Beragamnya ideologi dan produk pemikiran yg sebenarnya sarat berbagai pra andaian terpendam (tacit assumptions) dan kepentingan terselubung (hidden interests) yg ujung-ujungnya bermuara ke persaingan gelap antar firqah/sempalan di kalangan jama’ah muslimiyn yang masing-masing menganggap dirinya paling benar, bahkan paling islam sendiri, sebagai sebuah fanatisme lokal yang kelewatan dari adagium ‘pejah gesang ndèrèk sang ustadz’ pembimbingnya.
وَإِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ
Dan sungguh inilah ummatmu ummat yang satu dan Aku adalah Rabb-kalian, maka bertaqwalah kepada-Ku. (Qs.23/52)
فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُم بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ – فَذَرْهُمْ فِي غَمْرَتِهِمْ حَتَّىٰ حِينٍ
Kemudian mereka menjadikan perkara mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka.
Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya sampai suatu waktu. (Qs.23/53-54)
Dlm situasi dan kondisi seperti inilah yg telah berlangsung hampir sepanjang sejarah, seharusnya kita kini sadar dan berhati-hati agar tidak terpelesat dan terlibat masuk ke dalam lubang-lubang biawak, sebuah perangkap zionisme dan neo kapitalisme yang diolah di dalam laboratorium neo colonialisme Barat, yakni lembaga ‘riset yang melakukan study penyusunan strategi penghancuran terhadap al’Islam wa-lmuslimiyn dari dalam (internal) secara terselubung atasnama ‘study islamologi’ yang bergengsi. Ingat dulu di masa penjajahan Belanda, salah satu fatwa andalan dari rekomendasi Snouck Hurgronye, seorang orientalis jagoan islamolog kepada pemerintah Hindia Belanda untuk melaksanakan apa yang disebut ‘politik belah bambu’ yang ujung sasarannya bermuara ke wihdatu-l’ummah (kesatuan dan persatuan ummat) yg rapuh sehingga mudah dikeloh dan digiring ke dalam bermacam-bacam sempalan firqah saling berhadapan dlm keadaan terpecah-belah dan tak mampu lagi membentengi dirinya dari serangan musuh dan lawannya.
Merekalah para profesionalis (spesialis orientalisme) yg dengan gigihnya menyebarkan virus perpecahan yang ganas ke dalam tubuh qawm muslimiyn lewat penyesatan ’aqiydah dan pembid’ahan syariy’ah; doktrin fanatisme lokal (golongan) di setiap sempalan (firqah) serta kultus individu terhadap figur ustadz (amir) pembimbing jamaahnya masing-masing di jamaah ekstrem maupun yang moderat.
Sikap konfrontatif terhadap (Sunnah) Rasul, pertama, terutama mereka yg mengingkari Sunnah Nabi saw, dan beranggapan bahwa alHadiyts adalah produk rekayasan yang disandarkan (berasal) dari Nabi saw oleh para ahlinya, di seputar abad ke 2 sepeninggal RasuluLlah saw. Dan mereka meragukan atau tidak menghargai integritas para ‘Ulama’ salaafu-lshaalihiyn (terhadap keunggulan memory yang spektakuler yg dimiliki oleh para Shahabat Nabi & ‘Ulama’ di masa itu) yg dianggap oleh grup Inkarulsunnah tidak masuk akal dlm benaknya. Ujung-ujungnya bermuara ke doktrin inkarsunnah yg menghendaki kebebasan tanpa batas untuk memahami dan menafsirkan wahyu alQur’an berdasarkan analisa akalnya sendiri (tanpa disiplin ilmu yang jelas). Kedua, konfrontasi terhadap Rasul dengan memasukkan dan menyebarkan ajaran yang berindikasi bid’ah (yakni perilaku ‘ibadah yang tidak ada dasar Sunnahnya); khurafat dan tahayyul ke dalam pemikiran kaum muslimin. Ketiga, sengaja mencampuradukkan peribadatan dengan tradisi dan budaya masyarakat setempat (sinkretisme). Keempat, memasukkan faham pluralisme Barat yang beranggapan ‘semua agama sama’ benarnya. Kelima, mengkultuskan Nabi beserta keluarganya secara berlebihan hingga melupakan hakikat dan tujuan misi kenabian & kerasulannya, terjebak ke dalam lumpur barbagai macam tradisi, ceremonial dan ritual yang tidak dikenal oleh Islam yg doeloe diajarkan oleh Nabi saw. Akibatnya, diyn (agama) mereka ini tak mampu lagi memberdayakan sumber-daya ummatnya utk melakukan perubahan arah hidup mereka ke jalan shirathi-lmustaqiym yang dikehendaki oleh turunnya wahyu alQur’an kepada ummat manusia – kemunduran & keterbelakangan mengepung kehidupan ummat berjalan di tempat menempuh jalan-buntu.
Disamping menghidup-hidupkan mental feodal dan tradisi jahiliyyahnya ke dalam peri kehidupan socialnya sambil mengikuti trend modernisasi beracun yang tumbuh berkembang pesat di zaman ini – yang mereka kagumi sekaligus mereka teladani dalam kehidupan kesehariannya
Begitulah kita berada di tengah mereka yang sudah berpengalaman berabad-abad menjajah, menindas dan memeras negeri-negeri yang mereka anggap under developed countries untuk dijarah sumber daya alamnya demi kelestarian hegemoni dan kolonialisme mereka di muka bumi, sekaligus lemahnya kekuatan ekonomi dan politik serta kewibawaan kaum muslimin menghadapi mereka di tengah pergaulan dunia international.
Demikianlah yang tertuang ke dalam strategi divide et empera (memecah belah dan menguasai) dengan pendanaan besar dan menghalalkan segala cara yang telah berlaku sejak zaman kolonialisme mula lahir di muka bumi. Dan inilah strategi baku kolonialisme dan kapitalisme Barat bisa dan berhasil menguasai kaum muslimin berikut sumber daya alamnya di muka bumi ketika qawm muslimiyn terpecah-belah sehingga kewibawaannya runtuh dan kekuatannya pun lumpuh menghadapi terorisme Barat dan sekutunya yang dgn seenaknya menyebarkan segala macam kebohongan dan fitnah, beserta kezhalimannya dan ketidak-adilannya di muka bumi.
اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ فَهَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا
Kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. Dan tidak akan menimnpa rencana yang jahat itu selain orang yang merencanakannya sendiri. Tidaklah yang mereka nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku sejak orang-orang) terdahulu. Maka sekali-kali tiada akan kamu dapati perubahan bagi sunnatiLlah, dan tidak (pula) akan kamu temui penyimpangan bagi sunnatiLlah itu. (Qs.35/43)

Serialnass ~ anass muhammad
Update Dzulqa’iydah 1432 H 2011

Comment :