Qawmmuslimiyn lewat tangan para ‘Ulama’nya mendudukkan wahyu alQur’an berserta Sunnah Nabi-Nya sebagai sumber induk yang terpadu dalam upaya mereka memahami apa itu diynu-l’islam, dan bagaimananya cara berislam (berserahdiri) secara benar dan utuh (kaaffah) sesuai dengan teladan Sunnah Nabi saw dari informasi para Shahabat-nya, dan generasi berikutnya, para tabi’iyn bersambung tiada putusnya hingga ke generasi sekarang. Dan para ‘Ulama’ ini, yang sudah teruji dan terpercaya di tengah masyarakatnya sebagai mujahidiyn dan mujtahidiyn besar pada zamannya masing-masing telah bersungguh-sungguh mendarma-baktikan hidupnya demi memahami diynu-l’islam melalui penggalian makna yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an, dan yang tertuang ke dalam Sunnah Nabi-Nya.
Meskipun mereka hidup di jaman dan tempat yang berbeda-beda, namun hasil kajian mereka yang dituangkan ke dalam Kitab-kitab Tafsir secara prinsip tidak jauh berbeda. Sementara adanya beberapa silang perbedaan penafsiran di kalangan para ‘Ulama’ salaafu-lshaalihiyn ini pada masa awwal tumbuh berkembangnya pemikiran islami hingga periode generasi berikutnya dan seterusnya lebih bersifat variatif dan bukan kontradiktif. Sebab dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, mereka mengacu pada prinsip dan qa’iydah ‘Ulumu-lQur’an beserta panduan dan keteladanan Sunnah Nabi yang kemudian diwariskan secara terpelihara, turun-temurun berkesinambungan dari generasi ke generasi pelanjutnya hingga masa sekarang.
Inilah yang menyebabkan para ilmuan orientalisten Barat ngiler dan kagum sekaligus membencinya terhadap produk keilmuan Islam dan para ilmuwannya yang begitu canggih menampilkan, mempertahankan dan memelihara kebenaran al’Islam secara ilmiah meski hanya dengan peralatan yg sangat sangat sederhana di masa itu, berbanding dengan kecanggihan peralatan yang dimiliki dunia Barat dalam mempertahankan kebathilan di muka bumi (yang pada hakikatnya terang-terangan atau secara sembunyi memusuhi Islam wa-lmuslimiyn). Yakni, dengan segala cara, mereka sebarkan ‘virus perpecahan’ ke dalam pemikiran para ‘Ulama’, terutamanya di kalangan jamaah menengah ke bawah dengan mempertajam setiap perbedaan penafsiran dan pemahaman yang bertalian dengan Syari’at Islam beserta penjabarannya, sebagai umpan saling menyerang, dan masing-masing menganggap dirinya yang paling benar dan paling islam sendiri hingga lahirlah perpecahan yang berlarut-larut dan mapan sepanjang perjalanan sejarah ummat ini.
Sementara tumbuh dan berkembangnya prinsip kajian alQur’an melalui metode sanad (mata rantai) dari ‘Ulama’-‘ulama’ yang bermartabat senantiasa disandarkan pada konsep wahyu yang termaktub dalam alQur’an dan Sunnah keteladanan Nabi-nya. Landasan sanad yang terbina ini dalam tradisi keilmuan Islam dengan sendirinya tidak memberi ruang bagi berkembangnya beragam paham relativisme dan spekulasi akal-akalan yang tidak bertanggungjawab, apalagi sekedar kontroversi (semisal) versi pemikiran ‘jamaah islam liberal’ yang mengadopsi dan menelan secara mentah produk pemikran orientalisten Barat.
Kembali ke pokok bahasan, landasan sanad tersebut di muka secara konstan terjaga oleh tradisi ilmu yang mengakar kuat dalam masyarakat Islam hingga abad pertengahan. Pusat-pusat pembelajaran seperti masjid, halaqah (lingkar studi), madrasah, dsb selalu dijubeli oleh masyarakat yang haus ilmu. Bahkan di saat-saat kondisi politik sedang kacau dan kerusuhan bermunculan di mana-mana, namun tradisi ilmu tetap berjalan. Dalam suasana seperti itu, tampil sejumlah ‘Ulama’ dan pakar muslim andalan dengan segala integritas dan keikhlashannya berjihad dengan ilmunya dan masih terus bermunculan dlm memberi konstribusi dan dukungan positif bagi terwujudnya peradaban yg beradab, meski harus berhadapan dengan kesemrawutan dan ketidak-menentuan pendapat dan pemahaman agama yang benar maupun yang keliru di kalangan muslimin, di samping permusuhan dan kebencian yang tiada hentinya dari grup musyrikiyn, kafiriyn, dan terutama qawm munafiqiyn.
Begitu pun dewasa ini, di sejumlah lembaga pendidikan Islam di Indonesia masih memegang tradisi sanad dalam mengembangkan studi alQur’an & Sunnah Nabi. Namun di beberapa lembaga pendidikan tinggi Islam yang menda’wahkan dirinya mewakili trend modernitas, justru kondisinya berbanding-balik. Dengan alasan ‘objektivitas ilmiah’, netralitas hasil kajian yang tidak memihak dan menghilangkan nuansa ideologis, begitulah mereka berdalih, maka studi Islam terlebih lagi studi alQur’an dikembangkan secara liar, spekulasi akal yang tidak terarah dan permisif untuk disusupi aneka ‘kira-kira dan katanya’, bukan pendalaman melainkan pendangkalan. Dan mereka dengan ketus menganggap tradisi sanad ketinggalan zaman, dan dianggapnya sebagai produk abad pertengahan yang statis dan bernuansa Islam klasik.
Dan sebagai gantinya, mereka mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang beriman-terpelesat jatuh ke pangkuan pemikiran tokoh-tokoh orientalis yang mereka jadikan rujukan utama dalam studi Islam, yang mendorong mereka untuk berkompromi dengan realitas yang berkembang di masyarakat, dan muncullah al-Quran untuk perempuan, Syari’at berbasis HAM, studi Islam berprespektif gender, Islam yang ‘ramah’ dll, di samping unggulan Pluralisme mereka yg cengeng. Demikianlah, ajaran-ajaran Islam tidak lagi dipandang sebagai acuan dasar dalam memahami realitas, tapi sebaliknya, realitaslah yang dinobatkan berkuasa untuk menentukan corak kekinian-Islamnya.
Begitu takutnya kepada manusia seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat takutnya (Qs.4/77).
Begitu inginnya disebut islam modern, mereka minum beer cap bintang.
Marilah kita baca sejenak signalemen alQur’an surat ke 4/115 :
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ
وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan mu’miniyn, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (Qs.4/115)
وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُون
Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula) – Qs.68/9.
Sebagai misal, mahasiswa digiring dalam study alQur’an lewat jendela samping, yakni berbelok mempelajari situasi dan kondisi historis saat ayat al-Qur’an diwahyukan, dengan metodologi seperti ini mereka berharap mampu mencomot (sebagian) yang sesuai dengan seleranya untuk mengambil pesan moral (yang tidak seutuhnya) sehingga mudah diotak-atik untuk mendukung pola pemikiran secular Barat (yg secara prinsipal bertolak belakang dengan pola pemikiran islami) yang menjadi acuan-bakunya.
Dengan menyimak uraian pendekatan di atas maka ayat-ayat sep. Qs. 2/228- 282, Qs. 4/3-11-34, QS. 33/59, yang biasa mereka tuding sebagai biang kezhaliman dan penindasan terhadap perempuan harus ditafsir-ulang secara kontekstual. Sementara ayat-ayat seperti Qs. 2/187, Qs. 4/124-129, Qs. 9/71, yang mendukung paham kesetaraan gender harus ditafsirkan secara harfiyah (tekstual). Dan inilah trick mereka untuk memaksa ayat-ayat alQur’an tunduk di bawah pemahaman dan kajian orientalisten Barat dalam menghadapi ketegaran qawm muslimiyn yang mempertahankan kesucian dan kebenaran diynu-l’Islam.
Dan berkenaan dgn tujuannya, jika ditelusuri lebih jauh akan berpotensi menolak legal formal aturan Syari’at yang tertuang dalam alQur’an. Karena hal tersebut mereka anggap bukan sebagai substansi dan pesan moral dari sebuah ayat. Asumsi ini dikuatkan dengan penekanan penjelasan tentang kondisi kesejarahan saat ayat-ayat alQur’an diwahyukan pada abad 7M, yang berbeda dengan realitas yang berkembang saat ini.
Ayat-ayat alQur’an yang turun di Makkah (yang diwahyukan sebelum hijrah) bersifat universal, sedangkan ayat-ayat yang turun di Madinah (yang diwahyukan setelah hijrah) yang banyak bertalian dengan masalah hukum Islam dianggapnya bersifat temporal.
Sementara untuk Metodologi Tafsir al-Qur’an, diarahkan mengkaji tafsir gaya Aminah Wadud, seorang tokoh feminis liberal radikal yang tersohor keberaniaannya tampil sebagai khatib dan imam shalat Jum’at dengan jamaah bercampur baur antara lakilaki dan perempuan.
Demikianlah, liberalisasi al-Qur’an tidak dilakukan secara asal-asalan, sebaliknya mewujud sebuah konspirasi (persekongkelan jahat) dan makar tingkat tinggi untuk merusak ajaran Islam dengan cara merapuhkannya dari dalam (secara internal).
Makar liberalisasi ini diprogram secara masif dan sistemik dengan pendanaan besar melalui kurikulum yang siap menghasilkan sarjana-sarjana muslim yang qualified dalam mengelabuhi ma’na ‘aqiydah dan Syari’at, dan betapa rendahnya kadar pemahaman mereka di lingkungan akademisi, jika kalian membaca dengan cermat hasil pendangkalan mereka terhadap kebenaran al’Islam, di antaranya :
Tafsir Kontekstual al-Qur’an – Taufiq Adnan Amal & Syamsu Rizal Panggabean, Toward Understanding Islamic Law – Abdullahi Ahmad al-Naim, al-Kitab wa al-Qur’an – M. Syahrur, al-Risalah al-Saniyah – Mahmood Muhammad Toha, Perempuan Tertindas – Hamim Ilyas, Mafhum al-Nas – Nasr Hamid Abu Zayd, Wanita Dalam al-Qur’an – Aminah Wadud Muhsin.
Dan itulah kajian mereka, merupakan kepanjangan-tangan dari bagian utama strategi Barat mengahadapi musuh utama mereka, ialah : kehadiran dan eksistensi diynu-l’Islam wa-lmuslimiyn di muka bumi.
Akhirnya, perlulah kita renungkan bahwa tujuan memahami wahyu alQur’an seutuhnya adalah guna memudahkan manusia mengabdi, beribadat kepada Dzat Yang menciptakan dan memelihara alam semesta ini, agar setiap desah nafas dan gerak langkah hidupnya terpelihara dari unsur zhulm dan zhalim, yakni terpelihara dari kemusyrikan, yang menempatkan sesuatu bukan pada tempatnya yang benar – demi meraih kehidupan manusia yang bertaqwa dan berakhlaq mulia – mendambakan peringkat : wa innaka la’alaa khuluqinn ‘azhiym ~ sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berakhlaq mulia.
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang mulia. (Qs.68/4).
Agar berkesempatan meningkatkan ketaqwaan kepada Allah, sebenar-benar taqwa kepada-Nya hingga menjemput keakhiran hidup kita salamah dalam keadaan berserah-diri (berislam) kepada-Nya.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan berserah-diri (berislam) kepada-Nya. (Qs.3/102)
Untuk itulah antara lain, Allah menunjuk pribadi Nabi sebagai uswah hasanah, keteladanan unggul seorang Rasul – teladan bagi muslimiyn untuk memahami, mendalami dan menjabarkan ayat-ayat alQur’an dan Sunnahnya ke dalam peri kehidupan keseharian manusia. Dan siapa lagi yang lebih mengerti dalam memahami ayat-ayat alQur’an itu kecuali siapa yang disuruh menyampaikan dan menjelaskannya kepada manusia itu, ialah, Nabi Muhammad saw, sebagaimana termaktub dalam alQur’an, bahwa :
إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ وَمَا أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ مُّبِينٌ
Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan. (Qs.46/9)
Di sinilah Nabi saw diutus untuk menjelaskan alQur’an kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka :
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Dan Kami turunkan kepadamu alQur’an, agar kamu menerangkan pada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan(nya) Qs.16/44.
Di sinilah RasuluLlah saw diposisikan dgn tandas dan jelas sebagai uswah hasanah – teladan yang bagus untuk diteladani dan ditiru bagi yang berharap kerahmatan Allah dan tibanya hari akhir dan banyak-banyak berdzikir, menyebut/mengingat Allah.
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak berdzikir/ingat kepada Allah. (Qs.33/21)
Yakni, Keteladanan Sunnah yg diperlukan untuk memandu proses latihan dan pembelajaran bagi manusia, orang seorang, atau secara berjamaah perihal bagaimananya kehidupan berserah-diri (berislam) yang benar kepada Allah, sesuai dengan apa yang dikendaki oleh turunnya wahyu alQur’anu-lkariym.
Dan dari sinilah pula bisa disidik dengan mudah, aliran dan faham (keagamaan) yang menyimpang dan sesat !

Seriallnass ~ anass muhammad
Update 25 Syawal 1432 H 2011.

Comment :