Sebuah perjalananan sejarah sepeninggal Nabiy Muhammad saw 14 abad silam dengan berkembangnya kemudian pemahaman diynu-l’Islam yang tidak sepi dari ujian beruntun hingga kini hampir tiada hentinya menguji sejauh mana orang menyatakan dirinya beriman pastilah bakal diuji pernyataan keimanannya itu :
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan : Kami telah beriman. Dan mereka tidak diuji ? (Q.s.29/2)
Perbedaan itu sendiri adalah ujian dan cobaan bagi yg terlibat, misalnya, penyikapan mereka menghadapi beragam perbedaan pendapat dan pemahaman tentang sesuatu masalah yang menyangkut perkara agama yang memperselisihkan daliyl (landasan hukumnya). Dilihat dari kapasitas berfikir dan kandungan ilmunya serta lingkungan masing-masing fihak yang tidak sama, maka adanya perbedaan itu adalah suatu hal yang wajar. Namun jangan kemudian berkembang atau malah dikembangkan kearah kemapanan firqah (jamaah sempalan) dg anggapan, dirinyalah yang paling benar sendiri sehingga tertutup pintu ishlah untuk mawasdiri dan saling mengingatkan ke arah yang lebih benar, di samping menghindari ‘kecenderungan asal-beda’ dan menebarkan fitnah yg lebih menyuburkan perpecahan berlarut-larut hingga menciderai kriteria ummatann wasathann (ummat yang berkeseimbangan), yakni kriteria handalan ummat ini yang sudah mereka lupakan.
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (ummat Islam), ummat yang berkeseimbangan. (Q.s.2/143)
Sebuah keprihatinan besar menyaksikan terpecah-belahnya ummat ini ke dalam beragam sempalan yg masing-masing berbangga diri, ‘ujub dan konjeman, menganggap sempalannya yang benar dan paling islam sendiri’. Sementara di kalangan pengikut mereka semangkin bingung mengikuti begitu semrawutnya doktrin aliran/sektarian dan pemikirannya yang bermacam-macam saling berseberangan yang didukung oleh seragam fanatisme lokal yang berlebihan tanpa disiplin ilmu yang jelas dan baku sehingga semangkin menambah perpecahan melanda kehidupan berislam di kalangan muslimin. Dan inilah yang menyebabkan meratanya wabah ‘kemiskinan dan kebodohan’ menimpa seluruh jajaran ummat ini kecuali sedikit yang selamat (qaliylunn min ‘ibaadiya-lsyakuur Qs.34/13).
‘Kemiskinan dan kebodohan’ yang tidak mereka sadari, kalau dirinya miskin dan bodoh, bukan karena tak berharta dan bukan karena tak berilmu, melainkan stagnan dan beku, merasa diri serba cukup (istaghna), lagian pangling terhadap dirinya sendiri hingga tidak lagi mengenal pemulaian dan perubahan ke arah yang lebih baik dari hari-hari hidupnya yg mereka tinggalkan penuh beban yang harus dipertanggung-jawabkan kelak di hari-hisab di hadapan Rabb – alMaliku-ljabbar, seberapa ‘amal’ibadahnya dulu di muka bumi.

Serialnass ~ anass muhammad
Update Syawal 1432 H 2011

Comment :