Perbedaan pemikiran perihal pemahaman diyn(agama) yang sama-sama berpegang kepada wahyu alQur’an, hendaklah dilandasi keikhlashan dan keshabaran berhujjah, atau bermujadalah : ud’u ila sabiyli Rabbika bi-lhikmati wa-lmaw’izhati-lhasanati wa jadilhum billatiy hiya ahsan ~
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah ke jalan Rabb-mu dengan hikmah dan nasihat yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (Qs.16/125).
Berdebat atau berbincang pemikiran dengan cara yg lebih baik agar ada kesempatan bagi semua fihak utk saling mawas diri, mengingatkan pada yang ma’ruf dan menghindari yg munkar. Di samping kesediaan semua fihak mengambil kelebihan ‘ilmu dari siapa pun yang dihadapinya dengan segala kerendahan hati :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik ta’wiylnya. (Qs.4/59).
Inilah sebuah solusi yang jelas dalam menyikapi timbulnya silang pendapat tentang sesuatu agar berpeganglah kembali pada alQur’an dan Sunnatu-lrasul seutuhnya, supaya kalian terhindar dari silang sengkarut (berlarut-larut), jauh dari ishlah selain menambah masalah yang ujung-ujungnya melahirkan pecah-belah di kalangan muslimin yang kebanyakan didorong oleh ‘kecenderungan asal beda pendapat’ karena ‘ujub (berbangga-diri) menganggap dirinya yang paling benar sendiri.
Dan inilah asbab tumbuh berkembangnya jamur sektarian beracun yang sangat berbahaya, merusak dengan mudahnya kehidupan berjamaah ummat ini berkeping-keping saling tuding di antara mereka sepanjang sejarah yang menyebabkan kemunduran dan keterbelakangan hidupnya di tengah pergaulan bangsa-bangsa di dunia yang didominasi Barat dengan segala kezhaliman dan ketidak-adilannya. Olehkarena itu berhati-hatilah, janganlah karena fanatisme golongan dengan segala kepentingannya, maka pencerdasan pemikiran lewat perbedaan-perbedaan semacam itu berubah menjadi ajang plintiran lisan terhadap kebenaran, serta pembodohan thd pemikirannya sendiri dan malahan merasa dalam keberkatan di tengah kemunduran dan keterbelakangan hidupnya sepanjang sejarah.
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyu’ hati mereka berdzikir mengingat Allah dan kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras (membatu). Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasiq. (Qs.57/16)
Semoga kita mengerti kekeliruan dan kesalahan kita menikmati perpecahan antar jamaah sebagai sebuah keberkatan ini, mau meninggalkannya dan melakukan perubahan ~ insya Allah bi hawliLlahi wa quwwatiH.

Serialnass ~ anass muhammad
Update Syawal 1432 H 2011

Comment :