Pandangan terhadap pendidikan di kalangan ilmuwan kebanyakan di masa kini ialah, pendidikan dianggap sebagai kelewat intelektualistis atau terlalu job-oriented (berorientasi kerja). Sementara ‘pendidikan diyn’ (agama Islam) dituduh kelewat spiritualistis sehingga tampak irrasional. Anggapan semacam itu jelas lahir dari pola fikir yang menunduk ke Barat yg kelewat rasional, sarat dengan akal-akalan dan rekayasan sesuai dengan misinya untuk mengeliminir pendidikan dari wilayah da’wah global, yakni keluar dari misi rahmatann li-l’alamiyn, keluar dari prinsip baku diynu-l’islam yang meletakkan unsur ta’dibiyyah atau sering orang menyebutnya sebatas tarbiyyah, ringkasnya pendidikan sebagai kausal prima diturunkannya diyn (agama) ini untuk memperbaiki akhlaq manusia di tengah pembangunan manusia seutuhnya.
Itulah sebuah keprihatinan besar dalam kehidupan seorang muslim – yang jauh berbeda dari pola pemikiran secular yang memandang hidup manusia cuma sebatas kepentingan perut dan sekitarnya yang tersirat dari ayat : wa ma hadzihi-lhayatu-ldunya illaa lahwunn wa la’ibunn ~ dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan lelahanan dan dolanan :
وَمَا هَٰذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.(Qs.29/64).
Pendidikan Islam, sepanjang petunjuk dan tuntunan wahyu adalah meliputi seluruh aspek kehidupan insani, lahir & batin, spiritual, intelektual & emosional. Dan liputannya tidak melulu spiritualistis dan tidak pula terlalu intelektualistis atau pragmatis dan praktis hingga kehilangan essensinya, melainkan berimbang dan adil sesuai dengan tujuan pengabdian dan penghambaan manusia kepada Dzat Yang Esa, Sang mahapencipta & pemelihara alam semesta.
Pendidikan dalam Islam berkaitan dengan soal ilmu, dan ilmu dalam Islam berdimensi iman dan amal. Oleh sebab itu pendidikan Islam mewajibkan pemahaman yang benar tentang kedudukan iman, ilmu dan amal tersebut dalam jiwa manusia; dan bagaimana pula menanamkannya dengan system yang tidak saling bertentangan bagi pengembangan anak-anak manusia di berbagai aspek lahir dan kejiwaannya ke dalam sebuah system pendidikan yang terpadu dan utuh.
Hal ini perlu dipikirkan bersama secara serius dan berkesinambungan dengan seksama dari sumber-sumber pendidikan yang terbaik, ialah apa yang terkandung dalam wahyu alQur’an dan apa yang diteladankan oleh uswah hasanah Nabi Muhammad saw secara terpadu sebagai panutan baku pendidikan dalam membimbing manusia ke jalan shirathin mustaqiym – jalan lurus menuju keridlaan Ilahy, keselamatan fi-ldunya wa-l’akhirat dengan terwujudnya hayatann thayyibah, kehidupan yang bahagia.
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً
وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan bahagia dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Qs.16/97)
Dari alur pemikiran ini, kita akan mengetahui dan menyadari betapa keterpurukan dan keterbelakangan qawm muslimiyn itu disebabkan oleh perilakunya sendiri, mereka telah membelakangi dan meninggalkan alQur’an (Q.s.47/25) dan lagian bersikap konfrontatif terhadap Rasul, dan dengan sengaja menggantinya dengan jalan (system) lain (wa yattabi’ ghayra sabiyli-lmu’miniyn – Qs.4/115).
إِنَّ الَّذِينَ ارْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْهُدَى الشَّيْطَانُ سَوَّلَ لَهُمْ وَأَمْلَىٰ لَهُمْ
Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka. (Q.s.47/25)
Dan kaum muslimin semua menyaksikan betapa dampaknya yang sangat memprihatinkan meliputi kegagalan yang beruntun kita alami di segala bidang kehidupan orang seorang, bermasyarakat dan bernegara dari sebab meratanya kebodohan dan kemalasan karena tidak mengenal adab dan tak pula mempelajari dustur akhlaq fiy-lQur’an, dan hanya menghandalkan kwantitas jumlah mayoritas penduduknya beragama islam sambil memaksakan diri menempuh jalan buntu dan berjalan di tempat tanpa perubahan perbaikan yang signifikan, bahkan tidak pun tahu kalau dirinya bodoh dan malas hingga tidak mengenal adab & akhlaq.
وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ
وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (Qs.4/115)
Dan inilah fakta yang gumelar sekarang dari sebuah keprihatinan besar yang bila tidak direnungkan dan difikirkan bersama dengan qalbu yang jernih dan pemikiran yang cerdas, maka kita tidak bakalan mampu membayangkan apa yang akan terjadi tentang kebinasaan suatu bangsa (Qs.35/44) oleh ulah tangannya sendiri yang tidak mereka sadari.
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَكَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِن شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا
Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka ? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah mahamengetahui lagi mahakuasa. (Qs.35/44)

~ Serialnass ~ anass muhammad
Update Syawal 1432 H 2011

Comment :