Pola Pemikiran Akrobatik Sekte Liberalist
ذَٰلِكُم بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ لَايُخْرَجُونَ مِنْهَاوَلَاهُم يُسْتَعْتَبُونَ
Yang demikian itu, karena sesungguhnya kalian menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kalian telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat (Qs.45/35).
al’Islam (atau Islam) adalah diynu-Llah, agama yang diwahyukan lewat malaikat Jibriyl kepada seorang Muhammad bin ‘AbdiLlah selaku Nabi & Rasul, empatbelas abad yang lalu di lembah Makkah alMukarramah, Jazirah ‘Arab Saudi sekarang. Pernyataan pengesahannya sebagai agama resmi termaktub dalam alQur’an :
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ – وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Sesungguhnya diyn/agama disisi Allah ialah al’Islam –
Dan barangsiapa mencari agama selain al’Islam, maka tidaklah diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Qs.3/19 – 85)
Bahwa, mencari agama selain Islam adalah jelas tertolak, Allah tidak akan menerimanya. Sedang yang sering terjadi di tengah masyarakat muslim maupun non-muslim di masa sekarang, bukanlah mencari agama selain Islam, tetapi memodifikasi, melakukan perubahan terhadap Islam agar sesuai dgn situasi & kondisi masyarakatnya yang berubah-rubah sehingga memerlukan apa yang mereka sebut sebagai pembaruan agama meski harus menyimpang dari kemurnian dan keasliannya.
Seperti yang dilakukan oleh golongan sekte liberal, dalam menda’wahkan ide pembaruan agama sesuai dengan penafsiran dan pemahaman akalnya atas restu pakar-pakar Orientalisten Barat dan murid-muridnya yang tersebar di segenap lembaga perguruan tinggi agama islam yang berkepentingan memposisikan Islam ke dalam konsep modernisasi kehidupan kaum muslimin sesuai dengan konsep pemikiran/world view Barat.
Merekalah yang berdalih, memberlakukan Syari’at Islam akan membawa kemunduran, keterbelakangan dan terisolir dari pergaulan internasional. Anggapan seperti ini dari produk pemikiran liberal jelas menunjukkan pengkhiyanatan terhadap Islam kalau masih mengaku dirinya muslim, melainkan barangkali karena indoktrinasi beracun (stadium tinggi) yang dijejalkan lewat ‘kajian-kajian ilmiah mereka’ berhasil membius ‘aqiydah dan keyakinan mereka.
Mengapa hal ini memerlukan perhatian yang serius menghadapi ‘serangan fajar’ yang sering dilakukan oleh sekte liberalist dalam operasi-gabungan mereka untuk merusak atau menciderai kemurnian diynu-l’Islam yang berada sepenuhnya di bawah kendali wahyu alQur’an & Sunnah Nabi-nya ? Mereka tiada hentinya bertingkah macam-macam yang kontroversial untuk merapuhkan ‘aqiydah dan keyakinan qawm muslimiyn akan kebenaran dan kesucian diynnya agar berbalik dengan sukarela mau mengkhiyanatinya.
Diynu-l’islam adalah agama yang telah sempurna yang bersumber dari wahyu dan tidak butuh pembaruan maupun modifikasi oleh manusia. Betapa zhalim dan bodohnya manusia ini dgn kesombongannya merasa bisa memperbaharui atau memodifikasi wahyu Ilahy.
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangatlah zhalim dan bodoh. (Qs.33/72)
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Hari ini Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku dan Aku ridla bagi kalian al’Islam sebagai agama (Qs.5/3).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kalian kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. (Qs.5/105)
Olehkarenna itu, diynu-l’islam atau agama Islam berkepentingan sesuai dengan misinya utk menuntun dan menguji segenap bentuk perilaku manusia agar tunduk dan taat mengikuti kebenaran yg diwahyukan Allah, Sang mahapencipta & pemelihara alam semesta, dan tidak mengikuti hawanafsu mereka. Agar supaya dengan demikian manusia mampu berperilaku tradisional dan kultural yang beradab dan bermartabat dalam kehidupan kesehariannya pada lingkup pribadi, orang seorang dan di tengah lingkungan masyarakatnya sepanjang tuntunan wahyu dan teladan uswah hasanah RasuluLlah saw.
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
Dan Kami telah turunkan kepadamu alQur’an dengan haqq/kebenaran, membenarkan Kitab-kitab (yang turun sebelumnya) dan menguji atasnya, maka hukumlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Bagi setiap ummat diantara kalian, Kami berikan peraturan/syari’at dan jalan yang terang (Qs.5/48)
Masalah-masalah hukum pidana (qishas, potong tangan yang disebutkan oleh ayat alQur’an dan rajam oleh Hadits) adalah masalah-masalah qath’iy, jelas dan tidak meragukan. Sebagai seorang muslim yang sejati, ijtihad dalam hal-hal yang digariskan oleh alQur’an & Sunnah Nabi-Nya adalah wajar, tetapi bukan untuk mengingkarinya, melainkan mencari formulasi praktis dalam upaya melakukannya.
Sementara golongan sekte liberal dan pengikut-pengikutnya, berijtihad justeru untuk menafikan eksistensinya, mencari-cari peluang untuk melakukan plintiran terthadap ayat-ayat mutasyabbihat, konteks dan korelasi yang tidak kena, atau lari ke analisis historis ayat-ayat itu diturunkan di masa doeloe sekedar dalih dan alasan menerbitkan tafsir atau pemahaman yg kontroversial menurut akalnya sehingga mudah membuat kerancuan faham dan kebingungan di kalangan muslimin dalam memahami dan melaksanakan ajaran agamanya.
Dan inilah bentuk ijtihad tanpa disiplin ilmu yang baku, yang tidak bertanggung jawab karena ditempatkan pada tempat yang tidak proporsional, bukan pada tempat yang benar atau di tempat yang keliru (tidak harmonis, tidak berimbang), bahkan liar, memperturutkan kemauan akal dan hawa nafsunya sendiri sesuai dengan pesanan …. yang sudah diatur (direkayasa) dari sononya !
Sebagai ilustrasi, adalah pernyataan sekte liberal yang kontradiktif sebagai berikut :
Di satu sisi mengakui bahwa, Rasulullah saw adalah uswah dan panutan yang harus diikuti dan diteladani, namun di lain pihak Rasulullah dinilai sebagai sosok yang banyak kekurangan dan kelemahan (manusiawi).
Kalaulah RasuluLlah itu dinyatakan sosok yang ‘banyak kekurangan’, maka kenapa uswah atau keteladanan diharuskan tertuju kepada beliau ? Mengapa beruswah ke pribadi yang banyak kekurangannya ?
Tampaknya dengan jelaslah, betapa si liberalist ini begitu over confidence (kelewat percaya-diri) dan lepas kendali dalam mengekspresikan idenya, sehingga yang sampai di permukaan justeru merupakan humiliasi (penghinaan) terhadap Nubuwwah dan Risalah kerasulan seorang Nabi Muhammad saw, suatu perbuatan yang sangat gegabah dan beresiko tinggi yang tidak mereka sadari bakal menimpa mereka.
Sebagai seorang muslim, kalau memang mereka mengaku berislam, maka perbuatan yang disengaja dengan menempatkan RasuluLlah saw pada posisi yang tidak berhati-hati (tidak proporsional), hanya menjadi awal dari pengkhianatan pada risalah islamiyyah itu sendiri, dan bakal berujung pada kekafiran seseorang.
ذَٰلِكُم بِأَنَّكُمُ اتَّخَذْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَغَرَّتْكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فَالْيَوْمَ لَايُخْرَجُونَ مِنْهَاوَلَاهُم يُسْتَعْتَبُونَ
Yang demikian itu, karena sesungguhnya kalian menjadikan ayat-ayat Allah sebagai olok-olokan dan kalian telah ditipu oleh kehidupan dunia, maka pada hari ini mereka tidak dikeluarkan dari neraka dan tidak pula mereka diberi kesempatan untuk bertaubat (Qs.45/35).
al’Islam (atau Islam) adalah diynu-Llah, agama yang diwahyukan lewat malaikat Jibriyl kepada seorang Muhammad bin ‘AbdiLlah selaku Nabi & Rasul, empatbelas abad yang lalu di lembah Makkah alMukarramah, Jazirah ‘Arab Saudi sekarang. Pernyataan pengesahannya sebagai agama resmi termaktub dalam alQur’an :
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ – وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Sesungguhnya diyn/agama disisi Allah ialah al’Islam –
Dan barangsiapa mencari agama selain al’Islam, maka tidaklah diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Qs.3/19 – 85)
Bahwa, mencari agama selain Islam adalah jelas tertolak, Allah tidak akan menerimanya.
Sedang yang sering terjadi di tengah masyarakat muslim maupun non-muslim di masa sekarang, bukanlah mencari agama selain Islam, tetapi memodifikasi, melakukan perubahan terhadap Islam agar sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakatnya yang berubah-rubah sehingga memerlukan apa yang mereka sebut sebagai pembaruan agama meski harus menyimpang dari kemurnian dan keasliannya. Seperti yang dilakukan oleh golongan sekte liberal, dlm menda’wahkan ide pembaruan agama sesuai dengan penafsiran dan pemahaman akalnya atas restu pakar-pakar Orientalisten Barat dan murid-muridnya yang tersebar di segenap lembaga perguruan tinggi agama islam yang berkepentingan untuk memposisikan Islam ke dalam konsep modernisasi kehidupan kaum muslimin sesuai dengan konsep pemikiran/world view Barat.
Merekalah yang berdalih, memberlakukan Syari’at Islam akan membawa kemunduran, keterbelakangan dan terisolir dari pergaulan internasional. Anggapan seperti ini dari produk pemikiran liberal jelas menunjukkan pengkhiyanatan terhadap Islam kalau masih mengaku dirinya muslim, melainkan barangkali karena indoktrinasi beracun (stadium tinggi) yang dijejalkan lewat ‘kajian-kajian ilmiah mereka’ oleh para pakar Orientalisten ke benak tokoh-tokoh liberal berhasil membius ‘aqiydah & keyakinannya.
Mengapa hal ini memerlukan perhatian yang serius menghadapi ‘serangan fajar’ yang sering dilakukan oleh sekte liberal dalam operasi-gabungan mereka untuk merusak atau menciderai kemurnian diynu-l’Islam yang berada sepenuhnya di bawah kendali wahyu alQur’an & Sunnah Nabi-nya ? Mereka tiada hentinya bertingkah macam-macam yang kontroversial untuk merapuhkan ‘aqiydah dan keyakinan qawm muslimiyn akan kebenaran dan kesucian diynnya, agar b ersedia dengan sukarela mengkhiyanatinya.
Diynu-l’islam adalah agama yang telah sempurna yang bersumber dari wahyu dan tidak butuh pembaruan maupun modifikasi oleh manusia. Betapa zhalim dan bodohnya manusia ini dgn kesombongannya merasa bisa memperbaharui atau memodifikasi wahyu Ilahy.
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangatlah zhalim dan bodoh. (Qs.33/72).
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
Hari ini Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian dan Aku cukupkan atas kalian nikmat-Ku dan Aku ridla bagi kalian al’Islam sebagai agama (Qs.5/3).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepada kalian apabila kalian telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kalian kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan. (Qs.5/105)
Olehkarenna itu, diynu-l’islam atau agama Islam berkepentingan sesuai dengan misinya utk menuntun dan menguji segenap bentuk perilaku manusia agar tunduk dan taat mengikuti kebenaran yg diwahyukan Allah, Sang mahapencipta & pemelihara alam semesta, tidak mengikuti hawanafsu mereka. Agar supaya dengan demikian, manusia mampu berperilaku tradisional dan kultural yang beradab dan bermartabat dalam kehidupan kesehariannya pada lingkup pribadi, orang seorang dan di tengah lingkungan masyarakatnya sepanjang tuntunan wahyu & uswah hasanah RasuluLlah saw.
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا
Dan Kami telah turunkan kepadamu alQur’an dengan haqq/kebenaran, membenarkan Kitab-kitab (yang turun sebelumnya) dan menguji atasnya, maka hukumlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Bagi setiap ummat diantara kalian, Kami berikan peraturan/syari’at dan jalan yang terang (Qs. 5/48)
Masalah-masalah hukum pidana (qishas, potong tangan yang disebutkan oleh ayat alQur’an dan rajam oleh Hadits) adalah masalah-masalah qath’iy, jelas dan tidak meragukan. Sebagai seorang muslim yang sejati, ijtihad dalam hal-hal yang digariskan oleh alQur’an & Sunnah Nabi-Nya adalah wajar, tetapi bukan untuk mengingkarinya, melainkan mencari formulasi praktis dalam upaya melakukannya.
Sementara golongan sekte liberal dan pengikut-pengikutnya, berijtihad justeru untuk menafikan eksistensinya, mencari-cari peluang untuk melakukan plintiran terthadap ayat-ayat mutasyabbihat, konteks dan korelasi yang tidak kena, atau lari ke analisis historis ayat-ayat itu diturunkan di masa doeloe sekedar dalih dan alasan menerbitkan tafsir atau pemahaman yang kontroversial menurut akalnya sehingga mudah membuat kerancuan faham dan kebingungan di kalangan muslimin dalam memahami dan melaksanakan ajaran agamanya.
Dan inilah bentuk ijtihad tanpa disiplin ilmu yang baku, yang tidak bertanggung jawab karena ditempatkan pada tempat yang tidak proporsional, bukan pada tempat yang benar atau di tempat yang keliru (tidak harmonis, tidak berimbang), bahkan liar, memperturutkan kemauan akal dan hawa nafsunya sendiri sesuai dengan pesanan …. yang sudah diatur (direkayasa) dari sononya !
Sebagai ilustrasi, adalah pernyataan sekte liberal yang kontradiktif sebagai berikut :
Di satu sisi mengakui bahwa, Rasulullah saw adalah uswah dan panutan yang harus diikuti dan diteladani, namun di lain pihak Rasulullah dinilai sebagai sosok yang banyak kekurangan dan kelemahan (manusiawi).
Kalaulah RasuluLlah itu dinyatakan sosok yang ‘banyak kekurangan’, maka kenapa uswah atau keteladanan diharuskan tertuju kepada beliau ? Mengapa beruswah ke pribadi yang banyak kekurangannya ?
Tampaknya dengan jelaslah, betapa si liberalist ini begitu over confidence (kelewat percaya-diri) dan lepas kendali dalam mengekspresikan idenya, sehingga yang sampai di permukaan justeru merupakan humiliasi (penghinaan) terhadap Nubuwwah dan Risalah kerasulan seorang Nabi Muhammad saw, suatu perbuatan yang sangat gegabah dan beresiko tinggi yang tidak mereka sadari bakal menimpa mereka.
Sebagai seorang muslim, kalau memang mereka mengaku berislam, maka perbuatan yang disengaja dengan menempatkan RasuluLlah saw pada posisi yang tidak berhati-hati (tidak proporsional), hanya menjadi awal dari pengkhianatan pada risalah islamiyyah itu sendiri, dan bakal berujung pada kekafiran seseorang.
Kemanusiawian rasuluLlah Muhammad saw, alQur’an menyatakan :
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ – فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Ilah kalian itu adalah Ilah Yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah mempersekutukan sesuatu pun dalam ber’ibadat kepada Rabb-nya. (Qs.18/110)
Tetapi yang menjadi masalah kemudian, ketika dengan sembrono mereka mengatakan bahwa, karena Muhammad adalah manusia biasa maka dia memiliki banyak kesalahan. Pernyataan semacam ini keluar dari mulut yang lacut dan lancung, serta tidak diterima secara syar’iy sekaligus juga kontradiktif dengan basis ‘aqli (akal yang sehat), betapa seorang Nabi dinyatakan banyak kesalahan !
Secara syar’iy, karena beliau adalah Rasul yang ma’shum (terpelihara dari dosa), kema’shuman beliau tentu terkait dengan kemurnian wahyu yang ditablighkan (disampaikan) kepada ummat manusia.
Artinya, berdasar logika yang waras tentu tidak bisa diterima jika Rasul itu juga melakukan kesalahan, karena dengan demikian pasti melakukan juga kesalahan-kesalahan dalam menyampaikan wahyu-nya.
Begitulah liberalist yang dengan sendirinya dapat difahami kalau pakar muslim modernist seperti ini tidak mengimani wahyu secara utuh, karena dari sononya memang dicurigai membuat banyak pelanggaran yang serius di bidang ‘aqiydah dan mu’amalah – alias tidak lagi pantas disebut mewakili pandangan islami.
Selain itu, salah satu tugas utama Rasulullah saw adalah sebagai mubayyin (pemberi penjelasan) dari wahyu yang diturunkan. Yaitu bertugas memberikan interpretasi, meski interpretasi ini, khususnya yang berkenaan dengan masalah-masalah duniawi yang tidak disebutkan secara tegas dalam wahyu, sangat kontekstual sifatnya. Jika Rasul dalam kedudukannya sebagai mubayyin, namun jika pada saat yang sama juga banyak bersalah, akan ditempatkan di mana confidence, keimanan kita kepada semua yg dituturkan ? Sebenarnya, sebatas kontroversi pemikiran semacam ini saja sudah cukup utk mempertanyakan makhluq apa sebenarnya mereka itu, yg tidak segan-segan memaksakan kebohongan dan sekaligus kebodohan yang berulang-ulang di hadapan manusia ?
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Dan Kami turunkan kepadamu alQur’an, agar kamu menerangkan pada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (Qs.16/44)
Sebaliknya, proporsionalisasi akal manusia sangat ditentukan oleh wahyu dalam rangka pemahaman yang benar terhadap kebenaran agama. Akal manusia, seringkali terlibat oleh kepentingan-kepentingan ‘relatif’ yang belum tentu merupakan kebaikan bagi manusia itu sendiri sehingga perlu bimbingan dan panduan yang benar.
Dengan demikian, akan terasa mustahil untuk meniadakan perbedaan asumsi ini, kecuali kalau memang kita telah mengidap penyakit nifaq, lamisan atau kepura-puraan alias kemunafikan.
Sementara wahyu dan akal adalah dua sisi yang harus saling berinteraksi secara proporsional.
Keberadaan wahyu tanpa didukung oleh akal, hanya akan menjadi bacaan penuh ‘berkah’ yang kurang membawa barakah (makna hidup). Musabaqah tilawati-lqur’an yang menelan dana pembeayaan yang besar itu untuk memperlombakan bacaannya, atau di bulan ramadlan berulang-kali mengkhatamkan alQur’an, namun kedua-duanya tidak mampu manjadi ‘changing power’, kekuatan untuk perubahan dalam kehidupan ummat ~ yang memerlukan langkah dan pengamalan konkrit atas ayat per ayat alQur’an yang dibaca dan dikhatamkan itu ke dalam perilaku keseharian hidupnya demi sebuah perubahan dan perubahan secara bertahap menuju kalimah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam seutuhnya (kaaffah), dan janganlah kalian turuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagi kalian. (Qs.2/208)
Sebuah perintah yang jelas, betapa seharusnya orang yang beriman itu berislam dengan benar – yang kaaffah.
Di samping, wahyu dan kedinamisannya sangat terkait dengan akal pemikiran manusia. Wahyu pada dirinya dinamis, namun kedinamisan wahyu tidak efektif tanpa didukung oleh kedinamisan berfikir manusianya.
Afala yatadabbaruna alQur’an am ‘alaa qulubihim aqfaluha’ (artinya, membaca alQur’an tanpa memahaminya dijuluki dengan ketertutupan jiwa/hati).
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Maka apakah mereka tidak memperhatikan alQur’an, ataukah hati mereka terkunci ? (Qs.47/24)
Sebagai misal, ketika anda hadir dlm dialog ketuhanan, semua mengatakan bahwa di mana pun Tuhan itu sama, oleh karenanya kita tidak perlu berbeda. Padahal sejujurnya, jika kita mengkaji agama masing-masing maka ditemukanlah sebuah ketegasan dalam konsep ketawhiydan itu ada atau tidak. Bahwa penafsiran ayat Inna-ldiyna ‘indaLlahi-l’Islam versi liberalis Nurchalis Majid menjadi sangat-sangat rancu dan ngawur (demi memaksakan faham pluralisme Barat ke dalam kehidupan beragama) dengan memaknai dan menafsirkan ayat alQur’an s.3/19 tentang al’Islam dengan ma’na : penyerahan-diri, bukan nama-diri (identitas) dari agama yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw, sehingga menyalahi pema’naan dan pemahaman yang benar, sekaligus membuka peluang bagi faham ajur-ajèr – semua agama sama. Yakni bertentangan dengan pema’naan dan pemahaman jumhur (mayoritas) ‘Ulama’ sepanjang sejarah ; beserta sangsi yang termaktub dalam alQur’an s.3/85 bagi yang mencari agama selain diynu-l’islam
إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ – وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Sesungguhnya aldiyn (yang diridhai) disisi Allah adalah diynu-l’Islam ( Qs.3/19 )
Dan barang-siapa mencari (agama) selain diynu-l’islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.
(Qs.3/85)

Serialnass ~ anass muhammad
Update 25 Syawal 1432 – 2011

Comment :