Pembebasan adalah tujuan strategis pendidikan Islam, ya’ni pembebasan manusia dari setiap bentuk ketertindasan-mapan dengan melepaskan belenggu ‘perbudakan’ dari segenap rupa kebodohan dan kemiskinan yang sudah begitu mapan sepanjang hidupnya. Olehkarena itu diperlukan kurikulum pedidikan yang menghasung perilaku pembangunan dunia dan manusia seutuhnya – mewujudkan kehidupan yang rahmatann li-l’alamiyn demi mendambakan prestasi keberhasilan fiy-ldunya wa-l’akhirat.
Kalimah pendidikan haruslah bermoral dan bermartabat !
Realitas yang kita hadapi sangatlah mengenaskan dengan adanya kendala yang menyumbat proses pemikiran islami ini, yaitu berlangsungnya kejumudan dan kebodohan ummatnya sendiri yang ternyata belum mengenal taktik dan strategi perjuangan Nabiynya doeloe di masa Kebangkitan dan Pembebasan Islam tahap mula. Kita samasama menyaksikan kini, kebodohan fikir dan dzikir ummat ini dengan memperlakukan kalamuLlah suci alQur’an cuma sebatas batu mulia yang butuh dikeramatkan, dan bukan lagi sebagai Petunjuk dan Tuntunan yang meliputi segenap aspek kehidupan manusia.
Dengan mempelajari fakta sejarah yang gumelar di hadapan kita maka kebangkitan qawm muslimiyn sebagai respons terhadap kemunduran dan keterbelakangan yang melanda ummat ini dari sebab-sebab external maupun yang internal. Faktor external, intervensi dan invasi militer asing dengan segala dalihnya (sejak kolonialis Barat menguasai hampir seluruh wilayah belahan Selatan yang berpenduduk mayoritas muslimiyn). Kemudian dilanjut dengan invasi Israil menduduki dan menjarah wilayah Palestina dan menjadikannya sebuah wilayah penyangga strategis kepentingan hegemoni Barat berikut Yahudinya dan sekaligus menghadang kebangkitan Islam wa-lmuslimiyn.
Dan yang lebih mengerikan, berlangsungnya globalisasi plus terrorisme terselubung yang tersembunyi di dalamnya, penuh penyebaran fitnah dan kebohongan segala macam dengan pendanaan yang besar untuk mendiskreditkan Islam wa-lmuslimiyn.
Begitu pun sebab-sebab internal yang sangat kompleks sejak apa yang disebut perpecahan hanya dianggap sekedar ‘perbedaan pemahaman-diyn’, dan bahkan dianggapnya mendatangkan rahmat. Sempitnya visi dan wawasan seperti ini karena terisolirnya system pendidikan sebatas istilah tarbiyyah dan tidak mengenal ta’dibiyyah, jauh dari keterlibatan adab dan peradaban untuk tidak menyebutnya sebagai tidak mengenal adab. Di samping terpasungnya pemikiran oleh penafsiran tradisional masa lampau yang tidak relevan (di luar ketetapan yang qath’iy, nash alQur’an & Sunnah Nabi); penyusupan bid’ah dan khurafat serta tradisi lokal yang menyesatkan – sedang alQur’an dimuliakan sebagai jimat sakral dan seremonial belaka dan bukan sebagai bayan, hudan dan maw’izhah dalam kehidupan kesehariannya sehingga qawmmuslimiyn tetap mapan ke dalam beragam kebodohan dan kefanatikan-lokal yang sok-suci, lagian merasa paling benar sendiri.
Olehkarenanya, jika kebangkitan muslimiyn adalah respons atas keterbelakangan dan kemundurannya guna persiapan perhitungan-setimpal terhadap neo kolonialisme Barat dan serangan zionist dengan segala kezhalimannya itu, maka kosekuensinya adalah: berpegang kembali pada alQur’an & Sunnah Nabi, yakni seberapa mampu mewujudkan kehidupan islami sepanjang tuntunan & petunjuk wahyu alQur’an dan teladan Nabiy seutuhnya dalam kehidupan kita sehari-hari tanpa tercampuri (terkontaminasi) oleh ide dan doktrin modernisasi sekuler, maka Itulah prioritas utama yang tidak bisa dilampaui untuk mewujudkan pemulaian perubahan pola hidupnya menuju kehidupan yang bersih dari unsur zhulm (syirk) dan zhalim.
Dan insya Allah dari sinilah nanti bermula sebuah kebangkitan qawm muslimiyn kembali ke peringkat unggulan di muka bumi :
هَٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةٌ لِّلْمُتَّقِينَ
(alQur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Janganlah kalian bersikap lemah, dan janganlah (pula) kalian bersedih hati, padahal kalianlah orang yang paling unggul jika kalian orang-orang beriman (mu’miniyn). (Qs.3/138 – 139).
Ialah, mempelajari dengan seksama akan perilaku islam sejarah ummat ini sejak sepeninggal Nabiynya , dan beralihnya estafet pengembangan da’wah ke tangan para pewarisnya, kemudian beruntun lewat pasang-surutnya nasib yang semula suatu kesatuan yg utuh dan patuh – kemudian terpecah-belah ke dalam perbedaan/ikhtilafiyah yg mendambakan kerahmatan itu, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang beriman – sabiyli-lmu’miniyn (Qs.4/115), karena sebelumnya telah terbiasa membelakangi petunjuk & tuntunan wahyu alQur’an (Qs.47/25) dan tak pula mengenal dengan baik teladan Sunnah Nabi-Nya, selain mengikuti alur modernisasi beracun Barat yang menjadi trend dan panutan global di zaman ini.
Demikianlah sejauh mana kesadaran dan tingkat pemahaman ummat ini terutama para pakarnya perihal makna pendidikan yang tersirat pada ayat rahmatann li-l’alamiyn yang meliputi segenap aspek kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya manusia – yakni meliputi aspek kehidupan manusia seutuhnya.
Sebaliknya, seberapa jauh sesatnya dari penyimpangan faham yang dianut oleh kebanyakan pakar muslim yang turut mengurung rahmatgann li-l’alamiyn di bawah tenda-tenda buatan para penguasa zhalim yang khawatir akan kemapanannya terancam sehingga mau berbagi hasil – melepas sedikit fasilitas buat menyuapi mulut para ahli yang tidak tahu dirinya tahu dan mengerti itu dengan jebakan ‘wadduu law tud-hinu fayud-hinuun’ ~ mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak, lalu mereka pun bersikap lunak :
وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ
Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu) – Qs.68/9.
Begitulah pendidikan yang sering disalah-terapkan demi kepentingan sesaat pelakunya, sehingga pendidikan tidak lagi bersifat mendidik dan mencerdaskan, melainkan justru membodohi manusia seenaknya. Apalagi kalian menyaksikan sendiri betapa lembaga-lembaga pendidikan kini telah menjadikan dirinya sebagai sebuah pasar yang memperjual-belikan ilmu-pengetahuan di tengah masyarakatnya yang sedang menderita kemiskinan dan kebodohan. Inilah sebuah tontonan yang mengenaskan sepanjang perjalanan sejarah kemerdekaan bangsa ini hampir setengah abad lebih lewat tanpa perubahan yang signifikan, bahkan semangkin jauh dari cita-cita kemerdekaan itu sendiri, karena kurang jelasnya konsep pembangunan manusia seutuhnya yang tidak memihak kepada kepentingan pendidikan rakyat/masyarakat yang tidak mampu. Yakni, kemerdekaan yg ternyata tidak mampu membebaskan rakyat dan masyarakat dari belenggu kemiskinan dan kemelaratan di tengah sumber daya alam negerinya yang melimpah, jauh dari kesejahteraan dan kemakmuran yang seharusnya menjadi haknya.

Serialnass ~ anass muhammad
Update Syawal 1432 H 2011

Comment :