Sekularisasi, bermula dari proses pemikiran manusia jahiliyyah di zaman prasejarah, sewaktu para Nabi dahulu diutus menghadapi perilaku manusia yang masih berada dilembah kejahilan mental dan spiritual, bergelimang ke dalam kemusyrikan dan kekafirannya, meski mulutnya berucap ‘Allah’ ketika menjawab pertanyaan tunggal: ‘siapa yang menciptakan samawat & bumi, dan menundukkan matahari dan bulan’, ini ?
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ فَأَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan ? Tentu mereka akan menjawab: Allah, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar). (Qs.29/61)
Dari lembah kemusyrikan dan kekafiran itulah kecenderungan mental dan intelektual manusia mulai tumbuh berkembang melewati proses sejarah yang sangat panjang, proses pergolakan fikiran dan pergulatan gagasan sebatas tingkat pemikiran (intelek) manusianya untuk menduniawikan kecenderungan hidupnya itu lepas dari dan tidak berdasakan ajaran kepercayaan dan keyakinan keberagamaan (laa diyniyyah). Dan dari peringkat ‘kepompong’ ini kemudian nantinya menjadi sebuah paradigma (kerangka berfikir), ideologi dan dogma yang diyakini kebenarannya oleh manusia dan digarap secara sistematis lagi terencana.
Perubahan berjalan dari masa ke masa sesuai dengan perubahan zaman dan perkembangan pikiran manusia itu sendiri, sehingga kemudian sekularisasi dianggap sebagai prasyarat tranformasi masyarakat dari tingkat tradisional menjadi maju dan modern (atau dalam bahasa gaul: dari minum air hujan gantian minum beer cap Bintang). Akan tetapi untuk mengurangi resistensi, digunakanlah istilah lain yang lebih halus dalam mengelabui masyarakat, seperti modernisasi (pembaruan), pembangunan (development), atau demokratisasi dan liberalisasi.
Misalnya, reinterpretasi (penafsiran-ulang) alQur’an yang sering digelontorkan oleh orang-orang sekte liberal berpijak pada pola pemikiran mereka yg menganggap kitab suci alQur’an merupakan refleksi dan reaksi terhadap kondisi social, kultural, ekonomi dan politik masyarakat Arab Jahiliyyah abad ke 7 Masehi yang primitif dan patriarkis. Dan dari pijakan kekafiran berfikir terhadap turunnya wahyu inilah mereka menuntut alQur’an ditinjau dan ditafsir-ulang kembali agar sesuai dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM) dan nilai-nilai demokrasi (Barat), agar sesuai dengan denyut nadi peradaban sekuler, peradaban yang tidak beradab dan tidak bermartabat dari dunia modern yang tumbuh dan berkembang di Barat.
Para aktivis liberalist telah memprovokasi ummat Islam, bahwa, penafsiran alQur’an dan ajaran Islam oleh para ‘Ulama’ (salaafu-lshaalihiyn) atau golongan tertentu bukanlah yang paling benar dan mutlak. Setiap orang dan golongan boleh-boleh saja menafsirkan alQur’an dan ajaran Islam berdasarkan sudut pandangannya sendiri, sambil berharap semua fihak menghargai hak orang dan golongan lain sesuai dengan kehendak masing-masing itu benar atau salah – terserah !
Persoalan mendasar yang juga luput dari wacana liberalisasi tafsir adalah seputar status dan validitas suatu penafsiran. Sebagaimana yang sudah dikemukakan sebelumnya, perihal ungkapan seorang pemikir sekte liberal misalnya, bahwa penafsiran alQur’an ajaran Islam oleh ‘Ulama’ atau golongan tertentu bukanlah yang paling benar dan mutlak, adalah pendapat yang sangat rapuh secara epistemologis.
Demikian juga seruan agar setiap orang dan golongan berani menafsirkan alQur’an dan ajaran Islam berdasar sudut pandangannya utk membuat interpretasinya sendiri. Jika dicermati secara teliti/seksama, ungkapan-ungkapan semacam ini semua hanya menunjukkan kerancuan dan kecerobohan berfikir yg tidak disadari (paralogism); dan kesalahan atau pun kekeliruan yang disengaja untuk mengecoh dan menyesatkan orang lain (sophism). Semuanya lahir dari sikap skeptis : mudzabdzabiyna bayna dzalik dari mental munafiq dan bermuara ke relativisme epistemologis.
Seperti seruan kaum liberalist agar ummat Islam merelativisir setiap penafsiran, adalah naif dan tidak realistis. Naif karena seruan itu akan berbalik bagai bumerang, akan menghancurkan pendapatnya sendiri (self-defeating). Tidak realistis karena pada kenyataannya memang tidak semua penafsiran bisa diterima, dan tidak semua penafsiran harus ditolak. Apalagi penafsiran yang dipandu oleh ideologi tertentu dan interpretasi yang dipaksakan untuk menjustifikasi suatu kepentingan tentu sulit untuk diterima.
Gagasan liberalisasi penafsiran juga tidak realistis dan perlu dicurigai. Orang yang menyeru agar setiap orang dan golongan dibebaskan utk membuat penafsiran sendiri sebenarnya tidak menyadari bahwa tidak semua orang layak dan berhak melakukannya, termasuk dirinya sendiri. Bahkan perlu dicurigai, jangan-jangan seruan itu sejatinya justru tuntutan terselubung agar dirinya yang masih belum atau tidak layak berwacana itu pun diberikan hak untuk melakukan penafsiran.
Sejak beberpa dasawarsa silam, tesis sekularisasi mulai banyak dipertanyakan dan diperdebatkan. Misalnya, menyangkal asumsi positivistik yg mengatakan bahwa masyarakat dahulu lebih religius ketimbang masyarakat modern. Kebenaran asumsi ini sulit untuk dibuktikan jika hanya berdasarkan data-data historis yang terbatas dan seringkali sefihak. Yang lain beranggapan bahwa agama bakal merosot peran sosialnya, melainkan dalam dua kondisi : pertama, dalam konteks pertahanan budaya (cultural defense) dan kedua dalam konteks peralihan budaya (cultural transition).
Bahwa, manakala masyarakat merasa identitas mereka (sebagai kelompok) mulai terancam, maka sekularisasi akan menemui hambatan.
Kritik terhadap tesis sekularisasi juga dilontarkan oleh mereka yang mengutarakan teori ‘ekonomi agama’. Asumsi dasar teori ini mengatakan, manusia itu cenderung mencari keuntungan dan imbalan, meskipun tidak langsung dan tidak sepenuhnya. Olehkarena itu agama akan senantiasa dibutuhkan oleh masyarakat, bahkan oleh yg sekuler sekalipun. Menurut teori ini ‘sekularisasi tidak akan berumur panjang’ (self-limiting), karena justru menimbulkan dampak sebaliknya, yakni menghidupkan kembali semangat beragama di masyarakat yang ditandai dengan munculnya sekte-sekte sempalan/sektarian dan membangkitkan ‘kreativitas’ kalangan tertentu hingga lahirlah kelompok-kelompok kultus (cults), yang mendoktrinkan adagium ‘pejah gesang ndèrèk sang ustadz’ yang begitu laku di pasaran, karena dulu di era OrdeBaru penguasa melakukan tindakan represif terhadap kelompok yang diduga penganut Islam radikal.
Hal ini dikarenakan modernisasi mendorong terwujudnya pasar bebas bagi berbagai jenis produk agama yang ditawarkan dengan harga murah-meriah dengan kualitas bersaing. Orang bebas memilih yang disukainya sesuai dengan kebutuhan masng-masing, dari merk Yehowah, Mormon dan Freemasonry hingga Wicca dan Heaven’s Gate, atau yg lebih ngetrend atau ngetop sesuai dengan selera anak-anak muda di masa sekarang.
Paradigma sekularisasi bukan hanya lemah secara teoritis, tetapi juga secara empiris. Menurut data historis menunjukkan bahwa pasang-surutnya peran agama bisa saja terjadi dalam berbagai konteks sosial dan ekonomi. Sekularisasi tidak terjadi hanya pada masyarakat modern namun bisa juga terjadi pada masyarakat pra-modern dan post-modern. Di samping itu, semangat beragama juga tidak melulu berkorelasi secara positif maupun negatif dengan kemajuan ilmu dan tehnologi. Terakhir fungsi agama dalam suatu masyarakat dapat saja berubah-ubah akibat perubahan kondisi sosial, ekonomi & politk.
Juga kritik ditujukan kepada pendukung tesis sekularisasi yang dinilainya kurang peka dan gagal mencermati kenyataan di lapangan yang sangat kompleks dan multi-dimensional untuk bisa di’sapu-rata’kan begitu saja. Barangkali karenanya. maka beberapa ahli, kemudian merivisi pendapatnya dari sekularisasi menjadi ‘desekularisasi’ atau sekularisasi yang ngambeg di tengah jalan.
Rancunya tesis sekularisasi ini akan semakin jelas bila kita mencermati fenomena maraknya semangat menerjemahkan Islam dalam berbagai lingkup kehidupan, terutama menyusul Revolusi Iran 1979, dari mulai tumbuhnya halaqah (lingkar) usrah-usrah di kampus dan masjid, tampilnya aksi ‘lautan jilbab’, dan gerakan ‘islamisasi ilmu’ hingga munculnya lembaga perbankan dan partai-partai berbasis Islam di sejumlah negara – gejala yang disebut oleh banyak pengamat Barat sebagai sebagai ‘Islamic resurgence’ (kebangkitan Islam), ‘Islamic revival’ (kebangkitan kembali Islam), dan ‘Islamic activism’ (paham atau peraktek perluasan kepentingan politik Islam) – yang kemudian diblow up (dikipasi) oleh mass media pro Barat untuk melariskan dagangannya.
Kelemahan paradigma sekularisasi ini terletak pada sifatnya yang terkesan deterministik – kalau sudah modern mesti sekular, kalau tidak sekular tidak bisa modern, dan seterusnya – padahal masyarakat manusia jelas sangat dinamis dan karenanya amat sulit untuk dipatok arah maupun coraknya.
Olehkarena itu sekularisasi bukanlah prasyarat mutlak kemodernan dan kemajuan. Masyarakat tidak mesti menjadi sekular untuk menjadi modern. Seperti telah dikemukan di atas, banyak juga masyarakat modern yang tetap religius, baik secara individual maupun konstitusional (Islam sebagai agama resmi negara) seperti Malaysia. Sebaliknya, tidak sedikit negara yang telah menyatakan diri sekular namun hingga kini masih saja belum tergolong sebagai negara maju, misalnya Maroko dan Turki.
Sekularisme sebagai ideologi demikian juga, pada dasarnya memang tidak bersenyawa (incompatible) dgn ajaran Islam yang benar, yang menganggap kekuasaan politik sebagai sarana penegakan agama.
Sebagaimana disinyalir, sejak zaman Nabi Muhammad saw, ummat Islam merupakan entitas politik dan agama sekaligus dengan RasuluLLh saw sebagai Kepala Negara. Dgn kata lain, Nabi saw tidak mempolitisir agama, melainkan mengagamakan politik, dalam arti politik untuk kepentingan agama, bukan sebaliknya, agama untuk kepentingan politik.
Dalam pengalaman ummat Islam (generasi) awwal, sebagaimana dilestarikan dan direkam untuk generasi sesudahnya, kebenaran agama dan kekuasaan politik terkait erat tak terpisahkan. Yang disebut pertama menyucikan yang kedua, sedang yang kedua mendukung yang pertama, jelas Bernard Lewis.
Sekularisme bukanlah monopoli masyarakat zaman sekarang. Sebagai falsafah hidup yang mementingkan kekinian dan kedisinian, sekularisme pernah, masih dan akan terus ada penganutnya. Sekularisme di sini tentu bukan sekedar ideologi politik yang memisahkan urusan agama dari urusan negara tetapi juga berarti rumusan keyakinan yang mengingkari adanya kehidupan akhirat, menganggap bahwa dunia inilah kehidupan yang hakiki, tidak ada hidup sesudah mati dan tidak ada pertanggungan-jawab di hadapan Tuhan. Orang-orang yang berfikiran sekular sudah ada sejak zaman dahulu dan akan selalu ada sepanjang zaman. Seperti diinformasikan oleh alQur’an :
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
Dan mereka berkata: Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan perihal itu, mereka tiada lain hanyalah menduga-duga saja. (Qs.45/24)
Dalam menyikapi sekularisasi dan westernisasi atasnama modernisasi dan pembangunan, kaum muslimin dapat dipilah dalam dua kelompok besar, yaitu yang menerima dan yang menolak.
Masing-masing dapat dipecah lagi : ada yang cenderung bersikap ekstrem dan ada pula yang bersikap moderat. Yang ekstrem dari kelompok penerima biasanya disebut secularist (sep. Attaturk, Taha Husayn), sedangkan yang bersikap moderat disebut reformist atau modernist (sep. Ahmad Khan, Muhammad Abduh, Fazlur Rahman). Adapun yg ekstrem dari pihak yg menolak biasanya disebut revivalist atau fundamentalist (sep. alMawdudi dan Sayyid Qutb), sementara yang moderat dijuluki concervative atau traditionalist (sep. Sayyid Amir Aly dan Syekh Muhammad ibn Abd alWahhab). Itulah kategorisasi yang dibuat oleh para sarjana Barat dan diadopsi olek cendekiawan muslim.
Dari perspektif alQur’an sendiri, sikap manusia kepada agama Allah, pertama, yang mengimani kebenarannya dan berusaha mengamalkannya secara utuh (kaffah) – kedua, yang mengingkari dan menolaknya secara keseluruhan – dan ketiga, yang tidak termasuk keduanya, karena hanya meyakini dan melaksanakan sebagiannya saja seraya mengingkari sebagian yang lain dan menolak implementasi keseluruhannya. Ketiga-tiganya dalam terminologi alQur’an ini disebut : 1. mu’minuun shadiquun, 2. kaafiruun dan 3. munaafiquun. Demikianlah,
biLlahi-ltawfiyqu wa-lhidaayah in uriydu illaa-l’ishlaah !

Serialnass ~ anass muhammad
Update 25 Syawal 1432 H 2011

Comment :