Islam tidak bisa dipandang hanya sebagai sekumpulan ritual keagamaan saja, tetapi adalah sebuah sistem yang sempurna meliputi segenap aspek kehidpan manusia, teratur dan bermartabat yang bakal melahirkan sebuah peradaban unggul, yang dikenal oleh sejarah sebagai Peradaban Islam
Substansi terpenting, wujudnya peradaban adalah berkembangnya ilmupengetahuan di segala bidang yang bermanfaat bagi manusia dan lingkungannya. Dan pertumbuhan serta pengembangannya membutuhkan tampilnya komunitas yang proaktif, melibatkan seluruh lapisan masyarakatnya. Dan cikal bakal konsep ilmu pengetahuan dalam Islam adalah konsep-konsep kunci yang berada di bawah petunjuk & panduan wahyu yang turun dari Allah Yang maha’aliym atas segala sesuatu di seluruh alam semesta ini, dan kemudian ditafsirkan dan diimplementasikan ke dalam berbagai bidang kehidupan dan akhirnya berakumulasi dalam bentuk peradaban yang kukuh dan utuh.
Sementara rapuhnya sebuah peradaban, kemudian runtuh disebabkan semula dari luruh dan rusaknya sumber daya manusianya secara moral, mental, intelektual dan emosional – beruntun saling berinteraksi hingga merosotnya moralitas dan mental penguasa yang diikuti oleh menurunnya kegiatan keilmuan dan lemahnya kepedulian masyarakat terhadap ilmu yang bermanfaat.
Dan stagnannya kegiatan keilmuan ini yang menyebabkan meratanya kebodohan dan kemiskinan yang cenderung berperilaku tidak saling mencegah kemungkaran yang terjadi di tengah elit penguasa dan diikuti oleh aparatnya, cepat atau lambat bakal berujung akhir ke lembah kebinasaan dari sebuah peradaban yang tidak beradab.
Olehkarena itu, maka membangun kembali peradaban Islam haruslah dimulai dari pengembangan ilmu pengetahuan Islam tentang ‘aqidah kepercayaan dan keyakinan hidup, dan disusul oleh keteladanan perilaku bagi orang seorang dan masyarakatnya, agar supaya mampu memberi respon terhadap situasi dan tantangan kebangkitan ataukah keruntuhan yang sedang dihadapinya. Di sinilah berlaku proses perubahan masyarakat yg sangat ditentukan oleh idealism pemikiran para intelektualnya yang memiliki n-achievement unggulan, dan tidak berkhiyanat terhadap ilmunya (yakni, tidak menyerahkan tangan dan kakinya untuk diikat oleh Penguasanya), mereka bersikap mandiri dan benar-benar mendharma-baktikan hidupnya bagi kepentingan kesejahteraan dirinya, keluarga, dan masyarakatnya, yang sudah barang tentu memerlukan keikhlashan demi pengabdian dan ‘ibadahnya kepada Allah subhanahu wa ta’aalaa.
Dan olehkarenanyalah, maka membangun kembali peradaban Islam tidak dapat dilakukan secara angsuran seenaknya melalui satu dua bidang kehidupan, melainkan merupakan proses bersinergi (operasi gabungan), simultan dan konsisten antara penguasa, aparat dan masyarakatnya dalam melaksanakan program-program pembangunan yang bermanfaat, serta berlakunya amar kema’rufan dan cegah kemunkaran di antara mereka, baik sendiri maupun secara berjamaah.
Maka proyek ini perlu disadari dan didukung bersama sebagai sesuatu yang wajib (fardhu ‘ain) dilaksanakan secara utuh dan menyeluruh, berkesinambungan meski secara bertahap, asal istiqamah, dan merupakan tanggung-jawab yang perlu dibebankan kepada seluruh anggauta masyarakat muslim sesuai dengan tempat dan tingkatan masing-masing. Itulah yang disebut runtun keimanan dan keteladanan hidup manusia yg dulu bermula dari bibit seorang muslim yang unggul, tumbuh berkembang ke tengah lingkungan qawmnya hingga menyebar ke wilayah luas di muka bumi, menebarkan rahmatann li-l’alamiyn, rahmat kasih-sayang dan kesejahteraan bagi semesta alam.
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَىٰ شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَىٰ سَبِيلًا
Katakanlah: Setiap orang berbuat menurut syaakilahnya masing-masing. Maka Rabb-mu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (Qs.17/84)
قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ
Katakanlah: Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan tempatmu, sesungguhnya aku pun bekerja (pula), maka kelak kalian akan mengetahui. (Qs.39/39).
Beberapa langkah strategis utk membangkitkan kembali kejayaan peradaban Islam ialah :
Pertama, memahami sejarah jatuh bangunnya peradaban Islam di masa lalu.
Kedua, memahami kondisi umat Islam masa kini dan menginventarisasi masalah atau problematika yang sedang dihadapi ummat, terutama bertalian dengan suburnya perpecahan jama’ah yang terkontaminasi oleh doktrin ‘pejah gesang ndèrèk sang ustadz’ pembimbingnya. Dan ketiga adalah memahami kembali konsep-konsep baku dalam Islam yang sudah terhimpun di dalam khazanah ilmu pengetahuan para ‘Ulama’ salaafu-lshaalihiyn maupun ‘Ulama’ di zaman ini yang berpegang teguh pada petunjuk wahyu alQur’an dan Sunnah Nabi-nya, murni tak tercampuri ajaran bid’ah dan khurafat; dan tidak terlibat komoditas sempalan jamaah yang memperjual-belikan kepentingan sektarian (firqah), maupun kedekatannya dengan Penguasa.
Kebangkitan Islam adalah, membangkitkan tradisi keilmuan Islam dengan menggali konsep-konsep penting khazanah ilmupengetahuan Islam dengan mempelajari dan memahami, mengembangkan dan menyebarkannya ke tengah masyarakat secara luas agar dimiliki oleh kaum terpelajarnya yang secara sosial berperan sebagai agen perubahan dan yang secara individual sebagai decision maker. Hal ini juga dimaksudkan agar dengan bekal keilmuan Islam, akan dapat ‘mengadopsi’ dengan kritis konsep-konsep asing yg tidak bertentangan dengan pandangan hidup Islam, sekaligus menolak dengan sadar ide-ide asing yang tidak diperlukan yang diperkirakan bakal meracuni pemikiran ummat.
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Dan hamba-hamba alRahman (Allah) yang mahapemurah itu (ialah) orang-orang yang berjalan di muka bumi dengan rendah-hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka (sambut dengan) mengucapkan (kata-kata yang mengandung) keselamatan. (Qs.25/63)
Karena konsep-konsep pemikiran dari peradaban asing yang diterapkan ke dalam pemikiran Islam secara tidak kritis (karena kebodohan, atau memang karena adanya perjanjian bilateral tersembunyi antara asing dengan pribumi-liberal) maka akibatnya konsep-konsep pemikiran asing itu akan menjadi dominan dengan segala kebebasannya, bakal menghancurkan peradaban Islam dari dalam lewat beragam cara dan kegiatan terselubung yang diperankan oleh tokoh-tokoh munafiqiyn di kalangan muslimin.
Dan betapa ironisnya, adopsi konsep-konsep secular Barat ke dalam pemikiran Islam telah mengakibatkan kebingungan (confusion) dan kerancuan pemikiran dan pemahaman generasi muda muslim yang terdidik di lembaga-lembaga pendidikan formal (secular) terhadap : apa sebenarnya Islam itu bagi mereka.
Dan jika aktivitas pembaruan keagamaan mengadopsi konsep-konsep Barat seperti itu, maka itulah proses westernisasi (pem-Barat-an) yang disusupkan ke dalam agar terjadi perapuhan internal atas pemikiran generasi muda ummat ini yang hidup di zaman yang berbeda jauh dari kehidupan generasi-generasi masa silamnya – lagi jauh dari kemurnian ajarannya.
Dan di sinilah para orientalisten Barat berkiprah menfitnah dengan bermacam dusta dan kebohongan yang ditujukan kepada pribadi Nabi saw; melemparkan gagasan busuk untuk memisahkan Sunnah Nabi dari al-Qur’an; di samping mempersoalkan otoritas tafsir unggulan para ‘Ulama’ salaafu-lshaalihiyn, yang dikagumi orientalist Barat sekaligus dibencinya itu; begitu pun terutama terhadap eksistensi Syari’at Islam. Disamping isu pengingkaran hak-hak perempuan dan isu perbudakan, belum lagi HAM yg mereka patenkan sebagai milik pribadi Barat untuk menindas seenaknya hak asasi bangsa-bangsa under developed countries yang dianggap tidak mematuhi perintahnya.
Kaum Muslimin wajib menguasai bidang sains dan teknologi yang berkembang pesat di Barat sebatas hidup berdampingan yang saling menguntungkan. Tetapi, bukan mengadopsi pandangan hidup Barat yang bersifat sekularistis, liberalistis, hedonistis dan dijadikan sebagai ‘worldview’ – memandang Islam dengan anggapan kaum muslimin akan maju jika konsep-konsep Islam disubordinasikan ke dalam pola berpikir Barat – adalah pemikiran yang keblinger alias mau menerima neo kolonialisme Barat tanpa syarat.
Tradisi pemikiran dalam Islam adalah cermin dari pandangan hidup Islam (worldview) yang dinamis, teratur dan rasional yang dipancarkan oleh konsep wahyu alQur’an sebagai diynu-lhaqq/agama yang benar.
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan alhudaa (petunjuk alQur’an) dan diyn yang haqq agar dimenangkan-Nya atas segala agama, meski orang-orang musyrik membenci(nya) – Qs.9/33).
Secara teori, pandangan hidup ini lahir dari adanya konsep ilmu pengetahuan dan pengembangannya yang dibentuk dari sistem metafisika Islam yang terutamanya meliputi pengertian tentang kebenaran yang haqq dan realitas yang mutlaq – Ilahukum Ilahunn waahiyd !
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Ilah kalian itu adalah Ilah Yang Esa. Maka barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabb-nya maka hendaklah ber‘amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Rabb-nya. (Qs.18/110)
Dalam perspektif pandangan hidup inilah dapat diketahui apakah suatu pemahaman atau penafsiran tentang Islam yang berupa ilmu pengetahuan, filsafat, sains dan lainnya itu benar-benar sesuai dengan Islam dan sejalan dengan pernyataan dan kesimpulan umum, Kebenaran yang Diwahyukan – alQur’anu-lkariym dan Sunnatu-lrasul ?
Dan Jika terdapat penafsiran atau pemahaman yang menyimpang maka perlu dikoreksi dan diteliti ulang, yang dalam tradisi pemikiran Islam, aktifitas koreksi ulang ini berarti tajdiyd atau pembaharuan, dan senantiasa berorientasi pada pemurnian (refinement) yang sifatnya kembali ke ajaran semula diturunkan, yakni wahyu alQur’an dan Sunnah Nabi-Nya dan bukannya mengadopsi pemikiran asing yang bersumber dari pemikiran musyrikiyn, kafiriyn dan para pakar munafiqiyn.
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang beriman (mu’miniyn), Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (Qs.4/115)
Kembali kepada ajaran-mula, bukan berarti kembali ke corak fisiknya saja dari kehidupan qawm muslimiyn di zaman Nabi, sehingga mudah terjebak ke dalam banyaknya ‘informasi katanya dan katanya’ yang tidak akurat dan tidak bisa dipertanggung-jawabkan validitasnya, jauh dari kemurnian dan keutuhan konsep yang dulu diajarkan dan diteladankan oleh RasuluLlah saw.
Tajdiyd berimplikasi membebaskan, yakni membebaskan manusia dari belenggu tradisi magis, mitologis dan animistis serta kultur chauvinis atau tradisi-tradisi jahiliyyah lainnya, semisal takliyd (keyakinan dan kepercayaan pada suatu paham/pendapat ahli hukum tanpa mengetahui argumentasi keabsahan daliylnya, sehingga (tanpa disadari) bergelimang ke dalam ajaran bid’ah dan khurafat yang jelas-jelas bertentangan dengan kemurnian ajaran Islam.
Pembebasan manusia dari pengaruh pemikiran sekuler dan bahasanya, dan terhadap dorongan fisiknya yg cenderung ria’ di hadapan manusia dan tidak adil terhadap fitrah kemanusiaannya, menuju pengabdian murni kepada Sang mahapencipta dan pemelihara ‘alam semesta. Dan inilah yang dimaksud dengan : tahriyru-lnaas min ‘ibadati-l’ibad ilaa ‘ibaadatiLlah ~ membebaskan manusia dari memperhambakan diri kepada sesamanya menuju penghambaan diri, ber’ibadah kepada Allah semata, dan tiada lain kecuali demikian !

Serialnass ~ anass muhammad
Update 25 Syawal 1432 H 2011

Comment :