Peradaban Islam adalah peradaban ilmu yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dalam pembangunan masyarakatnya. Islam menjadikan aktivitas mencari ilmu sebagai suatu ‘ibadah wajib bagi setiap individu. Pendidikan adalah bagian integral dari peradaban karena peradaban itu sendiri adalah sarat dengan pendidikan. Nilai ideal pendidikan Islam bersifat transenden dan integral, menyeluruh meliputi segenap aspek kehidupan lahir maupun bathin, dunia dan akhirat, artinya tidak memilahkan alam fisik dengan alam metafisik.
Namun kemudian, pemisahannya (tidak dalam teori, tetapi dalam praktek hidupnya) terjadi akibat beberapa faktor, eksternal : pengaruh peradaban asing (Barat) yang sangat dominan; dan faktor internal : sikapnya yg membelakangi alQur’an (Qs.47/25) dan menyalah-pahami atau malahan bersikap konfrontatif dg mengingkari Sunnah Nabinya (Qs.4/115) yg dilakukan oleh sebagian kaum muslimin sehingga menambah jumlah sempalan (firqah), yakni menambah suburnya perpecahan.
Peradaban Barat sekular (laa diyniyyah), bebas dan tidak mengenal adab & akhlaq telah berhasil sukses menyebarkan world viewnya lewat ilmu pengetahuan, baik sains maupun humaniora ke seluruh wilayah dunia sehingga kebangkitan sains Barat dianggap telah menggantikan agama mereka yg membingungkan, dan yang sudah lama mereka tinggalkan.
Kebangkitan sains di Barat juga telah menggantikan spiritual (jiwa) manusia dengan ratio (akal)nya. Tubuh manusia dianggap tiada lebih dari sebuah robot mesin yang diatur dan bekerja dengan prinsip-prinsip hukum matematika.
Namun faktanya, kebangkitan semacam itu bukan lagi pantas disebut sebagai sebuah kebangkitan karena ternyata lebih cenderung melakukan pembusukan terhadap jati dirinya sebagai manusia yang semula diciptakan Allah ke dalam wujud yang sebaik-baiknya ~ laqad khalaqna-l’insana fiy ahsani taqwiym – berubah menjadi perwujudan manusia yang tidak seutuhnya baik jati-dirinya maupun tujuan hidupnya ~ Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya ~ tsumma radadnaahu asfala saafiliyn
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.
ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ
Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. (Qs.95/4,5,6)
Sementara apa yang disebut keberhasilan Barat, kini disusul oleh jeritan para ilmuwannya yang mengungkap kegelisahannya akan fakta yang mereka hadapi, betapa para ahli dalam berbagai bidang itu tidak mampu menyelesaikan problematika hidupnya yang muncul dalam bidang keahlian mereka sendiri.
Para ekonom, sebagai misal, tidak mampu lagi memahami dan mengatasi krisis ekonomi global, depresi dan inflasi yang melanda dunia meski rancangan globalisasi berada di tangannya yang mendukung kepentingannya.
Para politisi yang tidak memiliki wisdom (kearifan), integritas (kejujuran dan ketulusan hati) sebagai wakil rakyat, mereka kebanyakan hanya pandai mempolitisir, mencundangi dan membohongi rakyat, melanggar amanat dan janjinya kepada pemilihnya. Begitu piawainya mereka memainkan gendang demokrasi dan dendang kebebasan seenaknya untuk mendudukung (memaksakan) ide dan gagasannya sendiri.
Para medis bingung tentang penyebab kanker dan gagal memberantas HIV dan narkoba, dan tidak mampu lagi membendung penyebarannya karena telah membudaya dan merata ke seluruh wilayah dunia.
Polisi, semangkin tidak berdaya menghadapi tingginya tingkat kriminalitas ditengah kemodernan hidup masyarakatnya, di samping kebanyakan oknumnya sendiri terlibat mafia hukum & peradilan sesat.
Pandangan ganda dan dualistik yang sarat kemunafiqan dalam berbagai macam issue politik yang bertalian dengan keadilan dan kemanusiaan, namun tetap berkoar memasarkan HAM produk andalannya sebagai dalih untuk menutupi kezhalimannya. Sedang demokrasi telah menjual keterbukaan dan kebebasan dengan harga murahan hingga kehilangan makna yg positif. Begitulah berdemokrasi yg mereka banggakan ternyata membuka peluang bebas berlaku rancu dan curang, hanya sekedar siasat para elitnya berkelit dari perbuatan zhalim dan aniaya, seenaknya memeras dan menindas sang alit atau siapa pun yang mereka anggap lawan, mupung ada kesempatan, demi kepentingan dan kemapanannya sendiri.
كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَن مُّنكَرٍ فَعَلُوهُ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (Qs.5/79).
Itulah sebuah kelalaian yg tidak mereka sadari bakal menghancurkan seluruh sukses keberhasilan dunia mereka :
وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا
Dan Kami hadapi segala (keberhasilan) amal(pembangunan) yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan (Qs.25/23).
Begitulah, sebagian besar akademisi menganut persepsi-persepsi realitas yang bermasalah besar yang merupakan masalah sistemik, artinya, persoalan tersebut saling bergantung dan saling berkaitan namun mereka pura-pura tidak tahu atau (sebenarnya) tidak mau tahu akan keberadaan sunnatuLlah ~ dengan hukum sebab-akibatnya yang berlaku tetap (permanent) di seluruh alam semesta ini
فَهَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ فَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا وَلَن تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا
Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah Allah yang telah berlaku kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat perubahan bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. (Qs.35/43).

Serialnass ~ anass muhammad
Update 24 Syawal 1432 H 2011.

Comment :