pacu untuk mencari ilmu adalah keikhlashan. Berniat mempelajari beragam ilmu dlm rangka meningkatkan iman dan keyakinan kepada Allah subhanaHu wa ta’ala agar ada kesempatan ber’ibadah dan mengabdi kepada-Nya, karena Dia-lah satunya Dzat mahapencipta dan pemelihara alam semesta ~
Yang tiada sekutu bagi-Nya, dan ini hanya bisa dilakukan lewat pintu tunggal : keikhlashan.
Dan seluruh kegiatan menuntut ilmu berikut penjabarannya bukan bertumpu pada nilai-nilai komersial, sosial, budaya, politik, atau tujuan pragmatis sesaat lainnya – meski tanpa mengurangi kepentingan upaya dan ikhtiyar duniawi yang menjadi kewajiban keseharian hidupnya demi mendukung (sarana) pengabdian yang tulus kepada Sang Khaliq.
Bahwa, di pundak kita dibebani amanah : tahriyru-lnas min ‘ibadati-l’ibaad ilaa ‘ibaadatiLlah, ialah membebaskan manusia dari kumawula kepada sesamanya kecuali hanya memperhambakan diri, ber’ibadat kepada Allah semata. Dan utk melaksanakan amanah ini diperlukan suasana keberadaban yang bermartabat. Dan substansi yang terpenting dari wujudnya peradaban adalah berkembangnya ilmu pengetahuan, namun ilmu pengetahuan tidak akan tumbuh dan berkembang tanpa adanya komunitas yang terlibat aktif dalam menumbuhkan, mengembangkan dan menyebar-luaskannya ke tengah masyarakatnya di bawah tanggung-jawab para ‘Ulama’ beserta Uli-l’albabnya, yg masing-masing berjalin berkelindan mema’murkan majlis-majlis ta’liym yang bakal melahirkan ‘ummat teladan’ di tengah masyarakatnya.
Adapun cikal bakal konsep ilmu pengetahuan dalam Islam adalah konsep-konsep kunci dalam wahyu alQur’an yang ditafsirkan ke dalam berbagai bidang kehidupan dan akhirnya berakumulasi dalam bentuk peradaban yang bermartabat, singkatnya peradaban yang beradab, ialah Peradaban Islam.
Sementara disorientasi pendidikan berawal dari proses sekularisasi, yakni aktivitas pendidikan beserta lembaganya mengabdi kepada kepentingan duniawi dengan hilangnya integritas nilai-nilai ta’diyb, yang menunjukkan tiadanya kesatuan fikrah yang utuh sehingga tidak memiliki kemampuan mengenal dirinya sendiri untuk apa sebenarnya dirinya diciptakan di muka bumi ini, di tengah lingkungan hidupnya.
Dan pula, sekularisasi sengaja melepas kesadaran beragama dalam dunia pendidikan :
Pertama, menempatkan dalam skala prioritas rendahan; atau bahkan dihapus sama sekali ilmu-ilmu yang dianggapnya tidak menghasilkan nilai ekonomi. Di fakultas hukum atau fakultas kedokteran, sebagai misal, tidak perlu dikenalkan pelajaran-pelajaran agama, tidak pun mengenal kurikulum pendidikan adab dan akhlaqulkariymah, sehingga kemudian dalam pengamalan ilmu yang dimilikinya nanti cenderung memeras masyarakat (si pesakitan atau pasien) yang membutuhkan jasanya.
Kedua, mengutamakan pencapaian formalitas akademik, yakni keberhasilan siswa yang hanya ditentukan dari hasil nilai ujian yag menjadi ukuran pencapaian ilmunya dg mengutamakan penghafalan tanpa penghayatan dan pelatihan praktis, sehingga cenderung salah-tingkah (canggung dan bingung) dalam penerapan ilmunya kelak di tengah lingkungan masyarakatnya.
Inilah gambaran selintas perihal kecerdasan intelektual yang tidak didukung oleh kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual di tengah kehidupan akademis kita sehingga melahirkan berbagai macam malpraktek, justru yg banyak berasal dari dunia akademisi sendiri yg meresahkan masyararakatnya.
Di samping adanya keterkaitan erat dengan target mengejar keberhasilan (akreditasi) lembaga pendidikan yang mengasuhnya agar sesuai dengan peraturan formal yang berlaku, meskipun sebenarnya jauh dari penjabaran pancasila yang mereka andalkan selama ini utk mengharap terwujudnya bangsa yg bermartabat, namun realitasnya, mereka membiarkan program-program sekularisasi ala Barat berjalan di lembaga-lembaga pendidikan formal di seluruh wilayah nusantara dalam kerangka westernisasi (pem-Barat-an) secara terselubung utk memasarkan ide sekularisai dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
Dampaknya telah sama-sama kita rasakan selama ini, betapa terpuruknya negeri ini di segala bidang, pembangunan politik, ekonomi & keuangan, social & kebudayaan, hukum & peradilan yang bermasalah sejak masa pemerintahan Orderlama, berlanjut ke Ordebaru yang otoriter dan kemudian munculnya orde reformasi yang lebih tidak keruan; di samping mewarisi kebobrokan yang tak terukur dari pemerintahan sebelumnya dan belum menemukan perubahan yang signifikan selain lebih tidak menentunya harapan masadepan negeri dan bangsa ini yg sudah terlanjur babakbelur sekujur badannya terpukul tiada hentinya oleh tingkah laku para penguasa, berikut anggauta dewan perwakilan rakyat dan aparatnya yang terlibat skandal korupsi, belum lagi mubalnya beragam mafia pengadilan, perpajakan dan anggaran, di samping birokrasi yang bertele-tele dengan banyak lubang kesempatan untuk memeras dan diperas.
Semua itu berasal dari system & program pendidikan yang lepas landas dari pangkalan yang tidak jelas, dan menyeberang ke wilayah asing – wa yattabi’ ghayra sabiyli-lmu’miniyn (al’ayat Qs.4/115), yakni mengadopsi secularisme Barat secara mentah dan menerapkannya ke dalam system pendidikan pancasila yg mandul, serba tak menentu arah ke mana anak-anak didik ini akan dibawa selepas pendidikan formalnya di tengah kelamnya harapan masadepan negeri dan bangsa ini.
Dan pembaharuan program pendidikan dengan mengadopsi konsep-konsep Barat secara tidak kritis yang diterapkan ke dalam pemikiran Islam seperti ini akan menjadi dominan, dan yang berkembang adalah proses pembaruan kearah westernisasi (pem-Barat-an), yang berakibat terjadinya kerancuan dan kebingungan (confusion) pemikiran yang merata di kalangan ummat, cepat atau lambat bakal menciderai pengembangan peradaban Islam – disebabkan melesatnya kaki para akademisinya yang menyimpang dari rel yang benar.
Adopsi konsep-konsep Barat yang sekularistis, liberalistis, dan hedonistis itu ke dalam pemikiran muslim, jelas merupakan sebuah pengkhiyatan besar dari para pakar muslim liberalan yang keblinger mengikuti trend modernisme beracun (Barat) yang selama ini mereka kagumi.
Namun, qawm Muslimin wajib mempelajari bidang sains dan teknologi yg bermanfaat yang berkembang pesat di Barat guna mendukung pembaruan management kehidupan duniawi ummat, sehingga tidak mudah dipermainkan oleh strategi neo kolonialisme (asing) maupun kapitalist pribumi yg bernaung di bawah pusat kendali globalisasi dunia ciptaan Barat yang sangat-sangat merugikan kepentingan rakyat dan masyarakat.
Ringkasnya, pandangan hidup Barat tidak sepantasnya diadopsi dan dijadikan sebagai ‘worldview’ (pandangan hidup) untuk memandang Islam, dengan anggapan ‘kaum muslimin akan maju jika konsep-konsep Islam disubordinasikan ke dalam pola rationalisme Barat’, kecuali bakal lebih tertindas oleh kepentingan hegemoni dan adidaya Barat yang lebih banyak menuntut daripada memberi yang sedikit.
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ
وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang beriman (mu’miniyn), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkannya ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (Qs.4/115)
Dan ingat, kehancuran sebuah peradaban disebabkan oleh rusaknya sumber daya manusia, baik secara intelektual maupun moral, maksudnya, betapa kejayaan atau kehancuran suatu bangsa, bahkan setiap individu bermula asbabnya terletak pada rapuhnya program pembinaan akhlaqnya – sejauh mana akhlaq ini berperan-baku dalam pendidikan keseharian hidupnya, di tengah keluarga dan masyarakatnya, ataukah sebenarnya telah pupus tak bersemi di tengah badai peradaban asing yang tidak mengenal adab & akhlaq, selain cuma menghandalkan demokrasi & kebebasan yang amburadul – yang tidak jelas batasnya !
Sebaliknya-apakah peran operasional keseharian adab & akhlaq ini berada di bawah petunjuk dan tuntunan wahyu Ilahy (diynuLlah) sehingga mampu memandu manusia mewujudkan peradaban yang bermartabat dan berakhlaqu-lkariymah dalam kehidupan pribadi, orang seorang di tengah masyarakat, bangsa dan negara, sehingga melahirkan kesejahteraan dan kemakmuran yang merata ?
Yakni, hayatann thayyibatann – kehidupan yang bahagia, fiy-ldunya wa-l’akhirat, meliputi segenap aspek kehidupan insani, yang mereka peroleh dari buah ‘amalann shalihann, perilaku yang shaleh – wa huwa mu’min, dan mereka itu beriman, percaya dan yakin akan kehadiran Allah SubhanaHu wa Ta’ala di setiap
waktu dalam hidupnya sepanjang masa dan tempat ?
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa mengamalkan ‘amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dan dia mu’min (beriman), maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang thayyibah (bahagia); dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Qs.16/97)
Ataukah cuma sebatas etika dan produk kultural manusia sekular (la diyniyyah) yang hanya bertumpu diatas kepentingan mengejar sukses perolehan materi dan kenikmatan sesaat-kini dan tiada peduli-nanti (sesudah menemui kematian hidupnya di bumi) ?
Akhlaqu-lkariymah (budhi pekerti luhur atas petunjuk wahyu) yang menuntun manusia bersikap istiqamah (konsisten) dalam mendorong terwujudnya kema’rufan dan cegah kemunkaran di tengah kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakatnya itu berjalan efektif-bukan sebaliknya, yakni pembiaran terhadap mubalnya kemunkaran dan kema’shiyatan merata di segenap saat dan tempat.
كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
Mereka (secara berjama’ah) saling tidak melarang kemunkaran yang mereka perbuat – sungguh amat buruklah apa yang selalu mereka lakukan (Qs.5/79).
Oleh karena itu, prioritas pertama membangun kembali peradaban Islam haruslah dimulai dari pengembangan ilmu pengetahuan Islam utk mendorong seseorang merespon situasi yg sedang dihadapinya dengan ilmunya yang benar di jalan kebenaran. Di samping itu, perubahan masyarakat sangat ditentukan oleh ide dan pemikiran para pakarnya yang tidak mengkhiyanati amanah ilmunya, dan tidak mengikatkan tangan dan kakinya kepada kehendak penguasanya yang zhalim.
Membangun kembali peradaban Islam tidak dapat dilakukan secara parsial, sepotong-potong untuk tidak disebut sambilan lewat satu dua bidang kehidupan, melainkan harus merupakan proses bersinergi, simultan dan konsisten. Olehkarenanya proyek ini memerlukan kesadaran bersama, secara berjamaah saling mendukung sebagai sesuatu yang wajib dan merupakan tanggung jawab (bersama) dan yang perlu dibebankan kepada seluruh anggota masyarakat muslimin tanpa kecuali.
Tradisi pemikiran dalam Islam adalah cermin dari pandangan hidup Islam (worldview) yang dinamis, teratur dan rasional yang dipancarkan oleh konsep Islam sebagai diynu-lhaqq/agama yang benar.
Dlm perspektif pandangan hidup inilah dapat diketahui apakah suatu penafsiran dan pemahaman serta penghayatannya tentang Islam yang berupa ilmu dan pengetahuan, sains dan lainnya itu benar-benar sesuai dengan Islam dan sejalan dengan pernyataan dan kesimpulan umum Kebenaran yang diwahyukan (revealed truth) yakni, alQur’anu-lkariym ?
Jika terdapat penafsiran atau pemahaman yang tidak lagi sejalan atau bahkan menyimpang maka perlu dikoreksi ulang (ishlah). Dan dalam tradisi pemikiran Islam, aktifitas koreksi ulang ini termasuk lingkup tajdiyd (pembaharuan) dan senantiasa berorientasi pada pemurnian (refinement) yang sifatnya kembali kepada ajaran asal : alQur’an & Sunnah Nabi Muhammad saw. Dan bukan seperti yang kini dilakukan dan diunggulkan oleh kaum liberalist dgn mempertuhankan akal dan berakhir dengan akal-akalan. Dan ulah semacam itu bukanlah pembaruan apalagi tajdiyd, barangkali lebih tepat disebut :
kepanjangan-tangan dari orientalisten Barat untuk membuyarkan kemurnian dan kebenaran diynu-l’islam.
Di sinilah kita temukan jawaban kunci berkenaan dengan posisi niat yang ikhlash yang insya Allah akan mencetak generasi handalan dalam pembangunan bangsa & negara – sementara rapuhnya system pendidikan (yang tidak beradab dan tidak pun berakhlaq) yang bertumpu diatas kepentingan kedisinian dan kekinian melulu bakal melahirkan generasi bunuh-diri lewat berbagai macam perilaku munkar: korupsi, kolusi dan nepotisme secara beruntun, sendiri maupun berjamaah, yg mereka lakukan sepanjang sejarah tanpa mau mengindahkan sunnatuLlah (hukum karma) yang berlaku, dan siap menimpakan hukuman yang setimpal – sengsara bagi pelakunya, keluarga dan masyarakatnya.
Betapa tidak, dari seluruh makhluq di muka bumi, hanya makhluq yang bernama manusia inilah satunya makhluq yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya yang mampu menyerap ilmu dan pengetahuan bagi keperluan hidupnya. Namun bisa juga jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya kecuali yg beriman dan ber’amal-shaleh.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ – ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya –
Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (Qs.95/4-5)
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
Kecuali yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya (Qs.95/6)
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Dan tidaklah mereka disuruh kecuali untuk mengabdi (hanya kepada) Allah dengan ikhlash (memurnikan ketaatan kepada-Nya saja) dalam (menjalankan) diyn yang haniyf (lurus) dan yang demikian itulah diyn yang kukuh. (Qs.98/5)
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
Dan siapakah yang lebih baik diyn-nya daripada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun muhsin (orang yang mengerjakan kebaikan), dan ia mengikuti millat Ibrahiyma haniyfann ?
Dan Allah mengambil Ibrahiym menjadi kesayangan-Nya. (Qs.4/125)
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh (ber-amar) ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah, (Qs.3/110)
Olehkarena itu diperlukan tahapan penting dalam menyusun strategi pembangunan peradaban Islam :
Pertama, menggali, mempelajari dan memahami dengan kritis akan sejarah jatuh-bangunnya peradaban
Islam di masa lalu, agar kita bisa mengambil ‘ibrah dan pelajaran dari padanya.
Kedua, memahami kondisi ummat Islam masakini dan menginventarisasikan permasalahan yang sedang dihadapi ummat terutama berkenaan dengan suburnya perpecahan di kalangan jamaah muslimin yang melumpuhkan sumberdaya ummat untuk bisa membenahi keterbelakangan dan kemundurannya.
Ketiga, mempelajari dan memahami kembali konsep kunci dalam Islam yang terhimpun ke dalam wahyu alQur’an & Sunnah (keteladanan) Nabi saw sebagai acuan baku yang terpadu.
Di samping membangkitkan tradisi keilmuan Islam dengan menjelajahi khazanah ilmu dan pengetahuan Islam dan menyebarkannya, agar dimiliki oleh ummat, terutama kaum terpelajarnya yang secara sosial berperan sebagai agen perubahan, dan secara individual sebagai decision maker kelak – demi membangun masadepan yang lebih baik.
Hal ini agar dgn bekal keilmuan Islam akan dapat ‘mengadopsi’ konsep asing (tehnologi terapan, atau management dll) yang tidak bertentangan dengan pandangan dunia (world view) Islam. Dan di sisi lain bisa menolak dengan sadar dan cerdas terhadap ide dan pemikiran asing yang tidak diperlukan (yang sering terkontaminasi faham yang merusak pemikiran ummat).
alQur’an sendiri dalam berbagai ungkapan menantang intelektualitas muslim dalam upaya memahami kehendak (ajaran)-Nya. Kata terbanyak dalam alQur’an setelah kata Allah itu sendiri adalah kata : ilmu, dlm beragam turunan, sehingga konsekuensi wajar dari semua itu adalah, Islam hanya bisa difahami dan sekaligus diamalkan jika didasarkan atas pemahaman berilmu yang sejati dan utuh (kaffah).
Realita ini berlaku dalam upaya memahami doktrin & ajaran diynu-l’Islam (agama) ini, sehingga setiap orang yang beriman, maupun yang kafir memiliki kebebasan yang sama untuk mencoba memahaminya.
Dan pendekatannya pun beragam, pendekatan spiritual oleh kalangan ahli tasawuf, pendekatan rasional oleh para ilmuwan, pendekatan hukum formal oleh para ahli fiqh dll. Namun pemahaman lewat beragam pendekatan ini, tetaplah mengacu pada main gate Islam – yakni, bergantung pada tuntunan & petunjuk wahyu alQur’an & Sunnah Nabi seutuhnya.
Sejarah membuktikan, betapa RasuluLlah saw telah merubah mental dan perilaku pengikutnya dengan sebuah pendekatan yg didasarkan pada pemahaman dan kesadaran bathin serta fikrah individual, sehingga pada tataran implementasi hukum, semua berjalan atas dasar volunteerisme (kesukarelaan).
Metodologi ini perlu dipikirkan bersama secara serius dan seksama dari sumber pendidikan yg terbaik, ialah apa yang terkandung dalam wahyu alQur’an dan apa yang diteladankan oleh uswah hasanah Nabi saw sebagai panutan baku pendidikan, dlm membimbing manusia menuju keridlaan Ilahy dengan terwujudnya hayatann thayyibah, kehidupan bahagia – kehidupan seorang muslim yang penuh keberkatan.
Sementara dari alur pemikiran ini pula, kita akan mengetahui dan menyadari betapa keterpurukan dan keterbelakangan qawm muslimiyn kini disebabkan oleh perilakunya sendiri, mereka sebenarnya dengan tidak sadar telah membelakangi atau meninggalkan alQur’an, sedikit demi sedikit mundur ke belakang dari tapal batas jihad dengan tidak mengamalkan diynnya dengan benar; dan sebagai gantinya mereka menipu dirinya sendiri dengan menghidup-hidupkan tradisi dan pemikiran jahiliyyah yang kini dikemas ke dalam beragam paket modernisasi kehidupan sekuler (la diyniyyah) yang digandrungi oleh masyarakat menengah keatas, dan dijadikan andalan dan panutan oleh kaum pembaruan agama sekte liberalis.
Sebagai ilustrasi, betapa meriahnya musabaqah tilawatil qur’an diselenggarakan secara nasional dgn dana pembeayaan besar, sebuah tontonan akbar, namun tidak diikuti kegiatan yang bersungguh-sungguh untuk menjabarkan apa yang dilombakan dalam gebyar baca kitab suci itu agar terserap ke dlm kehidupan beragama masyarakat kita, melainkan sekedar penjimatan, disacralkan dan dimuliakan untuk kepentingan formalitas upacara-upacara adat dan tradisi masyarakat atau simbolisme upacara sumpah-jabatan …..
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا (30 : 25)
Berkatalah Rasul : Ya Rabb-ku, sesungguhnya qawmku menjadikan alQur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan.
Serialislam

Serialnass ~ anass muhammad
Update Dzulqa’idah 1432 H 2011

Comment:

Perbedaan Pemikiran dan Pemahaman

Perbedaan Pemikiran dan Pemahaman
Perbedaan pemikiran perihal pemahaman diyn(agama) yang samasama berpegang pada wahyu alQur’an, hendaklah dilandasi keikhlashan dan keshabaran berhujjah, atau bermujadalah : ud’u ila sabiyli Rabbika bi-lhikmati wa-lmaw’izhati-lhasanati wa jadilhum billatiy hiya ahsan ~
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasihat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs.16/125).

Berdebat atau berbincang pemikiran dengan cara yang lebih baik agar supaya ada kesempatan bagi semua fihak untuk saling mawas diri, dan saling mengingatkan kepada yang ma’ruf dan menghindari yang munkar, di samping kesediaan semua fihak mengambil kelebihan ‘ilmu dari siapa pun yang dihadapi dengan segala kerendahan hati :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik ta’wiylnya. (Qs.4/59).
fa in tanaza’tum fiy syay’in farudduhu ila-Llahi wa-lRasuli ~ kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah sesuatunya itu kepada Allah dan Rasul.
Artinya, berpeganglah pada alQur’an dan Sunnatu-lrasul agar supaya kalian terhindar dan tidak tersesat ke jalan pemikiran sekuler (la diyniyyah) semisal pemikiran orientalisten Barat dan para pengikutnya (dari grup modernist & liberalis) yg ciri khashnya cenderung melakukan plintiran, pemutarbalikan fakta dan kebenaran ayat ayat alQur’an untuk menutupi kezhaliman dan kebenciannya thp Islam wa-lmuslimiyn dgn cara mendiskreditkan kerasulan Nabi Muhammad saw.
Olehkarena itu berhati-hatilah, janganlah karena fanatisme golongan dgn segala kepentingannya, maka pencerdasan pemikiran lewat perbedaan-perbedaan pendapat itu justru berubah menjadi ajang plintiran terhadap yang haqq serta pembodohan terhadap pemikirannya sendiri.
Marilah kita bermusyawarah dengan cerdas demi meraih solusi pemecahan masalah yang berbeda di antara kita demi kebenaran dan keridlaan Allah (bukan kerelaan manusia) serta berharapkan keberkatan bersama ~ insya Allah bi hawliLlahi wa quwwatiH.

Seialnass ~ anass muhammad
Update Ramadlan 1432 H 2011