Menurut Prof. Naquib al-Attas, adab adalah disiplin rohani, ‘aqli dan jasmani yang memungkinkan seseorang dan masyarakat mengenal dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dengan benar dan wajar, sehingga menimbulkan keharmonisan dan keadilan dalam diri, masyarakat dan lingkungannya.
Hasil tertinggi dari adab ialah mengenal Allah Swt dan ‘meletakkan’-Nya di tempat-Nya yang wajar dengan melakukan ‘ibadah dan ‘amal shaleh pada peringkat ihsan.
Pembentukan manusia yang beradab adalah tujuan pendidikan Islam. Dan hasil tertinggi dari manusia beradab adalah manusia yang mengenal Allah subhanahu wa ta’ala dan ’meletakkan’-Nya di tempat yang semestinya sebagai Sang mahapencipta, dan satunya Rabb yang wajib disembah dan diibadati.
Tiada Ilah selain Allah adalah penegasan (‘aqiydah) tawhiyduLlah – meng-esa-kan Ilah.
Oleh karena itu, mempersekutukan Allah (syirik) adalah perbuatan yang sangat sangat tidak beradab – sebuah kezhaliman yang besar.
Dalam situasi di mana konsep keilmuan Islam mendapatkan serangan gencar, terutama dari kalangan cendekiawan sendiri tentu menjadi semakin tidak mudah untuk membentuk dan mengenal manusia yang beradab. Tidak mungkin membentuk manusia yang beradab, jika ilmu berikut disiplinnya dirusak sehingga terjadi pembauran antara yang haqq dan yang bathil, antara yang benar dan salah sudah tidak dapat dibedakan lagi. Yang lebih rumit lagi, menyebarkan kebathilan pun berhujjah dg ayat-ayat alQur’an pula.
Mudah-mudahan kita masih diberi kemampuan oleh Allah untuk melihat cahaya kebenaran, betapa pun kecilnya cahaya itu untuk menjadi sesuluh menjauhi kebusukan adab dan akhlaq, karena kebatilan dan kesesatan adalah kegelapan tanpa cahaya kebenaran. Dan ilmu yang benar adalah cahaya yang senantiasa menyinari dan menuntun orang-orang beriman di jalan kebenaran menuju kebenaran sejati.

~ Serialnass
Update 1432 H 2011