Kebanyakan orang memahami ayat alQur’an yang bertemakan akhlaq berikut korelasi dan konteks ayat-ayat pendukungnya, menganggapnya hanya sebagai informasi sebatas berkaitan dengan etika, kepatutan atau pun sopan-santun yg sifatnya situasional. Atau bahkan kemudian, akhlaq dianggap bagian dari produk perilaku kultural yg setiap bangsa berbeda, dan bisa berubah atau dirubah sesuai dengan perubahan masa yang mengikutinya, singkatnya sesuai dengan selera manusianya.
Anggapan semacam ini akan berdampak serius karena secara tidak langsung mengeliminasi otoritas dan peran utama Nabi saw dalam misi kerasulannya melaksanakan pembinaan akhlaq manusia seutuhnya yang sesuai dengan diktum wahyu alQur’an yang diturunkan kepada beliau, adalah berintikan pendidikan akhlaq manusia ke peringkat akhlaqu-lkariymah.
Dan pendidikan akhlaq ini dgn segala komponennya berada di file-file aktifitas kehidupan keseharian Nabi Muhammad saw selama masa dinas kerasulannya yang dipelihara autentisitas dan validitas (keaslian dan keshahiyhan)-nya oleh para Shahabat Nabi saw hingga periode/generasi berikutnya. Kemudian digali dan diteliti-ulang oleh ‘Ulama’ salaafu-lshaalihiyn di masa itu dan hasilnya dituangkan ke dalam Himpunan Hadiyts tertulis yang bisa dibaca beruntun dari generasi ke generasi seterusnya hingga ke masa sekarang..
Dan tetap terbuka untuk bisa diteliti-ulang oleh ahlinya sebagai bagian dari Sunnah Nabi dengan alQur’an sebagai standard tertinggi untuk menguji semua informasi mengenai pribadi dan aktifitas RasuluLlah saw, validitas (keshahiyhannya) dan autentitas (keasliannya) yang bersih, tanpa cacat sanad & matannya untuk menjadi sandaran pengamalannya Sunnahnya.
Hal itu dilakukan utk membuktikan keimanan kita akan kerasulan nabi Muhammad saw, dan kemudian mentaatinya, berikut uswah hasanahnya atas ketetapan (perintah) wahyu (Qs.33/21 – 04/59). Dan dengan demikian mewajibkan kita untuk menteladani dan mentaati (mengikuti) sepenuhnya Sunnah Nabi ini sebagai bagian integral (manunggal/terpadu) dari kesaksian syahadah ‘tiada Ilah kecuali Allah’ dan kesaksian syahadah ‘Muhammad adalah rasulu-Llah’ (utusan Allah). Penjelasan ini diperlukan menghadapi perilaku inkaru-lsunnah yg berkecenderungan mendiskreditkan posisi kerasulan Nabi sebagai mubayyin.
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswah hasanah (suri teladan yg baik) bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari qiamat dan dia banyak berdzikir menyebut Allah. (Qs.33/21)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Dan Kami turunkan kepadamu alQur’an, agar kamu menerangkan pada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (Qs.16/44)
Namun kemudian di abad-19/20 muncul gerakan (pertama) yang ingkar terhadap Sunnnah ataupun Hadiyts di Subbenua India dan Mesir yg berpendapat bahwa keseluruhan pokok Islam bisa diturunkan dari alQur’an saja dan tidak membutuhkan sumber lain seperti Sunnah Nabi maupun Hadiyts, melainkan (kemudian dalam pengembangannya) pemahaman dan penafsiran mereka terhadap ayat-ayat alQur’an yg dianalisa dengan akal (ra’yi) pemikiran mereka (yang berperan menggantikan Sunnah yg telah mereka ingkari). Hal ini merupakan kejahilan yang bertumpang-tindih dari ulah mengingkari Sunnah sambil memproduksi sunnah-buatannya sendiri dari analisa pemikirannya terhadap ayat-ayat alQur’an – sebagai penggantinya. Dan inilah yang disebut sebuah pembodohan dan bertumpang-tindihnya kejahilan sebagian pakar muslim.
Dan itulah penampilan akhlaq yang kontroversial di tengah perdebatan tentang kedudukan Sunnah di sisi wahyu alQur’an – yang mengaku mendalami alQur’an tetapi justru tidak mengenal sunnah Nabinya, bahkan mengingkarinya – bukan pendalaman melainkan pendangkalan, yang bakal berakibat fatal :
إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيُرِيدُونَ أَن يُفَرِّقُوا بَيْنَ اللَّهِ وَرُسُلِهِ وَيَقُولُونَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَنَكْفُرُ بِبَعْضٍ
وَيُرِيدُونَ أَن يَتَّخِذُوا بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا
Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain), serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir). (Qs.4/150)
Kalian mau berbicara tentang kebangkitan atau pun kebinasaan, keberhasilan ataukah kegagalan manusia di sepanjang sejarahnya dari doeloe sampai kini sejak diutusnya nabi Adam as. hingga terakhir misi kenabian dan kerasulan yang diembankan kepada rasuluLlah Muhammad saw, seluruhnya langsung maupun tak langsung berkaitan dengan apa yang disebut akhlaq demi pembinaan terhadap peribadatan manusia kepada Dzat mahapencipta dan pemelihara alam semesta, akhlaq sepanjang doktrin wahyu Ilahi dan uswah hasanah para Nabiy dan Rasul yang diutus-Nya.
Dan kemudian, dustur al’akhlaaq fiy-lQur’an yang turun dan terurai lengkap dan sempurna adalah satunya standard nilai moral spiritual yang wahyunn ilahiyyunn, acuan kebenaran dalam melaksanakan misi da’wah islamiyyah dalam menghadapi segenap rupa kekafiran dan kezhaliman, kefasiqan dan kebathilan dan atau kemunafiqan manusia – dan merupakan detektor tunggal untuk melacak, menentukan kadar dan jenis penyimpangan manusia terhadap ajaran nabiy dan rasul: bi-lhudaa wa diyni-lhaqqi liyuzhhirahu ‘ala-ldiyni kullihi walau kariha-lmusyrikuun ~ Dia-lah yang telah mengutus rasul-Nya dengan petunjuk (alQur’an) dan diyn yang benar untuk diunggulkannya diatas segala agama, meski orang-orang musyrik membenci(nya). (Qs.9/33)
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Pengamatan sosial, ekonomi, politik dan budaya dalam berbagai macam istilahnya, seluruh problematika kebermasalahannya, krisis dan kesemrawutannya dari lingkup alit (individual) hingga tingkat elit yang berada di puncak kekuasaan suatu negeri-tanpa indikator utama akhlaq manusianya, maka seluruh gagasan dan program pembangunan serta pelaksanaan operasionalnya di lapangan hanya akan membuang enersi dan segala-galanya ke dalam blunder dan lingkaran setan yang tiada habisnya, berkubang ke dalam lumpur beragam ma’shiyat dan khiyanat – semisal korupsi, kolusi dan nepotisme yg merata dari pusat hingga ke daerah-daerah di seluruh wilayah hampir tanpa kecuali, sebagian besar terlibat perilaku korupsi.
Begitulah tiadanya amanah di hati para pemegang kekuasaan negara sehingga tidaklah bakalan mampu bertahan menampung segenap akibat gagalnya cita dan harapan rakyat yang lenyap tanpa bekas dan tilas yang bisa dipungut sebagai bekal kesinambungan program-program pembangunannya, kecuali berjalannya program pemelaratan dan penyengsaraan rakyat semesta sepanjang masa, dan inilah yang disebut kebangkrutan total meliputi segenap lahan penghidupan dan kehidupan rakyat dan masyarakatnya, menjadi sasaran pemerasan dan bulan-bulanan negara-negara maju yang tidak lagi mempercayainya sebagai mitra usaha mereka.
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلْأَخْسَرِينَ أَعْمَـٰلًا
Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya ? (Qs.18/103)
ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka (telah) berbuat kebaikan. (Qs.18/104)
Adalah sebuah kesalahan dan kekeliruan yg sangat fatal (dengan dalih apapun) yang mau memposisikan al’akhlaq (kata kunci dari tugas kenabian dan kerasulan itu) hanya setingkat etika dan perilaku kultural manusia. Padahal inti yang paling esensial, esensi yang paling inti dari seluruh misi kerasulan seorang Nabiy diutus oleh Sang mahapencipta dan pemelihara semesta alam ini dengan wahyu alQur’an, tujuannya adalah menyempurnakan akhlaq manusia sesuai dengan kehendak wahyu, yang wajib dilaksanakan dengan berjihad – bi-amwalihim wa anfusihim, demi memperjuangkan : berlakunya Syariy’at Islam di muka bumi, dan tiada lain kecuali demikian !
Demikianlah, berbicara tentang sebuah kebangkitan yang lahir dari ‘gerakan pembebasan zhulm dan kezhaliman’ seharusnya bermula dari kesiapan mental spiritual yang militan dari para pelaku aktif demi bergeraknya mesin ‘da’wah bil hikmah wa-lmaw’izhati-lhasanah wa jaadilhum billatiy hiya ahsan’ (Qs.16/125) hingga siap mendukung gagasan kesyahidan di tengah mubalnya epidemis sempalan-firqah, wabah beracun yang sangat berbahaya yg mewarnai kehidupan komunitas (keagamaan) yang sedang ‘mengharapkan kerahmatan dari perbedaan’. Yaitu mereka yg mengharapkan kerahmatan dari perpecahan yang tiada habisnya sepanjang perjalanan sejarah hingga sekarang – yang kalian bisa menyaksikan, hampir di segenap wilayah kehidupan qawm muslimiyn kini terjangkiti penyakit-mapan ini dan menjadikannya sebagai komoditas dalam hidupnya.
Sedang faktanya justru menghasilkan kemunduran, keterbelakangan – bukan kerahmatan; di samping meratanya wabah kemiskinan dan kebodohan yang melanda kehidupan ummatnya berhadapan dengan semangkin ganasnya penjarahan dan pemerasan Barat terhadap sumberdaya alam negeri-negeri muslim di seluruh dunia bagi kepentingan hegemoni mereka – imperialisme dan neo kolonialisme di mana pun mereka berada dimuka bumi.
Olehkarena itu kebangkitan qawm muslimiyn tergantung seberapa mampu mereka berdiri dan bergerak meyaqinkan dirinya sendiri tentang betapa urgensinya untuk segera membongkar dan memindahkan ‘kerahmatan’ dari ikhtilafiyah perbedaan yang kelewatan itu ke dalam kerahmatan diutusnya RasuluLlah saw dengan hudan (petunjuk) dan diynu-lhaqq (agama yang haqq/benar) :
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (alQur’an) dan diynu-lhaqq (agama yang benar) untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, meski orang-orang musyrik membenci(nya). (Qs.9/33)
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Dan tiadalah Kami mengutusmu (Muhammad), melainkan menjadi rahmat bagi semesta alam. (Qs.21/107)
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Dan berpeganglah kalian semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (di masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah, (kalian) menjadi orang-orang yang bersaudara; padahal kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk. (Qs.3/103).
Dan kemudian Nabi saw mendidik kalian dengan keteladanan unggul – uswah hasanah Rasul, dan menggalang kesatuan (wihdatu-l’ummah) dengan menjauhi perbedaan yg melahirkan perpecahan sesama muslim yang sangat-sangat melelahkan dan berakibat lumpuh di hadapan lawan dan musuh abadi ummat ini yang selamanya menghendaki kemusyrikan dan kekufuran di kalangan muslimin.
Oleh sebab itu maka mempelajari dan memahami siyrah Nabiy saw, mengenal bi’tsah, dan da’wah serta perjuangannya; meneliti teladan Sunnah (penjabaran strategi samawy yg termaktub dlm kandungan alQur’an) adalah sebagian dari siasat (siyasah) yang unggulan dalam menghadapi musuh di tengah segenap rupa pelecehan dan penghinaan kotor yg tiada henti-hentinyanya ditujukan kepada Nabi saw, para Shahabatnya dan berlanjut hingga sekarang terhadap Islam wa-lmuslimiyn.
Dan betapa piawainya Nabi saw menyambut segalanya itu dengan sikap dan perilaku nyata yang anggun dan berwibawa, membalasnya dengan tangkas dan setimpal atau dengan kesabaran, kelapangan dada dan kepala dingin penuh maaf dan kasih sayang seorang penggembala dalam menyampaikan seruan da’wahnya bi-lhikmah wa-lmaw’izhati-lhasanah.
Ditolongnya si mazhlum maupun yang zhalim kedua-duanya diperlakukan sama, dituntun ke jalan lurus, jalan kebenaran, keshabaran dan keadilan bagi semua. Wa hadza shiratu Rabbika mustaqiymann, qad fashshalna-l’ayati liqawminn yadzdzakkarun ~ Dan inilah jalan Rabb-mu (jalan) yang lurus. Sungguh Kami telah menjelaskan ayat-ayat (Kami) kepada orang-orang yang menerima pelajaran (Qs.6/126).
Begitulah derap uswah hasanah, keteladanan Nabi saw yang menghandalkan sifatnya yang peka dan emosional yang cerdas : la qad jaa’akum rasulunn min anfusikum ‘aziyzunn ‘alayhi maa ‘anittum hariyshunn ‘alaykum bi-lmu’miniyna ra’uufunn-rahiym :
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ
Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu’min (Qs.9/128).
Kita baca kembali dan kita renungkan detik-detik hidup beliau yang penuh pengorbanan dan pengorbanan bagi semua, hampir tiada sisa buat dirinya dan keluarganya sendiri yang seharian mengganjal perutnya dgn batu pelipur lapar yang disandangnya dg keprihatinan sepanjang hayatnya, keshabaran dan kepeduliannya tanpa pamrih terhadap siapa pun yg datang meminta, kecuali beliau hanya mendambakan keridlaan Allah.
Itulah selintas siyrah nabawiyyah yang dilupakan orang dan dianggapnya cuma seputar etika dan kepatutan sesama manusia, bahkan dianggapnya tiada keterkaitannya dengan hukum – sehingga tidak wajib diikuti (diteladani), maksudnya boleh saja dilanggar.
Begitu rendahnya orang memposisikan uswah hasanah Nabi saw yang tertuang ke dalam Himpunan Hadiyts berbahasa ‘Arab tersiar sebelum dan sesudah meninggalnya Nabi saw, dan mereka menganggapnya sebagai produk rekayasan oleh para ahlinya di seputar dua abad sepeninggal Nabi – sebagai alasan/analisis penolakannya terhadap seluruh Hadiyts berikut metodologi reseach/penelitian Hadiyts (musthalahu-lhadiyts) yang dianggapnya tidak masuk-akal dalam benaknya.
Sikap dan anggapan demikian disebabkan oleh ketidak-mampuannya menguasai bahasa ‘Arab (barangkali karena tidak sempat mempelajarinya – namun juga tidak mau bertanya atau menyerahkan sesuatunya itu kepada ahlinya); dan memang mereka tidak menghormati karya ilmuwan Salaafu-lshaalihiyn karena ‘ujubnya/gumunan terhadap dirinya sendiri dan begitu percayanya kepada produk diabolisme pemikiran orientalis Barat terhadap Islam wa-lmuslimiyn (diabolisme = pemikiran Iblis), barangkali karena konjemnya pada modernitas Barat.
Dan lagian, dengan fikrah semacam itu, tidak mereka sadari bakal merusak ‘tata keteladan hidup yang telah ditunjuk oleh wahyu’ kepada Rasul ~ Laqad kaana fiy rasuli-Llahi uswatunn hasanatunn liman kaana yarju-Llaha wa-lyawma-l’ahkira wa dzakara-Llaha katsiyrann:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswah hasanah (keteladanan yang bagus) bagimu (yaitu) bagi orang yg mengharap (rahmat) Allah dan (tibanya) hari qiamat dan dia banyak berdzikir-ingat kepada Allah. (Qs.33/21).
Dan mereka dengan sengaja memutus hubungan bathin antara ummat dengan Nabi-nya dan memotong jaringan doctrin serta uswah hasanah Nabi saw tentang pembinaan akhlaq dan pembangunan manusia seutuhnya, di mana pribadi Nabiy Muhammad saw sebagai patron keteladanan unggul :
la’ala khuluqinn ‘azhiym – Karakteristik qur’any dari pribadi Nabi-teladan !
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berakhlaq yang agung. (Qs.68/4).
Sebuah pengukuhan nilai tertinggi pribadi Nabiy saw di mana misi kenabian dan kerasulannya berpijak kukuh diatas landasan akhlaqu-lkariymah yang menentukan sukses keberhasilan misinya.
Begitulah pula kita menyaksikan, pilihan sukses ataukah harus hancur bukan karena sebab-sebab yang lain, melainkan oleh sebab rapuhnya program pembinaan akhlaqu-lkariymah dalam kehidupan keseharian pribadi dan keluarga kita – terseret oleh derasnya arus modernisasi beracun yang tengah melanda dunia di zaman ini – menuju globalisasi kepentingan negara-negara maju yang berada di bawah dominasi kepentingan (sekular) Barat.
Betapa kejayaan dan atau kehancuran suatu bangsa, bahkan setiap individu bermula asbabnya terletak pada program pembinaan akhlaqnya – sejauh mana kalimat akhlaq ini berperan baku dlm pendidikan keseharian hidupnya ditengah keluarga dan masyarakatnya, ataukah sebenarnya telah pupus tak bersemi di tengah badai peradaban asing yang tidak mengenal adab dan akhlaq.
Apakah peran operasional keseharian akhlaq ini berada di bawah petunjuk dan tuntunan wahyu Ilahy (diynuLlah), ataukah cuma anggapan sebatas etika dan produk kultural manusia yang bisa saja ditarik-ulur semaunya oleh selera masyarakatnya, sesuai dengan kebutuhan situasional ?
Akhlaqu-lkariymah (budipekerti luhur atas petunjuk wahyu) bakal menuntut konsistensi dan istiqamah yang mendorong terwujudnya kema’rufan dan cegah kemungkaran di tengah kehidupan pribadi, orang seorang dan masyarakatnya – bukannya pembiaran terhadap mubalnya kemunkaran :
Kanu laa yatanahawna ‘an munkarinn fa’aluhu, labi’sa ma kanu yaf’alun ~ mereka (secara berjamaah) saling tidak melarang kemunkaran yang mereka lakukan – sungguh amat buruklah apa yang selalu mereka kerjakan : (Qs.5/79).
كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
Maka diperlukan upaya mempelajari dan mengenal Siyrah Nabi ini, di dalamnya kalian menyaksikan sebuah keteladanan yang unggul tiada bandingan yang belum pernah ada sebelum dan sesudahnya ilaa yawmi-lqiyaamah – betapa pengukuhannya turun dari langit yakni, gelar uswah hasanah yang bertumpu diatas kalimah : wa innaka la’ala khuluqinn ‘azhiym ~ dan sesungguhnya kamu benar-benar berakhlaq mulia (Qs.68/4).
Begitulah unggulan teladan hidup, meliputi segenap aspek kehidupan insani, agar supaya diteladani dan bukan dikultuskan (melainkan barangkali oleh orang yang tidak waras); atau apalagi mereka yang menganggapnya sekedar etika atau kepatutan, semacam basa-basi tradisi dalam pergaulan yang tidak mengikat untuk diteladani.
Apa hubungannya semua ini dengan pembahasan ittiba’rasul ?
Agar kalian semua tidak buta hati dan cekak fikiran memandang Sunnah tanpa mengenal siyrahnya, tanpa mengenal perilaku keseharian Nabi saw di tengah kebrandalan moral dan kebejatan akhlaq masyarakatnya doeloe di padang gersang sepanjang tahun. Perbudakan yang membudaya; pembunuhan dan pembantaian antar suku dan qabilah tiada hentinya saling berbalas-dendam turun temurun bersaing memperebutkan kekuasaan dan perolehan; di samping pembodohan manusia yang berkepanjangan dan pemiskinan yang merata. Itulah kondisi masyarakat yang dihadapi oleh Nabi saw, dan alhamduliLlah di tangannya, Allah Yang mahaperkasa menuntunnya sebagai Rasul dan Nabi pamungkas, memberinya petunjuk jalan pembebasan dan kebangkitan manusia dari lembah kezhaliman dan kerendahan akhlaq yang tiada taranya itu ~ dan turunlah wahyu alQur’an kepada Nabi secara beruntun selama 23 tahun masa dinas kerasulan dan kenabiannya, sekaligus pengukuhan kepadanya sebagai uswah hasanah, teladan unggulan dengan peringkat la’ala khuluqinn ‘azhiym– peringkat akhlaq yang paling mulia derajatnya di muka bumi.
Dengan demikian maka tujuan memahami wahyu alQur’an adalah guna memudahkan manusia mengabdi, beribadat kepada Dzat yang menciptakan dan memelihara alam semesta ini, agar setiap desah nafas dan langkah hidupnya terpelihara dari unsur zhulm dan zhalim, dan senantiasa meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah bagi terwujudnya kehidupan pribadi, orang seorang dan masyarakatnya yang beradab dan berakhlaq mulia sesuai dengan perintah :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah, sebenar-benar taqwa kepada-Nya; dan janganlah kalian mati melainkan kalian (dalam keadaan berislam) berserah-diri (Qs.3/102).
Begitulah seharusnya, ketaqwaan yang kuat melekat dalam kehidupan keseharian kita agar tidak mudah tercampuri oleh nilai-nilai universal-buatan atau nilai tradisi dan fanatisme lokalan yang sarat khurafat dan bid’ah, atau apalagi mencampur-adukkan iman dengan syirk yang bakal menjauhkan manusia dari jaminan keamanan dan petunjuk Ilahy :
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan zhulum (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapatpetunjuk (Qs.6/82).
Akhirnya, diperlukan proses pendidikan yang intens dalam berbagai disiplin ilmu yang bakal mendukung kebenaran lebih dari sekedar pendapat asal beda yang sering kinderachtig (kekanak-kanakan). Olehkarena itu perlu pembinaan adab dan akhlaaqu-lkariymah sebagai bagian pendidikan (kurikulum) baku yg diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan, di forum pengajian (majlis ta’liym) dan ke dalam perilaku masyarakatnya itu sendiri yang bakal melahirkan tunas kebangkitan qawm muslimiyn yang kapan nanti insya Allah mampu mewujudkan sebuah peradaban yang beradab.
Dan sebaliknya, karena melecehkan keteladanan sunnah Nabinya dalam hal pembinaan adab dan akhlaq manusia (yang mereka anggap sekedar kepatutan atau sopan-santun itu) maka kalian hanya akan menemukan kebiadaban yang merata dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakatnya jauh dari nilai-nilai adab dan akhlaqulkariymah, dan lagi-lagi ummat, rakyat dan masyarakat yang menjadi korbannya, hidup dalam suasana pemerasan, kesemrawutan dan ketidak-menentuan nasib masadepannya.
Olehkarena itu dengan senantiasa bershabar pada saat mushiybah menimpanya, dan senantiasa bersyukur atas nikmat seberapa pun yang diterimanya dengan qana’ah itu, mewujudkan kesederhanaan di tengah kehidupan keluarga dan lingkungan masyarakatnya, kehidupan islamy yang doeloe diteladankan oleh Sunnah Nabinya ~ Sang Gurusejati, Nabi Muhammad saw 14 abad silam.
Dan kini kita membaca perilaku sejarah, dan mengalami sendiri betapa keterbelakangan, kemunduran yang beruntun menimpa ummat ini selama ini, sesudah runtuhnya kejayaan dan keunggulan masasilamnya dari sebab luruhnya nilai-nilai adab dan akhlaq hingga robohnya ke’adilan di tengah kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
Kita sendiri mengalami nasib yang sama, sejak penjajahan kolonialisme asing hingga masa kemerdekaan setengah abad lebih telah berhasil menderai bangsa ini berkeping-keping ke dalam kemiskinan (struktural) dan kebingungan (mental) oleh ulah manusianya yang tidak mengenal adab dan akhlaq. Betapa mereka yang berseragam resmi secara berjamaah membudayakan korupsi, kolusi, dan nepotisme; belum lagi mubalnya beragam ma’shiyat lain di sisi mafia hukum dan maraknya proses pengadilan sesat yang menimpa orang-orang yang berperkara di pengadilan.
كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ – ٥:٧٩
Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka lakukan. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (Qs.5/79)
Itulah kehidupan bernegara dan bermasyarakat tanpa keteladanan selain cuma mengadopsi pola pemikiran secularBarat, rationalisme dan intelektualisme yang materialistik yang melahirkan hedonisme kehidupan yang bergelimang ke dalam lahwann/dolanan dan nikmat sesaat. Begitupun penerapan konsumerisme yang latah dan mubadzdzir dengan bergantung pada fasilitas hibah dan santunan negara-negara maju sehingga berakibat hilangnya kemandirian dan harga diri bangsa, jatuh ke dalam penghidupan yang lumuh.
Segala keterbelakangan kita dalam bidang ilmupengetahuan dan derita kemiskinan ummat selama ini tidak sebanding dengan efek maut akibat perbuatan kita mengikuti dgn membuta pada struktur pendidikan Barat atas prospek (masa-depan) religius dunia Islam.
Olehkarena itu, jika kita hendak mempertahankan realitas Islam sebagai satunya faktor kultural, maka kita harus waspada dan menjaga diri dari suasana intelektual Peradaban Barat yang tiada henti-hentinya menaklukkan masyarakat kita dengan segala kecenderungannya, karena karakteristik asli peradaban Barat secara pasti (definit) menyingkirkan orientasi religius manusia, merusak mental keagamaanya dan menggiring ke jalan liberalan yang liar di bawah komando imperialis dan neo-liberalisme – dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
Dan dengan meniru pola dan mode kehidupan Barat ini, qawm muslimiyn secara berangsur-angsur didorong untuk menerima worldview (pandangan hidup) Barat, karena peniruan pandangan secara lahir dengan bertahap mengasimilasi yang bersangkutan dengan pandangan-dunia yang mendasari wajah lahir itu (hampir tanpa kesadarannya) ~ yakni: ketertindasan-mapan akan mengidolakan sang penindasnya !
Dan kemana negeri dan bangsa ini hendak dibawanya ~ kalian cukup tahu jawabannya !
Dengan demikian, kembali ke pokok bahasan akhlaq dan dampak hidup berpecah-belahnya qawm muslimin, maka bukan lagi pendalaman tetapi pendangkalan alQur’an-bagi yang mencoba mengeliminir dan mendiskreditkan peran kerasulan Nabi yang ujung-ujungnya untuk mengingkari Sunnahnya ~ begitu inginnya menerapkan demokrasi dan kebebasan dalam hal memahami dan mengatur korelasi serta kontekstualisasi ayat-ayat alQur’an sesuai dengan akal dan penalarannya sendiri, sehingga tabu dan merasa tidak perlu penjelasan di luar alQur’an.
Memahami alQur’an tanpa panduan Sunnah Nabi-Nya adalah sebuah kebodohan, sedangkan memahami Sunnah tanpa petunjuk wahyu alQur’an adalah kejahilan yang berujung ke lembah kesesatan yang nyata.
وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَـٰلَمِينَ
Dan tiadalah Kami mengutusmu (Muhammad), melainkan (menjadi) rahmat bagi semesta alam (Qs.21/107).
وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
Dan Kami turunkan kepadamu alQur’an, agar kamu menerangkan pada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. (Qs.16/44).

Serialnass ~ anass muhammad
Update Update Syawal 1432 H 2011.

Comment :