Rapuhnya system pendidikan nasional kita merupakan sebuah keprihatinan besar yang menimpa bangsa ini bila saja kita mau mengamati situasi dan kondisi negeri ini sepanjang masa kemerdekaan, betapa keterpurukan dan mushiybah saling menindih kehidupan bernegara dan berbangsa di segala bidang, dari kehidupan politik, ekonomi, social dan penghidupan rakyat di seluruh wilayah nusantara tanpa kecuali yg ujung-ujungnya hampir seluruhnya bermuara ke arah pendidikan masyarakat yang bermasalah.
Landasan pacu untuk mencari ilmu adalah keikhlashan. Berniat mempelajari beragam ilmu dlm rangka meningkatkan iman dan keyakinan kepada Allah subhanaHu wa ta’ala agar ada kesempatan ber’ibadah dan mengabdi kepada-Nya, karena Dia-lah satunya Dzat mahapencipta dan pemelihara alam semesta ~
Yang tiada sekutu bagi-Nya, dan ini hanya bisa dilakukan lewat pintu tunggal : keikhlashan.
Dan seluruh kegiatan menuntut ilmu berikut penjabarannya bukan bertumpu pada nilai-nilai komersial, sosial, budaya, politik, atau tujuan pragmatis sesaat lainnya – meski tanpa mengurangi kepentingan upaya dan ikhtiyar duniawi yang menjadi kewajiban keseharian hidupnya demi mendukung (sarana) pengabdian yang tulus kepada Sang Khaliq.
Bahwa, di pundak kita dibebani amanah : tahriyru-lnas min ‘ibadati-l’ibaad ilaa ‘ibaadatiLlah, ialah membebaskan manusia dari kumawula kepada sesamanya kecuali hanya memperhambakan diri, ber’ibadat kepada Allah semata. Dan utk melaksanakan amanah ini diperlukan suasana keberadaban yang bermartabat. Dan substansi yang terpenting dari wujudnya peradaban adalah berkembangnya ilmu pengetahuan, namun ilmu pengetahuan tidak akan tumbuh dan berkembang tanpa adanya komunitas yang terlibat aktif dalam menumbuhkan, mengembangkan dan menyebar-luaskannya ke tengah masyarakatnya di bawah tanggung-jawab para ‘Ulama’ beserta Uli-l’albabnya, yg masing-masing berjalin berkelindan mema’murkan majlis-majlis ta’liym yang bakal melahirkan ‘ummat teladan’ di tengah masyarakatnya.
Adapun cikal bakal konsep ilmu pengetahuan dalam Islam adalah konsep-konsep kunci dalam wahyu alQur’an yang ditafsirkan ke dalam berbagai bidang kehidupan dan akhirnya berakumulasi dalam bentuk peradaban yang bermartabat, singkatnya peradaban yang beradab, ialah Peradaban Islam.
Sementara disorientasi pendidikan berawal dari proses sekularisasi, yakni aktivitas pendidikan beserta lembaganya mengabdi kepada kepentingan duniawi dengan hilangnya integritas nilai-nilai ta’diyb, yang menunjukkan tiadanya kesatuan fikrah yang utuh sehingga tidak memiliki kemampuan mengenal dirinya sendiri untuk apa sebenarnya dirinya diciptakan di muka bumi ini, di tengah lingkungan hidupnya.
Dan pula, sekularisasi sengaja melepas kesadaran beragama dalam dunia pendidikan :
Pertama, menempatkan dalam skala prioritas rendahan; atau bahkan dihapus sama sekali ilmu-ilmu yang dianggapnya tidak menghasilkan nilai ekonomi. Di fakultas hukum atau fakultas kedokteran, sebagai misal, tidak perlu dikenalkan pelajaran-pelajaran agama, tidak pun mengenal kurikulum pendidikan adab dan akhlaqulkariymah, sehingga kemudian dalam pengamalan ilmu yang dimilikinya nanti cenderung memeras masyarakat (si pesakitan atau pasien) yang membutuhkan jasanya.
Kedua, mengutamakan pencapaian formalitas akademik, yakni keberhasilan siswa yang hanya ditentukan dari hasil nilai ujian yag menjadi ukuran pencapaian ilmunya dg mengutamakan penghafalan tanpa penghayatan dan pelatihan praktis, sehingga cenderung salah-tingkah (canggung dan bingung) dalam penerapan ilmunya kelak di tengah lingkungan masyarakatnya.
Inilah gambaran selintas perihal kecerdasan intelektual yang tidak didukung oleh kecerdasan emosional maupun kecerdasan spiritual di tengah kehidupan akademis kita sehingga melahirkan berbagai macam malpraktek, justru yg banyak berasal dari dunia akademisi sendiri yg meresahkan masyararakatnya.
Di samping adanya keterkaitan erat dengan target mengejar keberhasilan (akreditasi) lembaga pendidikan yang mengasuhnya agar sesuai dengan peraturan formal yang berlaku, meskipun sebenarnya jauh dari penjabaran pancasila yang mereka andalkan selama ini utk mengharap terwujudnya bangsa yg bermartabat, namun realitasnya, mereka membiarkan program-program sekularisasi ala Barat berjalan di lembaga-lembaga pendidikan formal di seluruh wilayah nusantara dalam kerangka westernisasi (pem-Barat-an) secara terselubung utk memasarkan ide sekularisai dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
Dampaknya telah sama-sama kita rasakan selama ini, betapa terpuruknya negeri ini di segala bidang, pembangunan politik, ekonomi & keuangan, social & kebudayaan, hukum & peradilan yang bermasalah sejak masa pemerintahan Orderlama, berlanjut ke Ordebaru yang otoriter dan kemudian munculnya orde reformasi yang lebih tidak keruan; di samping mewarisi kebobrokan yang tak terukur dari pemerintahan sebelumnya dan belum menemukan perubahan yang signifikan selain lebih tidak menentunya harapan masadepan negeri dan bangsa ini yg sudah terlanjur babakbelur sekujur badannya terpukul tiada hentinya oleh tingkah laku para penguasa, berikut anggauta dewan perwakilan rakyat dan aparatnya yang terlibat skandal korupsi, belum lagi mubalnya beragam mafia pengadilan, perpajakan dan anggaran, di samping birokrasi yang bertele-tele dengan banyak lubang kesempatan untuk memeras dan diperas.
Semua itu berasal dari system & program pendidikan yang lepas landas dari pangkalan yang tidak jelas, dan menyeberang ke wilayah asing – wa yattabi’ ghayra sabiyli-lmu’miniyn (al’ayat Qs.4/115), yakni mengadopsi secularisme Barat secara mentah dan menerapkannya ke dalam system pendidikan pancasila yg mandul, serba tak menentu arah ke mana anak-anak didik ini akan dibawa selepas pendidikan formalnya di tengah kelamnya harapan masadepan negeri dan bangsa ini.
Dan pembaharuan program pendidikan dengan mengadopsi konsep-konsep Barat secara tidak kritis yang diterapkan ke dalam pemikiran Islam seperti ini akan menjadi dominan, dan yang berkembang adalah proses pembaruan kearah westernisasi (pem-Barat-an), yang berakibat terjadinya kerancuan dan kebingungan (confusion) pemikiran yang merata di kalangan ummat, cepat atau lambat bakal menciderai pengembangan peradaban Islam – disebabkan melesatnya kaki para akademisinya yang menyimpang dari rel yang benar.
Adopsi konsep-konsep Barat yang sekularistis, liberalistis, dan hedonistis itu ke dalam pemikiran muslim, jelas merupakan sebuah pengkhiyatan besar dari para pakar muslim liberalan yang keblinger mengikuti trend modernisme beracun (Barat) yang selama ini mereka kagumi.
Namun, qawm Muslimin wajib mempelajari bidang sains dan teknologi yg bermanfaat yang berkembang pesat di Barat guna mendukung pembaruan management kehidupan duniawi ummat, sehingga tidak mudah dipermainkan oleh strategi neo kolonialisme (asing) maupun kapitalist pribumi yg bernaung di bawah pusat kendali globalisasi dunia ciptaan Barat yang sangat-sangat merugikan kepentingan rakyat dan masyarakat.
Ringkasnya, pandangan hidup Barat tidak sepantasnya diadopsi dan dijadikan sebagai ‘worldview’ (pandangan hidup) untuk memandang Islam, dengan anggapan ‘kaum muslimin akan maju jika konsep-konsep Islam disubordinasikan ke dalam pola rationalisme Barat’, kecuali bakal lebih tertindas oleh kepentingan hegemoni dan adidaya Barat yang lebih banyak menuntut daripada memberi yang sedikit.
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ
وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang beriman (mu’miniyn), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkannya ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (Qs.4/115)
Dan ingat, kehancuran sebuah peradaban disebabkan oleh rusaknya sumber daya manusia, baik secara intelektual maupun moral, maksudnya, betapa kejayaan atau kehancuran suatu bangsa, bahkan setiap individu bermula asbabnya terletak pada rapuhnya program pembinaan akhlaqnya – sejauh mana akhlaq ini berperan-baku dalam pendidikan keseharian hidupnya, di tengah keluarga dan masyarakatnya, ataukah sebenarnya telah pupus tak bersemi di tengah badai peradaban asing yang tidak mengenal adab & akhlaq, selain cuma menghandalkan demokrasi & kebebasan yang amburadul – yang tidak jelas batasnya !
Sebaliknya-apakah peran operasional keseharian adab & akhlaq ini berada di bawah petunjuk dan tuntunan wahyu Ilahy (diynuLlah) sehingga mampu memandu manusia mewujudkan peradaban yang bermartabat dan berakhlaqu-lkariymah dalam kehidupan pribadi, orang seorang di tengah masyarakat, bangsa dan negara, sehingga melahirkan kesejahteraan dan kemakmuran yang merata ?
Yakni, hayatann thayyibatann – kehidupan yang bahagia, fiy-ldunya wa-l’akhirat, meliputi segenap aspek kehidupan insani, yang mereka peroleh dari buah ‘amalann shalihann, perilaku yang shaleh – wa huwa mu’min, dan mereka itu beriman, percaya dan yakin akan kehadiran Allah SubhanaHu wa Ta’ala di setiap
waktu dalam hidupnya sepanjang masa dan tempat ?
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa mengamalkan ‘amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dan dia mu’min (beriman), maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang thayyibah (bahagia); dan sungguh akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Qs.16/97)
Ataukah cuma sebatas etika dan produk kultural manusia sekular (la diyniyyah) yang hanya bertumpu diatas kepentingan mengejar sukses perolehan materi dan kenikmatan sesaat-kini dan tiada peduli-nanti (sesudah menemui kematian hidupnya di bumi) ?
Akhlaqu-lkariymah (budhi pekerti luhur atas petunjuk wahyu) yang menuntun manusia bersikap istiqamah (konsisten) dalam mendorong terwujudnya kema’rufan dan cegah kemunkaran di tengah kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakatnya itu berjalan efektif-bukan sebaliknya, yakni pembiaran terhadap mubalnya kemunkaran dan kema’shiyatan merata di segenap saat dan tempat.
كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
Mereka (secara berjama’ah) saling tidak melarang kemunkaran yang mereka perbuat – sungguh amat buruklah apa yang selalu mereka lakukan (Qs.5/79).
Oleh karena itu, prioritas pertama membangun kembali peradaban Islam haruslah dimulai dari pengembangan ilmu pengetahuan Islam utk mendorong seseorang merespon situasi yg sedang dihadapinya dengan ilmunya yang benar di jalan kebenaran. Di samping itu, perubahan masyarakat sangat ditentukan oleh ide dan pemikiran para pakarnya yang tidak mengkhiyanati amanah ilmunya, dan tidak mengikatkan tangan dan kakinya kepada kehendak penguasanya yang zhalim.
Membangun kembali peradaban Islam tidak dapat dilakukan secara parsial, sepotong-potong untuk tidak disebut sambilan lewat satu dua bidang kehidupan, melainkan harus merupakan proses bersinergi, simultan dan konsisten. Olehkarenanya proyek ini memerlukan kesadaran bersama, secara berjamaah saling mendukung sebagai sesuatu yang wajib dan merupakan tanggung jawab (bersama) dan yang perlu dibebankan kepada seluruh anggota masyarakat muslimin tanpa kecuali.
Tradisi pemikiran dalam Islam adalah cermin dari pandangan hidup Islam (worldview) yang dinamis, teratur dan rasional yang dipancarkan oleh konsep Islam sebagai diynu-lhaqq/agama yang benar.
Dlm perspektif pandangan hidup inilah dapat diketahui apakah suatu penafsiran dan pemahaman serta penghayatannya tentang Islam yang berupa ilmu dan pengetahuan, sains dan lainnya itu benar-benar sesuai dengan Islam dan sejalan dengan pernyataan dan kesimpulan umum Kebenaran yang diwahyukan (revealed truth) yakni, alQur’anu-lkariym ?
Jika terdapat penafsiran atau pemahaman yang tidak lagi sejalan atau bahkan menyimpang maka perlu dikoreksi ulang (ishlah). Dan dalam tradisi pemikiran Islam, aktifitas koreksi ulang ini termasuk lingkup tajdiyd (pembaharuan) dan senantiasa berorientasi pada pemurnian (refinement) yang sifatnya kembali kepada ajaran asal : alQur’an & Sunnah Nabi Muhammad saw. Dan bukan seperti yang kini dilakukan dan diunggulkan oleh kaum liberalist dgn mempertuhankan akal dan berakhir dengan akal-akalan. Dan ulah semacam itu bukanlah pembaruan apalagi tajdiyd, barangkali lebih tepat disebut :
kepanjangan-tangan dari orientalisten Barat untuk membuyarkan kemurnian dan kebenaran diynu-l’islam.
Di sinilah kita temukan jawaban kunci berkenaan dengan posisi niat yang ikhlash yang insya Allah akan mencetak generasi handalan dalam pembangunan bangsa & negara – sementara rapuhnya system pendidikan (yang tidak beradab dan tidak pun berakhlaq) yang bertumpu diatas kepentingan kedisinian dan kekinian melulu bakal melahirkan generasi bunuh-diri lewat berbagai macam perilaku munkar: korupsi, kolusi dan nepotisme secara beruntun, sendiri maupun berjamaah, yg mereka lakukan sepanjang sejarah tanpa mau mengindahkan sunnatuLlah (hukum karma) yang berlaku, dan siap menimpakan hukuman yang setimpal – sengsara bagi pelakunya, keluarga dan masyarakatnya.
Betapa tidak, dari seluruh makhluq di muka bumi, hanya makhluq yang bernama manusia inilah satunya makhluq yang diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya yang mampu menyerap ilmu dan pengetahuan bagi keperluan hidupnya. Namun bisa juga jatuh ke tempat yang serendah-rendahnya kecuali yg beriman dan ber’amal-shaleh.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ – ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya –
Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (Qs.95/4-5)
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
Kecuali yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya (Qs.95/6)
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Dan tidaklah mereka disuruh kecuali untuk mengabdi (hanya kepada) Allah dengan ikhlash (memurnikan ketaatan kepada-Nya saja) dalam (menjalankan) diyn yang haniyf (lurus) dan yang demikian itulah diyn yang kukuh. (Qs.98/5)
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
Dan siapakah yang lebih baik diyn-nya daripada orang yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun muhsin (orang yang mengerjakan kebaikan), dan ia mengikuti millat Ibrahiyma haniyfann ?
Dan Allah mengambil Ibrahiym menjadi kesayangan-Nya. (Qs.4/125)
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh (ber-amar) ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah, (Qs.3/110)
Olehkarena itu diperlukan tahapan penting dalam menyusun strategi pembangunan peradaban Islam :
Pertama, menggali, mempelajari dan memahami dengan kritis akan sejarah jatuh-bangunnya peradaban
Islam di masa lalu, agar kita bisa mengambil ‘ibrah dan pelajaran dari padanya.
Kedua, memahami kondisi ummat Islam masakini dan menginventarisasikan permasalahan yang sedang dihadapi ummat terutama berkenaan dengan suburnya perpecahan di kalangan jamaah muslimin yang melumpuhkan sumberdaya ummat untuk bisa membenahi keterbelakangan dan kemundurannya.
Ketiga, mempelajari dan memahami kembali konsep kunci dalam Islam yang terhimpun ke dalam wahyu alQur’an & Sunnah (keteladanan) Nabi saw sebagai acuan baku yang terpadu.
Di samping membangkitkan tradisi keilmuan Islam dengan menjelajahi khazanah ilmu dan pengetahuan Islam dan menyebarkannya, agar dimiliki oleh ummat, terutama kaum terpelajarnya yang secara sosial berperan sebagai agen perubahan, dan secara individual sebagai decision maker kelak – demi membangun masadepan yang lebih baik.
Hal ini agar dgn bekal keilmuan Islam akan dapat ‘mengadopsi’ konsep asing (tehnologi terapan, atau management dll) yang tidak bertentangan dengan pandangan dunia (world view) Islam. Dan di sisi lain bisa menolak dengan sadar dan cerdas terhadap ide dan pemikiran asing yang tidak diperlukan (yang sering terkontaminasi faham yang merusak pemikiran ummat).
alQur’an sendiri dalam berbagai ungkapan menantang intelektualitas muslim dalam upaya memahami kehendak (ajaran)-Nya. Kata terbanyak dalam alQur’an setelah kata Allah itu sendiri adalah kata : ilmu, dlm beragam turunan, sehingga konsekuensi wajar dari semua itu adalah, Islam hanya bisa difahami dan sekaligus diamalkan jika didasarkan atas pemahaman berilmu yang sejati dan utuh (kaffah).
Realita ini berlaku dalam upaya memahami doktrin & ajaran diynu-l’Islam (agama) ini, sehingga setiap orang yang beriman, maupun yang kafir memiliki kebebasan yang sama untuk mencoba memahaminya.
Dan pendekatannya pun beragam, pendekatan spiritual oleh kalangan ahli tasawuf, pendekatan rasional oleh para ilmuwan, pendekatan hukum formal oleh para ahli fiqh dll. Namun pemahaman lewat beragam pendekatan ini, tetaplah mengacu pada main gate Islam – yakni, bergantung pada tuntunan & petunjuk wahyu alQur’an & Sunnah Nabi seutuhnya.
Sejarah membuktikan, betapa RasuluLlah saw telah merubah mental dan perilaku pengikutnya dengan sebuah pendekatan yg didasarkan pada pemahaman dan kesadaran bathin serta fikrah individual, sehingga pada tataran implementasi hukum, semua berjalan atas dasar volunteerisme (kesukarelaan).
Metodologi ini perlu dipikirkan bersama secara serius dan seksama dari sumber pendidikan yg terbaik, ialah apa yang terkandung dalam wahyu alQur’an dan apa yang diteladankan oleh uswah hasanah Nabi saw sebagai panutan baku pendidikan, dlm membimbing manusia menuju keridlaan Ilahy dengan terwujudnya hayatann thayyibah, kehidupan bahagia – kehidupan seorang muslim yang penuh keberkatan.
Sementara dari alur pemikiran ini pula, kita akan mengetahui dan menyadari betapa keterpurukan dan keterbelakangan qawm muslimiyn kini disebabkan oleh perilakunya sendiri, mereka sebenarnya dengan tidak sadar telah membelakangi atau meninggalkan alQur’an, sedikit demi sedikit mundur ke belakang dari tapal batas jihad dengan tidak mengamalkan diynnya dengan benar; dan sebagai gantinya mereka menipu dirinya sendiri dengan menghidup-hidupkan tradisi dan pemikiran jahiliyyah yang kini dikemas ke dalam beragam paket modernisasi kehidupan sekuler (la diyniyyah) yang digandrungi oleh masyarakat menengah keatas, dan dijadikan andalan dan panutan oleh kaum pembaruan agama sekte liberalis.
Sebagai ilustrasi, betapa meriahnya musabaqah tilawatil qur’an diselenggarakan secara nasional dgn dana pembeayaan besar, sebuah tontonan akbar, namun tidak diikuti kegiatan yang bersungguh-sungguh untuk menjabarkan apa yang dilombakan dalam gebyar baca kitab suci itu agar terserap ke dlm kehidupan beragama masyarakat kita, melainkan sekedar penjimatan, disacralkan dan dimuliakan untuk kepentingan formalitas upacara-upacara adat dan tradisi masyarakat atau simbolisme upacara sumpah-jabatan …..
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا (30 : 25)
Berkatalah Rasul : Ya Rabb-ku, sesungguhnya qawmku menjadikan alQur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan.
Serialislam

Serialnass ~ anass muhammad
Update Dzulqa’idah 1432 H 2011

Comment: