Istilah pembaharuan dalam tradisi pemikiran Islam disebut konsep tajdiyd, yakni memurnikan kembali penyimpangan dan pengaburan terhadap diynu-lhaqq – al’Islam oleh ajaran yang terkontaminasi racun beragam doktrin asing yang bersikap konfrontatif terhadap keutuhan dan kemurnian Islam. Dan gerakan tajdiyd ini (yang dahulu dilakukan oleh para ‘Ulama’ salaafu-lshaalihiyn) yang secara konseptual bertolak-angsur dengan apa yang kini dikampanyekan oleh golongan liberalist, yang mereka menyebutnya sebagai pembaruan agama atau ‘gerakan modernisasi agama islam’ – islam buatan kaum Liberal yg tidak mengacu kepada wahyu alQur’an seutuhnya selain merujuk ke pemikiran non-muslim – orientalisten Barat.
Liberalisme itu sendiri berprinsip, bahwa tunduk kepada otoritas, apapun namanya, adalah kontradiksi, bertentangan dengan hak asasi, kebebasan dan harga diri manusia yakni, otoritas yg akar dan aturannya, ukuran dan ketetapannya berada diluar dirinya.
Ujung-ujungnya bermuara ke sophisme dan relativisme, sebuah doktrin yang mengajarkan bahwa, manusia adalah ukuran dari segalanya – sebuah doktrin yang kemudian diunggulkan oleh para penganut nihilisme semacam Nietzsche.
Dalam urusan agama, liberalisme berarti kebebasan menganut, meyakini, dan mengamalkan apa saja sesuai dengan kecenderungan, kemauan, dan selera masing-masing, semau gue. Liberalisme mereduksi agama menjadi urusan privat/prbadi, sehingga konsep amar ma’ruf dan nahi munkar bukan saja dinilai tidak relevan, bahkan dianggap bertentangan dengan semangat liberalisme yang menggusur peran agama dan otoritas wahyu dari wilayah politik, ekonomi, social dan kebudayaan.
Dan di sinilah liberalisme sulit dibedakan dengan secularisme, kekufuran, atau pun kemunafiqan.
Para pakar liberalist atas petunjuk (brain washing) pemikiran Orientalisten Barat telah mendengungkan apa yang disebut ‘pembaruan islam’ atasnama modernisasi agama yang dikampanyekan lewat masmedia maupun lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam, guna meratakan jalan menuju faham sekularisme dan pluralisme, bagian utama dari proyek westernisasi/worldview Barat lewat pemikiran cendekiawan muslim liberalis. Pemikiran dan pesan-pesan yang dijual para tokoh liberalist sebenarnya kurang-lebih sama saja, sama-sama menghendaki ajaran Islam harus disesuaikan dengan perkembangan zaman (situasional).
Begitu pun terhadap alQur’an dan Sunnah Nabi saw mesti dikritisi dan ditafsir-ulang menggunakan pendekatan sejarah, yakni perlunya dilakukan modernisasi dan sekularisasi dalam kehidupan beragama dan bernegara agar tunduk pada kemauan dan aturan pergaulan internasional berlandaskan hak asasi manusia dan pluralisme agama (kembaran dari esensialisme plus sinkretisme) yang tidak jelas juntrungnya selain tunduk dibawah perintah dan kemauan Barat yang sekular.
Sementara sikap seenaknya dan semena-mena dalam beragama sebagaimana yang dikampanyekan oleh pengikut-pengikutnya, tidak lebih dari manifestasi kemunafiqan – di mana seseorang menolak disebut kafir meski dirinya sudah tidak commited lagi pada ajaran agamanya.
Apa yg mereka peroleh dari hasil pendalaman study islamologi versi orientalis tentang penafsiran ‘rahmatann li-l’alamiyn’ lewat reformasi dan restrukturalisasi Syari’at Islam demi pendekatan dan upaya penyesuaian pada ‘standard konstitusionalisme modern’ adalah sangat arrogance dan absurd, jikalau mereka masih ingat identitas kemuslimannya dulu lewat kalimah syahadat yang mereka ulang setiap hari sepanjang hidupnya itu bukan permainan lidah kosong tanpa kesadaran bathin, mental maupun akalnya.
Namun, sejauh mana mereka tidak mampu mengeliminasikan kecenderungan mempertuhankan hawa nafsunya yang berada di bawah jubah modernisasi, di mana kebanyakan manusia ini menuntut kebebasan berfikirnya demi mengabdikan dirinya kepada tuntutan pemenuhan kehendak setan yang bersarang di dlm qalbunya untuk mengendalikan angan-angan fikirannya menyimpang dengan leluasa dari kebenaran.
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ
وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (Qs.4/115 )
Konsep Islam yang berasal dari wahyu alQur’an telah sempurna, tidak memerlukan modernisasi oleh manusia. Karena apa yang mereka dengungkan sebagai modernisasi agama, tidak lebih dari akal-akalan manusia yang tidak sepenuhnya beriman, atau berulang-alik dari keimanan dan kekafiran, dan mengikuti pemikiran Orientalis, memperturutkan diabolisme pemikiran (Iblis) untuk merusak kemurnian diynu-l’islam.
مُّذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَٰلِكَ لَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَلَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا
Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (Qs.4/143 )
Yang diperlukan sekarang adalah penggalian kembali kemurnian konsep-konsep dalam Islam yang termaktub dalam wahyu alQur’an & Sunnah Nabi saw, membersihkan dan memurnikan kembali pengertian dan pemahamannya yang telah tertimbun ke dalam rentang sejarah yang panjang, penuh debu-debu liberalisme yang lahir dari kehamilan gelap antara kemunafiqan dan kekafiran Barat terhadap Islam wa-lmuslimiyn dan dari situlah pula lahirnya para pakar liberal menyebar ke segenap penjuru dunia.
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka berdzikir mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka).
Dan janganlah mereka seperti orang-orang yg sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras (membatu). Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasiq.
(Qs.57/16)
Tajdiyd atau pembaharuan adalah konsep yang ada dalam Islam – tidak di Barat. Secara global tajdiyd didefinisikan: pembaharuan atau, pengembaliannya kepada asal mula ajaran ini dulu diwahyukan dengan turunnya wahyu alQur’an dan apa yang diteladankan oleh Sunnah Nabi-Nya sampai Allah Yang maha’aliym menyatakan kesempurnaannya :
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai al’Islam itu jadi diyn/agama bagi kalian. (Qs.5/3)
Begitulah, agama ini sejak semula turun diwahyukan hingga berakhirnya dengan pengukuhan Allah akan kesempurnaannya, dan tidak butuh pembaruan oleh manusia. Oleh sebab itu, pembaruan dgn menciptakan ajaran baru, bukan itu yang disebut tajdiyd, tapi justru itu merupakan makar intelektual dan pembusukan terhadap ajaran yang murni.
Tajdiyd atau pembaharuan adalah menghidupkan kembali ajaran Islam, dan memurnikannya sesuai dg diktum wahyu alQur’an & Sunnah Nabi saw, yakni mengembalikan kepada aslinya, membersihkannya dari segala noda dan cacat yang melekat dari ulah manusia (disengaja atau tidak) terhadap kebenaran agama, yakni menyimpang dari kemurnian diyn yang diwahyukan.
Tajdiyd berarti memelihara nash-nash agama secara benar, utuh dan bersih dari bid’ah & khurafat dengan menempuh metode yang benar dalam memahaminya dan memaknai sebagaimana para salaafu-lshaalihiyn. Tajdiyd menjadikan Syari’at agar berlaku dan menguasai segenap aspek dan dimensi kehidupan manusia. Tajdiyd menganalisa secara Islami setiap hal yang baru dan menentukan pandangan Islam terhadapnya sesuai dengan tuntunan dan petunjuk wahyu alQur’an & Sunnah (keteladanan) Nabinya.
Secara epistemologis dan historis, modernisasi adalah bertentangan dan tidak dapat dipersamakan dengan istilah tajdiyd dalam tradisi pemikiran Islam. Modernisasi agama diartikan sebagai pemikiran agama yang berangkat dari keyakinan bahwa, kemajuan sains dan kebudayaan modern menuntut adanya re-interpretasi terhadap ajaran agama klasik sesuai dengan agan-angan pemikiran filsafat, begitulah pemikiran sekuler. Hal ini menunjukkan adanya ruh sekuler yang mengendalikan pemikirannya, dan karenanya tidak pantas menyebut sebagai sebuah pemikiran agama – agama dalam pengertian diynu-lhaqq yang diwahyukan.
Dengan demikian, doktrin utama modernisasi adalah : meletakkan teks wahyu di bawah sains – teks agama harus ditafsir-ulang agar sesuai dengan zaman. Pemikiran ini tidak lain, bukan sekedar mereduksi agama, tetapi pada hakikatnya menggerus ajaran agama sesuai dengan kemauan Iblis di balik pemikiran orientalisten Barat, dan inilah yang dimaksud mempertuhankan hawanafsu yang dianut para pakar liberalist dalam upaya mereka menghujat alQur’an & Sunnah Nabi-Nya, para Shahabat dan ‘Ulama’ salaafu-lshaalihiyn.
Dari sudut pandang wahyu alQur’an, maka jelaslah betapa ‘wajah peradaban dan pemikiran Barat’ adalah sebuah wajah yang secara sempurna mewakili fikrah kemusyrikan dan kekafiran manusia, yang menganggap manusia sebagai ukuran dari segalanya, dan mereka bersujud menyembah hawa-nafsunya sendiri. Dan kini diadopsi dengan latahnya oleh aliran yg mengaku dirinya mewakili islam liberal dalam mempertahankan kebatilannya di antara keimanan dan kekafiran – mudzabdzabiyna bayna dzalik, yakni berulang-alik menuju kerancuan dan kebingungan, dan bakal berakhir dengan kesesatan yang nyata.
Olehkarena itu berhati-hatilah dlm menghadapi hujjah dan argumentasi mereka yang dipandu oleh dusta dan kebohongan dan menghalalkan segala macam cara dalam mempertahankan pendapat dan pemikirannya. Mereka menggusur otoritas wahyu dan peran agama dari wilayah politik, ekonomi dan kemasyarakatan sambil melakukan modernisasi dalam kehidupan beragama dan sekularisasi dalam kehidupan bernegara. Dan mereka menundukkan-diri pada aturan pergaulan internasional yang berlandaskan hak asasi manusia dan pluralisme (versi Barat), dan sudah barang tentu berada di bawah hegemoni dan kepentingan Barat.
Demikianlah, apa yg bisa diharapkan dari liberalisme mereka yg liar melompati segenap pagar & pematang itu selain tetap berlangsungnya perbudakan & penjajahan – neo-kolonialisme & liberalisme di muka bumi ?
Perbudakan dan penjajahan yang berhasil dimodifikasi dan dilestarikan keberlangsungannya di muka bumi atasnama neo-kolonialisme dalam berbagai macam suku cadangnya yang jauh lebih jahat dan zhalim berlipat-lipat berbanding perbudakan di masa jahiliyyah 14 abad yang silam.
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya ? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).
Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ? (Qs.45/23)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian. Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kalian kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. (Qs.5/105)

Serialnass ~ anass muhammad
Update 25 Syawal 1432 H 2011.
Comment :