Pembebasan dan Kebebasan – dua istilah yang berakar sama, samasama lahir dari perut yang lebih sering kosong ketimbang berisi macam-macam; dua bersaudara yang saling mendukung, berjuang bersama demi pembebasan dan kebebasan manusia yang terbelenggu tangan dan kakinya hanya karena lahir di desa bukan di kota, atau karena tak punya duit buat beli ilmu & pengetahuan di lembaga-lembaga pendidikan; atau mereka yang selamanya dikorbankan dan digusur tanpa imbalan dan gantirugi yang memadai. Mereka inilah yang kehilangan hak asasinya dan hak kewarganegaraannya karena dianggap apes, tak punya segala.
Olehkarena itu keduanya memerlukan penyikapan yang benar yakni, pertama adalah penyadaran bagi mereka yang merasa punya segala (istaghna), mereka yg begitu mudahnya berbuat zhalim, menempatkan sesuatu bukan di tempat yang benar atau menempatkan sesuatu di tempat yg salah utk meraih sepuasnya sesuatu yang bukan haknya. Dan kedua, adalah bimbingan bagi mereka yang teraniaya (si mazhlum) agar tidak berputus-asa dan terus memotivasi dan menyantuni mereka dalam upaya dan ikhtiyar mencari jalan keluar dengan sabar dan tawakkal, karena dari du’a merekalah, sang mustadl’afiyn (orang yang tersisih) ini, terletak turunnya farhann wa makhrajann ~ kegembiraan dan (solusi) jalan-keluar, insya Allah !
وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ
… dan jangan kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (Qs.12/87).
Dan kedua belah fihak harus diperlakukan dengan adil dan ‘arif agar masing-masing berkesempatan melakukan pemulaian perubahan yang lebih baik bagi masadepan hidupnya. Di sinilah diperlukan peran penguasa dan aparatnya yang jujur, profesional dan berwibawa. Dan diperlukan peran serta para ‘Ulama’ yang bersih kehidupan pribadi dan karir ke’ulama’annya, berani mengahadapi kezhaliman penguasanya dan tidak terlibat kolosif dalam hal kemungkaran yang berada di sekeliling hidupnya; mereka tidak terindikasi dan terlibat ayat :
كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (Qs.5/79).
Di sisi lain kita dambakan mujahidin militan yang anti sempalan (firqah) di kalangan muslimiyn, yang selalu mengupayakan penyadaran dan ishlah perdamaian diantara merteka (Qs.49/10) dengan ‘adil dan benar. Penyadaran akan perlunya peningkatan pendidikan beradab dan berakhlaq mulia dari suri teladan Nabiy-nya di tengah kesibukan hidup mereka sehari-hari agar tidak mudah terpelesat lidah dan tangannya melukai hati sesama muslim tanpa kebenaran atau pun terhadap oranglain karena merasa dirinya unggul (‘ujub) Qs.49/11. Atau merasa dirinya paling benar sendiri, sambil menebarkan fitnah dan hasutan di kalangan muslimiyn dengan mensitir hadiyts-hadiyts sampah yg mereka koleksi untuk ‘menggebyah-uyah’ dan mengumpan perdebatan-kusir tentang eksistensi Hadiyts, tanpa disiplin ilmunya yang benar.
Mereka menganggap bahwa seluruh Hadiyts adalah hasil rekayasan di seputar dua abad sepeninggal Nabi saw, dan karena itu harus ditolak demi mendukung gagasan keingkaran-sunnah berdasarkan analisis akal-akalannya yg skeptis terhadap keilmuan para Shahabat Nabi serta (memory/daya-ingat) para ‘Ulama’ Salaafu-lshaalihiyn yang tak tertandingi kepakaran mereka di zamannya berbanding dengan kemampuan fikir dan kapasitas memory orang sekarang. Namun mereka tetap menolaknya dan menggantikannya dengan ‘sunnah’ buatan, hasil analisis pemikiran dan pendapatnya sendiri yang mereka anggap paling benar.
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Qs.49/10).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ
وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekelompok orang laki-laki merendahkan kelompok yang lain, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik … (Qs.49/11).
(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabb-mu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan) kalian ketika Dia menjadikan kalian dari tanah dan ketika kalian masih janin dalam perut ibu kalian; maka janganlah kalian mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertaqwa. (Qs.53/32) :
الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
Pembebasan dari situasi alienasi – keterasingan mapan yang mengurung kehidupan qawm muslimiyn tetap menikmati kemunduran dan keterbelakangannya, hidup bergelimang ke dalam perilaku bid’ah dan khurafat serta tradisi lokal dengan segala upacara adatnya yg berbau feodal yg tidak mendidik masyarakat berbudhi luhur dan mulia selain semangkin jauh dari penerapan nilai-nilai akhlaqu-lkariymah.
Di samping ketidak-pedulian mereka terhadap kefasiqan yang melilit lehernya karena seringnya membelakangi alQur’an (Qs.47/25), dan tidak mengenal dengan benar (bahkan bersikap sinis terhadap) siyrah dan uswah keteladan Nabiy & Rasulnya sendiri – tidak mempelajarinya, dan tidak pun tahu dan mengenal perjuangan para shahabatnya yang doeloe berjuang bi-amwalihim wa anfusihim fiy sabiyliLlah, mempertarohkan harta dan diri mereka sendiri demi tegaknya diynu-lhaqq di bawah komando RasuluLlah saw hingga akhir hayatnya.
Dalam bidang politik, keengganannya berpartisipasi dan berperan-serta dlm program pembangunan bangsa, tanah & air negerinya yang sebenarnya masih jauh dari cita idealisme islami, dan pula semangkin jauh dari peran pemikir dan penentu kebijakan yang menyangkut kesejahteraan ummat dan rakyatnya.
Terwujudnya kemiskinan struktural di segenap wilayah pemikiran ummat menyebabkan ketidak-berdayaannya menghadapi arus dahsyat dari proses modernisasi beracun di tengah derapnya akselerasi pembangunan modern di segala bidang (yang merusak segenap pagar dan pematang kehidupan manusia) :
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
Dan janganlah kalian membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yg berbuat baik. (Qs.7/56).
Begitu pun buramnya pandangan keberagaman agama dengan maraknya sinkretisme terselubung dalam kemasan pluralisme (versi Orientalist) – membaur tanpa alur yang jelas, semangkin menjauhkan kesadaran beragama yang benar, selain menjadikan agama sekedar pelengkap upacara-upacara adat dan tradisi yang penuh bid’ah & khurafat, tahayyul dan ilusi yang justru mendorong perilaku kemusyrikan dan kemunafiqan.
وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ
Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu) – Qs.68/9.
مُّذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَٰلِكَ لَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَلَا إِلَىٰ هَٰؤُلَاءِ وَمَن يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَن تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا
Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk ke golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) ke golongan itu (orang-orang kafir). Dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. (Qs.4/143)
Pembebasan dari keterasingan intelektual dan kultural yang melahirkan generasi pemalas dan angkatan pemabuk yg teralienasi total hingga memunculkan harakah ekstrem yang berlebihan dari bermacam doctrin sempalan dan fikrah yang tidak islami; begitu mudahnya terjebak ilusi menang-menangan atau terhempas tewas demi taatnya tanpa reserve – pejah gesang ndèrèk sang ustadz di kalangan jamaah sempalan. Begitulah maraknya kultus pribadi terhadap sang pembimbing dan fanatisme golongan dalam gerakan sektarian, yakni jenis fanatisme beracun yang sangat dilarang oleh ajaran Islam karena hanya menyuburkan perpecahan ummat ke dalam beragam issue perbedaan ikhtilafiyyah yang penuh hasutan dan fitnah.
Alienasi yang hampir melumuri sekujur badan ummat ini, kecemburuan yang tak terkendali terhadap prestasi dan keberhasilan siapa pun di luar jamaahnya sendiri. Hal ini disebabkan oleh adanya kerak pessimisme yang telah jatuh ke lembah fatalisme yg secara diam-diam menggrayangi kerangka kerja dan persepsinya tentang sesuatu yang menimpa hidupnya sebagai ‘takdir tuhan’ yang tak bisa dihindari – sekedar dalih buat hidup bermalasan.
Betapa beratnya amanah dan tanggung-jawab moral di pundak para pejuang pembebasan dalam qurun waktu setengah abad lebih kemerdekan telah mereka jalani. Sejauh mana qawm muslimin menyadari komitmen mereka ataukah ketidak-acuannya terhadap rasa syukur yang seharusnya tertuang ke dalam perilaku pembangunan, yakni mengalihkan daya juang pembebasan dari belenggu kolonialisme yang telah usai ke wilayah pembebasan yang lebih berat – yakni, pembebasan dari kemiskinan dan kebodohan rakyat, mengangkatnya ke peringkat kehidupan yang terhormat dan bermartabat dan penghidupan yang sejahtera.
Setengah abad lebih, tepatnya enampuluh tiga tahun, hampir seumur manusia lewat begitu cepat tidak terasa kebanyakan manusia telah mensia-siakan waktu hingga kemudian (tanpa disadari) beralihnya kutub penjajahan asing ke kutub penjajahan pribumi sendiri yg jauh lebih kejam, dan begitu teganya mengakali dan membodohi rakyatnya sendiri, dirampasnya kedaulatan mereka demi kepentingan sang elit di pusat-pusat kekuasaan negara agar lebih leluasa berbuat zhalim dengan korupsi dan kolusi (persekongkelan jahat), mafia hukum & peradilan, begitu rakusnya mereka memakan barang yang haram.
Melupakan nikmat kemerdekaan yang berakibat melupakan nasib rakyatnya dan akhirnya pangling terhadap dirinya sendiri, lagi-lagi rakyat menjadi korban petualangan para pemimpinnya sendiri hingga menjerit ‘kapan ya Allah berakhirnya kemerdekaan ini’ sering terdengar lantang dari mereka yg perutnya kosong sehari-harian dan tidak pun jelas juntrung nasib masadepannya.
Begitulah tiadanya pemerataan pembagian kuih kemerdekaan di antara rakyat, mereka yang doeloe paling banyak berkorban seberapa pun dari segenap miliknya, mereka yang doeloe menghidupi para pejuang kemerdekaan dengan persediaan beras yg sangat terbatas, di samping menyediakan perlindungan-diri dari pengejaran musuh, tentara kolonial Belanda dan Jepang, namun selama ini rakyat harus menikmati pahitnya kemerdekaan di tangan para pecundang dan pengkhianat rakyat yang tidak berakhlaq – pun tak tahu berbalas budi.
Keterasingan juga berarti ketidak-wajaran alias tidak masuk akal yang waras, mengapa harus terjadi berulangkali penggusuran hunian dan lahan usaha rakyat kecil yang mandiri di pinggir-pinggir jalan bagi menyuapi mulutnya dan mengisi perut keluarganya dengan rezeki yang halal meski sedikit ? Penggusuran paksa dengan cara-cara yang tidak manusiawi, tidak pun imbalan dan ganti rugi yang memadai (ataupun sekedar santunan yg pantas) melainkan justru memancing masyarakat berperilaku anarkis untuk kemudian ditimpali kekerasan dan pelampiasan tindakan aparat. Kisah seperti ini yg bisa ditemukan di sembarang tempat di seluruh wilayah nusantara. Sajian harian yang bisa ditonton gratis bukanlah untuk menghasut atau mempertajam masalah yang sudah kelewat tajam menusuk hatinurani rakyat di negeri ini, betapa derita nestapa sepanjang sejarah kemerdekaan negerinya telah dijalani dengan penuh kesabaran tanpa rasa dendam. Namun toh yang mereka hadapi tetap tidak berhati ramah, bahkan semangkin serakah memeras rakyat, dan begitu rakusnya melahap sumber-sumber daya alam negeri ini. Di samping beragam perilaku korupsi yang tak terukur lagi hampir di segenap tempat dari pusat hingga ke seluruh daerah yang sangat-sangat menyengsarakan rakyat.
Allah, Sang mahapemelihara alam semesta, tidak bakalan membiarkan kezhaliman beruntun seperti ini sampai tiba waktunya menerima pembalasan yang setimpal.
Kalaulah yang disebut kedaulatan rakyat itu bisa dipinjam oleh para penguasa utk membentuk sebuah kekuasaan yang ternyata begitu produktif melahirkan kemapanan dan kenyamanan hidup pribadi bagi para pelakunya yang kebanyakan para pembonceng revolusi yg doeloe berpangku-tangan sebagai penonton dan bukan pejuang yang menyabung nyawa di hadapan musuhnya. Sekarang, apakah kelewat ekstrem kalau rakyat menuntut seberapa pun yang menjadi haknya untuk turut menikmati hasil kemerdekaan itu ? Namun mengapa justru selamanya menjadi sasaran penggusuran secara sewenang-wenang, mengapa rakyat yang santun penuh kesabaran dalam penderitaan ini diperas dan dipaksa bertindak anarkis – sedang di sisi lain, mengapa para oknum penguasa dan aparatnya itu dibiarkan seenaknya melanggar hukum dan peraturan yang berlaku, tanpa rasa bersalah dan bahkan selalu merasa benar dan rakyatlah salah ?
Demikianlah pembebasan adalah sebuah tema perjuangan manusia melawan segenap bentuk kezhaliman dan ketidak-adilan yang merusak dan meracuni hatinurani rakyat yang sebenarnya tidak berwatak lumuh dan beringas. Namun di balik itu semua, pembebasan adalah juga sebuah tema sentral dari sebuah kekuatan masa yang terorganisasi secara terbuka atau biasanya tersembunyi (menunggu moment yang tepat) untuk menghasung terlaksananya konsep pemikiran & strategi pembangunan melawan kemiskinan, kebodohan, dan ketidak-adilan demi terwujudnya kehidupan sejahtera yang merata; serta kebenaran dan keadilan hukum yg berlaku sama bagi semua tanpa harus membeda-bedakan pangkat atau pun kedudukan yang disandangnya. Inilah perjuangan yg berat, memerlukan keprihatinan dan kesabaran dalam menghadapi kezhaliman dan kesewenang-wenangan atau kemapanan yang berlumuran nafsu dan ambisi pribadi yg rakus, keserakahan oknum dgn bermacam wewenang yg tergenggam di tangannya utk memeras dan menindas rakyat, merupakan adegan yg biasa tampil di tengah penderitaan rakyatnya sepanjang masa kemerdekaan negeri ini, yang belum ada perubahan yang signifikan.
Akhirnya, kalimah pembebasan yang bermakna jihad bi-amwalihim wa anfusihim, insya Allah yang mampu melahirkan kesejahteraan, kemakmuran dan pemerataan kesempatan bagi terselenggaranya pendidikan yang beradab dengan segala fasilitasnya sehingga nanti terbuka perluasan lapangan kerja bagi setiap warganya, terentas dari bodoh dan miskin yang meliliti hidupnya selama ini, jika kita benar-benar sadar dan mengerti akan kesalahan kita selama ini yang dengan sengaja secara berjamaah mengkhiyanati amanah kemerdekaan dan bukan mensyukurinya. Tiada perubahan tanpa pemulaian. Dan tiada pemulaian langkah yg menjanjikan masadepan yg lebih baik selain dilandasi keikhlashan, kejujuran, dan senantiasa berdzikir-ingat akan kehadiran Allah aljabbaru-lmutakabbir di segala tempat dan waktu, maka bersujudlah kepada-Nya, dan basahi hidup kesehariamu dengan shabar dan syukur, insya Allah seberapa pun rizqi yang ada meski sedikit akan membahagiakan hidupmu karena keberkatannya, sebagai modal awwal melakukan tindakan perubahan dan perubahan menuju kehidupan berbangsa dan bernegara yang sejahtera !

Serialnass ~ anass muhammad
Update 24 Syawal 1432 H 2011.

Comment :